Saudara Kim Jong Un Bantah Tuduhan Korea Utara Dalangi Peretasan Binance dan Bybit, AS Jadi Dalang?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, membantah tuduhan keterlibatan negaranya dalam peretasan exchange kripto Binance senilai US$6,3 miliar aau setara Rp114 triliun. Ia juga menuding Amerika Serikat (AS) berpotensi berada di balik pencurian tersebut, meski tidak menyertakan bukti untuk mendukung tuduhannya.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Selasa (3/11/2026), Kim menolak klaim Biro Investigasi Federal AS (FBI) yang menyebut serangan tersebut dilakukan oleh kelompok peretas yang didukung Korea Utara.
Kim menyebut tuduhan FBI sebagai retorika politik yang bertujuan memberikan citra negatif terhadap Korea Utara di mata internasional. Ia juga menilai Washington kerap mengaitkan negaranya dengan berbagai insiden kejahatan siber berskala internasional.
“Pernyataan AS itu hanyalah retorika konyol dan bukan hal baru,” ujar Kim dalam pernyataannya mengutip Cointelegraph.
Kim turut menyinggung tuduhan AS terkait peretasan Bybit senilai US$1,5 miliar atau setara Rp24 triliun pada Februari 2025. Ia kembali membantah keterlibatan Korea Utara dalam serangan tersebut.
Lebih lanjut, Kim mengisyaratkan bahwa AS mungkin memiliki kepentingan dalam pencurian aset kripto tersebut. Menurutnya, pihak yang akan menerima sebagian besar aset hasil pencurian setelah ditemukan kembali dapat menjadi petunjuk untuk mengungkap pelaku sebenarnya.
Namun, Kim tidak memaparkan bukti yang menghubungkan Washington dengan peretasan Binance. Ia juga menegaskan bahwa Korea Utara menentang aktivitas berbahaya di ruang siber dan menuduh AS mempolitisasi isu keamanan siber.
Baca Juga
Terungkap! Begini Modus Peretas Kuras Hot Wallet Binance hingga Rp 100 Triliun Lebih
Penyelidik Kaitkan Serangan dengan Kelompok Korea Utara
Di sisi lain, perusahaan intelijen blockchain TRM Labs dan sejumlah penyelidik on-chain pekan lalu mengaitkan serangan terhadap Binance dengan kelompok peretas TraderTraitor yang berasal dari Korea Utara.
Kesimpulan tersebut didasarkan pada analisis aktivitas blockchain serta informasi intelijen yang dikumpulkan di luar jaringan blockchain.
TRM menemukan sejumlah kemiripan dengan pola pencurian sebelumnya yang diduga melibatkan Korea Utara. Di antaranya, penarikan dana dalam jumlah kecil dari layanan crypto mixer Tornado Cash untuk mendanai dompet pelaku, persiapan yang dilakukan jauh sebelum pencurian, serta penggunaan tanda tangan transaksi yang telah disiapkan sebelumnya dan dieksekusi secara serentak.
Baca Juga
FBI dan Dinas Rahasia AS Turun Tangan Selidiki Peretasan Binance
Meski demikian, TRM mencatat pola pencucian dana dalam kasus Binance berbeda dari pola yang teridentifikasi setelah peretasan Bybit.
Keterlibatan kelompok peretas Korea Utara juga dikaitkan dengan peretasan Bitget senilai US$352 juta. CEO Bitget Gracy Chen sebelumnya merujuk pada temuan awal yang menghubungkan alamat IP serangan dengan layanan VPN yang digunakan oleh kelompok tertentu dari Korea Utara.
