Wall Street Ambles, Dow Jones Tergerus dan Catat Penurunan Terpanjang dalam 46 Tahun
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS terpuruk pada Selasa waktu AS atau Rabu (18/12/2024) pagi WIB. Ketiga indeks utama melemah, Dow Jones anjlok lebih dari 250 poin.
Baca Juga
Wall Street Kembali Bangkit, Nasdaq Cetak Rekor Baru, tapi Dow Jones Masih Terpuruk
Dow Jones Industrial Average mencatat sejarah dengan penurunan beruntun selama sembilan hari, pertama kalinya sejak 1978. Indeks yang terdiri dari 30 saham utama ini turun 267,58 poin, atau 0,61%, menjadi 43.449,90. S&P 500 kehilangan 0,39% dan ditutup pada 6.050,61, sementara Nasdaq Composite turun 0,32% menjadi 20.109,06.
Tren penurunan Dow dimulai sehari setelah indeks tersebut untuk pertama kalinya ditutup di atas level 45.000 awal bulan ini.
Anomali pada Dow ini terjadi ketika pasar yang lebih luas justru berkinerja baik. S&P 500 mencapai rekor tertinggi pada 6 Desember dan saat ini hanya kurang dari 1% dari level tersebut. Nasdaq juga mencetak rekor pada Senin.
Penurunan Dow dipicu oleh peralihan investasi menuju saham teknologi dan keluar dari saham-saham ekonomi lama yang sempat melonjak pada November setelah terpilihnya kembali Donald Trump. Saham-saham tersebut mendominasi Dow, bukan sektor teknologi.
Namun, yang aneh adalah Nvidia, anggota baru sektor teknologi di Dow yang bergabung pada November, juga mengalami kesulitan meskipun sektor teknologi mencatatkan kenaikan baru-baru ini. Nvidia masuk ke wilayah koreksi pada Senin.
Tesla kembali menguat pada Selasa, sementara Broadcom turun 5%.
“Wall Street mulai menyadari bahwa kepresidenan Trump mungkin tidak sebaik yang diharapkan untuk saham,” kata David Russell, kepala strategi pasar global di TradeStation, seperti dikutip CNBC. Saham keuangan dan industri melonjak setelah kemenangan Trump, tetapi kini mungkin harus menghadapi suku bunga yang lebih tinggi dan ketidakpastian perdagangan, sementara sektor kesehatan menghadapi risiko politik terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagian kekhawatiran yang mendorong aksi ambil untung pada saham non-teknologi terkait dengan keputusan suku bunga Federal Reserve yang akan datang pada Rabu. Berdasarkan alat Fed Watch dari CME Group, para trader memperkirakan peluang sebesar 95% untuk pemangkasan suku bunga sebesar seperempat poin. Namun, ada kekhawatiran di kalangan investor dan ekonom bahwa bank sentral mungkin membuat kesalahan yang berisiko memicu gelembung pasar saham atau menambah inflasi.
Baca Juga
Pasar Perkirakan Suku Bunga Turun 25 Bps, Powell : The Fed Masih Berhati-hati
“Para pemburu keuntungan dari Magnificent 7 melakukan sprint terakhir menuju akhir tahun 2024 sejauh ini di bulan Desember, meninggalkan saham-saham S&P 500 lainnya di pinggir lapangan dan mendorong Dow ke tepi,” kata Jeff Kilburg, CEO KKM Financial.
Data penjualan ritel bulan November yang dirilis Selasa lebih baik dari ekspektasi ekonom, menambah kekhawatiran bahwa langkah yang diambil The Fed mungkin tidak diperlukan.

