Wall Street Menguat Ditopang Saham Non-teknologi, Dow Melonjak Lebih dari 500 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) berbalik menguat pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (16/10/2026) WIB, dengan Dow Jones Industrial Average melonjak lebih dari 500 poin. Investor mulai mengalihkan sebagian dana dari saham teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke sektor lain di tengah kekhawatiran mengenai besarnya belanja AI, valuasi saham, dan tekanan inflasi.
Dow Jones naik 556,21 poin atau 1,08% menjadi 52.177,69. Indeks S&P 500 menguat 0,33% ke level 7.744,06, sedangkan Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi bertambah 0,08% menjadi 26.713,03.
Baca Juga
Nasdaq sempat berada di bawah tekanan dan turun hingga 1,4% pada perdagangan intraday sebelum akhirnya berbalik menguat tipis. Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa investor masih berhati-hati dalam menentukan valuasi yang layak bagi perusahaan teknologi, terutama bisnis yang terkait dengan AI.
Kekhawatiran utama berkaitan dengan besarnya investasi yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur AI, mulai dari pusat data hingga perangkat komputasi dan chip memori. Investor semakin mempertanyakan apakah pertumbuhan pendapatan perusahaan-perusahaan terkait akan mampu mengimbangi belanja modal dan valuasi saham yang telah meningkat tajam.
Saham Chip Memori Tertekan
Tekanan terlihat pada saham Seagate Technology dan Western Digital, yang melanjutkan penurunan selama pekan ini. Saham SK Hynix juga melemah dan ikut menekan indeks Kospi Korea Selatan pada perdagangan semalam.
Investor khawatir pasar chip memori berpotensi menghadapi kelebihan pasokan ketika produsen meningkatkan kapasitas produksi. Persaingan yang semakin ketat dari China menambah ketidakpastian terhadap prospek industri tersebut.
CEO Tesla Elon Musk turut menyoroti perkembangan ini melalui unggahan di platform X. Ia menyatakan China akan memproduksi RAM dalam jumlah besar pada 2028.
Peningkatan kapasitas produksi dapat membantu memenuhi kebutuhan komputasi AI yang terus berkembang. Namun, bagi produsen chip, tambahan pasokan yang terlalu besar juga berpotensi menekan harga dan margin keuntungan apabila pertumbuhan permintaan tidak mampu mengimbanginya.
Kekhawatiran lainnya muncul setelah sumber yang dikutip CNBC menyebut pendapatan Anthropic mencapai US$16,8 miliar pada kuartal III. Sebagian pelaku pasar mempertanyakan apakah laju pertumbuhan pendapatan perusahaan AI tersebut cukup tinggi untuk membenarkan kenaikan valuasi saham produsen chip yang selama ini diuntungkan oleh ledakan investasi AI.
Perhatian investor dengan demikian mulai bergeser dari sekadar besarnya potensi teknologi AI menuju pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa cepat investasi tersebut dapat menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang berkelanjutan.
Meski sejumlah saham teknologi tertekan, pergerakan di sektor AI tidak sepenuhnya negatif. Saham CoreWeave naik hampir 6% setelah anjlok lebih dari 15% pada sesi sebelumnya.
Saham perusahaan komputasi awan yang berfokus pada AI tersebut sempat terpukul oleh kekhawatiran bahwa perusahaan mengambil terlalu banyak utang untuk membiayai ekspansi infrastrukturnya. Imbal hasil obligasi korporasi CoreWeave juga melonjak, mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap risiko pembiayaan.
Saham Micron Technology turut pulih dari penurunan sebelumnya dan berakhir naik hampir 2%.
Pergerakan yang beragam itu menunjukkan bahwa investor tidak sepenuhnya meninggalkan tema AI. Sebaliknya, mereka mulai membedakan perusahaan berdasarkan prospek pendapatan, kemampuan menghasilkan arus kas, dan kebutuhan pendanaan untuk ekspansi.
Alex Shahidi, wakil kepala investasi bersama di Evoke, bagian dari MAI Capital Management, mengatakan investor kini memiliki alternatif untuk membandingkan investasi saham AI dengan instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
“Ketika obligasi pemerintah AS memberikan imbal hasil 5%, tertinggi sejak awal 2000-an, investor akan mulai membandingkannya pertaruhan yang besar pada AI,” beber Shahidi, dikutip CNBC.
Baca Juga
Menurut dia, persoalannya bukan sekadar memilih untuk berinvestasi di AI atau keluar sepenuhnya dari sektor tersebut, melainkan menentukan seberapa besar konsentrasi portofolio yang layak ditempatkan pada tema investasi itu.
Selain saham teknologi, penguatan Wall Street juga ditopang saham perusahaan di sektor lain. Saham Walmart naik 1,5%, sedangkan Nike melonjak lebih dari 5%.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa investor mulai mencari peluang di luar perusahaan teknologi, khususnya ketika ketidakpastian mengenai valuasi dan pembiayaan investasi AI meningkat.
Risiko Inflasi bagi Wall Street
Investor juga mencermati data inflasi terbaru yang memperkuat kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter AS. Indeks harga produsen (PPI) September naik 1,3% secara bulanan dan 6,3% secara tahunan. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak 2022 untuk kedua periode pengukuran.
Baca Juga
Inflasi PPI AS September Melonjak 6,3% YoY, Tertinggi Sejak 2022
Sehari sebelumnya, data indeks harga konsumen (CPI) juga menunjukkan inflasi yang lebih tinggi daripada perkiraan secara tahunan. Rangkaian data ini memperbesar kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) harus mempertahankan kebijakan moneter ketat atau kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
David Russell, kepala strategi pasar global di TradeStation, mengatakan laporan PPI setelah data CPI sehari sebelumnya memperkuat indikasi bahwa tekanan inflasi semakin memburuk ketika harga energi tetap tinggi. “Terlepas dari pemilu, harga terus meningkat dan The Fed mungkin terpaksa bertindak,” kata Russell.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga dapat mengubah perhitungan investor. Ketika instrumen berpendapatan tetap menawarkan imbal hasil yang relatif menarik, saham dengan valuasi tinggi harus memberikan prospek keuntungan yang lebih meyakinkan agar tetap kompetitif.
Bagi saham AI, kombinasi suku bunga tinggi, kebutuhan belanja modal yang besar, dan risiko kelebihan pasokan chip dapat meningkatkan volatilitas. Perusahaan yang mampu menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan arus kas kuat berpotensi tetap diminati, sedangkan emiten dengan beban utang besar atau valuasi yang sulit dibenarkan dapat menghadapi tekanan.
Penguatan Dow Jones pada Kamis menunjukkan bahwa rotasi investasi dapat membuka peluang bagi saham di luar teknologi. Namun, arah pasar berikutnya akan bergantung pada perkembangan inflasi, keputusan The Fed, serta kemampuan perusahaan AI mengubah besarnya investasi menjadi keuntungan nyata.
