Ekspor Melambat, Inflasi Korea Selatan Melonjak pada November
SOUL, investortrust.id - Tingkat inflasi Korea Selatan (Korsel) naik menjadi 1,5% secara tahunan pada November, naik dari level terendah dalam 45 bulan pada Oktober. Korsel menghadapi pelemahan mata uang won Korea dan perlambatan ekspor.
Baca Juga
Korut Dituduh Acak Sinyal GPS Korea Selatan, Operasi Sejumlah Kapal Terganggu
Angka inflasi ini lebih tinggi dibandingkan inflasi Oktober sebesar 1,3%, namun di bawah perkiraan 1,7% oleh para ekonom dalam survei Reuters.
Pada Kamis lalu, Bank of Korea (BOK) secara tak terduga memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3%. Ini adalah pertama kalinya BOK melakukan dua kali pemangkasan berturut-turut sejak 2009.
BOK menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil untuk “mengurangi risiko penurunan ekonomi.” Korea Selatan berhasil menghindari resesi teknis pada kuartal ketiga, dengan PDB tumbuh 0,1% secara kuartalan, menurut estimasi awal bank tersebut, setelah kontraksi 0,2% pada kuartal kedua.
Prospek Inflasi
Dalam pernyataannya, BOK menyebut harga telah stabil dan diperkirakan tetap stabil akibat penurunan harga minyak global serta tekanan permintaan yang rendah.
Bank sentral ini juga menurunkan proyeksi inflasi utama untuk 2024 dan 2025 menjadi masing-masing 2,3% dan 1,9%, dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,5% dan 2,1%.
“Perjalanan inflasi ke depan kemungkinan akan dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar, harga minyak global, pertumbuhan ekonomi domestik dan internasional, serta penyesuaian tarif utilitas publik,” tambah BOK, dikutip dari CNBC, Selasa (3/12/2024) .
Mata uang Korea Selatan melemah terhadap dolar AS selama Oktober dan November, mencapai level tertinggi dalam dua tahun di 1.411,31 won. Hal ini didorong oleh kekhawatiran tarif dari pemerintahan Trump yang akan datang.
Data dari platform World Integrated Trade Solution (WITS) yang didirikan oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa AS adalah mitra dagang terbesar kedua bagi Korea Selatan.

