AS Dorong Gencatan Senjata di Gaza, Harga Minyak Anjlok Hampir 3%
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak jatuh hampir 3% di tengah upaya AS untuk mendorong gencatan senjata di Gaza. Minyak mentah berjangka AS pada hari Senin (19/8/2024) menjadi ditutup di bawah $75 per barel. Kekhawatiran tentang melemahnya permintaan telah membebani pasar.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berada di Israel dan memperingatkan bahwa ini mungkin merupakan “kesempatan terakhir” untuk mencapai kesepakatan mengakhiri pertempuran dan membebaskan sandera yang ditahan oleh Hamas.
Baca Juga
Korban Gaza Terus Bertambah, Blinken Bertolak ke Timteng Desak Gencatan Senjata
Pembicaraan gencatan senjata dijadwalkan berlanjut di Kairo, Mesir.
Berikut harga energi penutupan hari Senin:
• Kontrak West Texas Intermediate September: $74,37 per barel, turun $2,28, atau 2,97%. Minyak AS telah naik 3,8% ytd (year to date).
• Kontrak Brent Oktober: $77,66 per bare turun $2,02, atau 2,54%. Minyak, acuan global berada di atas 0,8% ytd.
• Kontrak RBOB Gasoline bulan September: $2.26 per galon, turun lebih dari 4 sen, atau 2%. Harga bensin lebih tinggi sebesar 7,7% ytd.
• Kontrak Gas Alam bulan September: $2,23 per seribu kaki kubik, naik 11 sen atau 5,3%. Gas turun 11,1% ytd.
Minyak mentah AS diperdagangkan dalam kisaran antara $75 dan $80 per barel selama seminggu terakhir, dengan pasar terjebak di antara ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan dan mendorong harga lebih tinggi, serta fundamental pasokan dan permintaan yang mengarah ke arah sebaliknya.
Baca Juga
Perundingan Gencatan Senjata Turunkan Ketegangan di Timteng, Harga Minyak Merosot Hampir 2%
Amrita Sen, pendiri Energy Aspects, mengatakan kepada CNBC bahwa permintaan sedang menggerakkan pasar saat ini. Harga merespons data yang sangat lemah dari Tiongkok. Para trader sebagian besar mengurangi premi risiko geopolitik karena tidak ada gangguan pasokan..
“Pandangan bearishnya sederhana saja, dan dalam jangka menengah, melambatnya aktivitas ekonomi, pelemahan di Asia, dan melemahnya margin kilang bukanlah pertanda baik bagi harga minyak mentah di akhir tahun,” beber Brian Leisen, analis minyak global di RBC Capital Markets, dalam sebuah catatan kepada klien pada hari Minggu.

