Wall Street Ambruk Dipicu Kejatuhan Saham AI dan Lonjakan Harga Minyak, Nasdaq Anjlok 2,6%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat turun tajam pada Kamis waktu AS atau Jumat (23/10/2026) WIB. Investor kembali mengkhawatirkan besarnya belanja perusahaan kecerdasan buatan (AI), sementara kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik menambah tekanan terhadap pasar.
Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi anjlok 2,6% menjadi 26.008,86. Penurunan tersebut menjadi kinerja harian terburuk Nasdaq sejak Juni.
Indeks S&P 500 merosot 1,21% ke 7.663,43, mencatat penurunan harian terburuk sejak Juli. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average relatif stabil dengan kenaikan tipis 11,89 poin atau 0,02% menjadi 52.867,98.
Baca Juga
Minyak Brent Tembus US$113 per Barel, Pasar Cemas AS Kembali Serang Iran
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, yang kembali dibayangi pertanyaan mengenai besarnya investasi yang diperlukan untuk mengembangkan infrastruktur AI dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari belanja tersebut.
Saham AI Berguguran
Saham Meta Platforms turun sekitar 7%, meskipun perusahaan itu membukukan pendapatan di atas ekspektasi dan memberikan proyeksi bisnis yang optimistis.
Pelemahan juga terjadi pada sejumlah saham teknologi utama. Advanced Micro Devices (AMD) turun lebih dari 8%, Micron Technology merosot 6%, sedangkan Nvidia melemah 4%.
CoreWeave, salah satu penyedia layanan neocloud yang berfokus pada infrastruktur komputasi AI, kehilangan sekitar 10% nilai sahamnya.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap kondisi pembiayaan perusahaan-perusahaan yang berlomba membangun infrastruktur kecerdasan buatan.
“Permintaan terhadap layanan neocloud berada pada tingkat yang sangat tinggi,” kata CEO Nvidia Jensen Huang kepada CNBC. Namun, ia mengingatkan bahwa ketersediaan modal masih terbatas dan menghambat kemampuan perusahaan untuk memperluas bisnisnya.
Neocloud menyediakan layanan komputasi awan khusus dengan infrastruktur berperforma tinggi yang dirancang untuk kebutuhan AI.
Pernyataan Huang memicu kekhawatiran bahwa tingginya permintaan terhadap teknologi AI tidak serta-merta menjamin kelancaran pembiayaan ekspansi perusahaan.
Para pelaku pasar juga mencermati besarnya kebutuhan pendanaan yang disampaikan Meta. Kekhawatiran mengenai investasi AI tersebut dinilai turut membebani harga saham perusahaan teknologi dan memperburuk sentimen pasar secara keseluruhan.
Sejumlah analis JPMorgan mengatakan sentimen positif yang terlihat pada Rabu berbalik arah dalam semalam. Saham Meta melemah sebelum pembukaan pasar, sementara pembicaraan mengenai kemungkinan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS semakin meningkatkan kekhawatiran investor.
Tim perdagangan Wells Fargo juga menilai komentar Huang mengenai keterbatasan modal kembali memunculkan pertanyaan mengenai kapasitas pasar kredit untuk menanggung risiko pembiayaan perusahaan AI.
Tekanan terhadap saham teknologi semakin besar setelah harga minyak dunia melonjak menyusul laporan The New York Times bahwa AS dan Israel telah menyusun rencana untuk kembali menyerang Iran setelah pemilihan paruh waktu AS bulan depan.
Presiden AS Donald Trump juga mengatakan Washington tidak sedang bernegosiasi dengan Teheran dan menyatakan bahwa perkembangan terkait Iran akan terjadi dalam waktu dekat.
Kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Harga minyak Brent melonjak 4% menjadi US$113,17 per barel, sedangkan WTI naik sekitar 2,39% menjadi US$99,47 per barel.
Lonjakan harga energi menambah ketidakpastian terhadap prospek inflasi dan biaya operasional perusahaan. Jika kenaikan minyak berlangsung lama, perusahaan dapat menghadapi tekanan biaya yang lebih besar, sementara konsumen berpotensi mengurangi belanja akibat meningkatnya pengeluaran untuk bahan bakar dan kebutuhan lainnya.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10 Tahun Anjlok di Bawah 5%, Ini Risiko yang Diwaspadai Investor
Di tengah aksi jual saham, investor beralih ke obligasi pemerintah AS untuk mencari perlindungan. Imbal hasil Treasury bertenor 10 tahun turun lebih dari 17 basis poin menjadi 4,972%, menembus level 5% untuk pertama kalinya sejak 23 September.
Imbal hasil obligasi dua tahun juga merosot lebih dari 16 basis poin menjadi 4,659%.
Pergerakan tersebut memperlihatkan perubahan preferensi investor. Setelah sebelumnya mengkhawatirkan tingginya imbal hasil obligasi dan tekanan inflasi, investor kini kembali mencari aset yang dianggap lebih aman ketika risiko di pasar saham dan geopolitik meningkat.
Bagi investor, kombinasi ketidakpastian pembiayaan AI dan ancaman konflik Timur Tengah menjadi pengingat bahwa prospek pertumbuhan teknologi harus dinilai bersama risiko pendanaan, valuasi saham, dan perubahan biaya energi.
