Timur Tengah Memanas, Minyak Brent Tembus US$116 per Barel
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah melonjak, dengan minyak Brent menembus level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kenaikan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran investor bahwa Amerika Serikat (AS) akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang, di tengah meluasnya ketegangan di Timur Tengah.
Baca Juga
Minyak Brent Tembus US$113 per Barel, Pasar Cemas AS Kembali Serang Iran
Dikutip dari CNBC, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 3,1% dan ditutup pada US$116,72 per barel pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Harga penutupan tersebut merupakan yang tertinggi bagi minyak acuan internasional itu sejak 29 April 2026.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 3,8% menjadi US$103,27 per barel.
Sepanjang pekan ini, Brent mencatatkan kenaikan 6,2%, sekaligus memperpanjang reli selama tiga pekan berturut-turut. Adapun WTI menguat 2% dalam periode yang sama.
Lonjakan harga minyak terjadi ketika prospek konflik AS-Iran kembali memburuk. Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengatakan bahwa Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Teheran dan sesuatu akan terjadi dalam waktu yang relatif dekat.
Pernyataan Trump tersebut menambah ketidakpastian di pasar energi. The New York Times, mengutip pejabat AS, melaporkan bahwa Washington dan Israel telah menyusun rencana untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS.
Ketidakpastian mengenai kemungkinan serangan baru itu membuat pelaku pasar semakin khawatir terhadap pasokan minyak global, terutama jika konflik meluas dan mengganggu infrastruktur energi serta jalur distribusi minyak di kawasan tersebut.
Iran sendiri mengisyaratkan kesiapan menghadapi kemungkinan eskalasi militer. Kepala Angkatan Darat Iran menyatakan bahwa militernya sepenuhnya siap menjalankan strategi perang asimetris setelah memperkuat kemampuan pertahanan dan militernya, menurut laporan kantor berita pemerintah Iran, Tasnim.
Perang asimetris mengacu pada strategi menghadapi lawan yang memiliki keunggulan militer konvensional melalui penggunaan taktik, kemampuan, dan metode serangan yang berbeda.
Ketegangan di Arab Saudi
Ketegangan juga meningkat di Arab Saudi setelah kelompok militan Houthi yang bersekutu dengan Iran melanjutkan serangan terhadap negara tersebut.
Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan seluruh personel non-esensial untuk meninggalkan Arab Saudi menyusul serangkaian serangan tersebut.
Baca Juga
Houthi Serang Tanker Saudi di Laut Merah, Trump Peringatkan Iran
Media pemerintah Saudi melaporkan bahwa serangan pesawat nirawak yang menargetkan ladang minyak Shaybah di Wilayah Timur pada Rabu menyebabkan dua orang tewas dan dua lainnya terluka.
Pada hari yang sama, serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam dilaporkan menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai delapan lainnya.
Serangan-serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi Saudi, salah satu pemain utama dalam pasokan minyak dunia.
Reuters juga melaporkan bahwa raksasa minyak Saudi Aramco telah meminta para pegawainya mengosongkan kantor pusat perusahaan di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh. Langkah itu dilakukan setelah serangkaian serangan yang dilancarkan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Aramco memiliki posisi strategis dalam industri minyak global. Gangguan terhadap kegiatan operasional, fasilitas produksi, atau distribusi perusahaan berpotensi memperketat pasokan dan meningkatkan premi risiko geopolitik dalam harga minyak.
Bagi pasar energi, persoalannya bukan hanya berapa banyak minyak yang diproduksi, melainkan juga seberapa aman minyak tersebut dapat diproses, diangkut, dan dikirim kepada konsumen.
Risiko Kenaikan Harga Masih Membayangi
Kenaikan Brent hingga di atas US$116 per barel memperlihatkan besarnya sensitivitas pasar terhadap perkembangan konflik Timur Tengah.
Jika AS dan Israel kembali menyerang Iran, pasar berpotensi menghadapi lonjakan volatilitas, terutama apabila konflik meluas ke negara-negara produsen minyak lain atau mengganggu jalur pelayaran strategis.
Sebaliknya, meredanya ketegangan dan terbukanya kembali peluang diplomasi dapat mengurangi premi risiko geopolitik yang saat ini menopang harga minyak.
Namun, selama ancaman terhadap fasilitas energi dan jalur distribusi masih berlangsung, harga minyak berpotensi bertahan pada tingkat tinggi.
Bagi negara pengimpor minyak, lonjakan harga minyak dunia dapat meningkatkan biaya impor energi dan menambah tekanan terhadap neraca perdagangan, subsidi energi, serta anggaran negara. Dampak akhirnya terhadap inflasi dan harga bahan bakar domestik akan bergantung pada kebijakan pemerintah, nilai tukar rupiah, serta perkembangan harga minyak selanjutnya.
