Menlu Arrmanatha: Diplomasi Harus Sampai ke Meja Makan Rakyat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Luar Negeri (Menlu) Arrmanatha Nasir menyampaikan pesan pertamanya. Pada kesempatan tersebut, Arrmanatha menyampaikan strategi diplomasi ke depan yaitu mendukung ketahanan nasional dengan memajukan agenda transformasi besar dan strategis Presiden Prabowo Subianto.
“Inilah prioritas pertama dan utama politik, dan diplomasi kita untuk mendukung ketahanan nasional. Ukurannya sederhana: diplomasi harus terasa sampai di meja makan rakyat,” kata Arrmanatha, saat menyampaikan pernyataan kebijakan kementerian luar negeri, di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (12/10/2026).
Arrmanatha menjelaskan bahwa diplomasi yang akan dijalankannya akan turut menjaga sejumlah sektor perekonomian di antaranya ketahanan pangan dan energi, realisasi dan transformasi digital, industri pertahanan, perdagangan dan investasi, kesehatan, serta kehidupan masyarakat.
“Kita akan tingkatkan dan intensifkan kerja sama bilateral untuk hasil nyata, mendukung prioritas pembangunan nasional,” ucap dia.
Untuk mendukung swasembada dan ketahanan pangan, kata Arrmanatha, pemerintah bekerja sama dengan Jepang dan Korea Selatan. Kerja sama itu diharapkan dapat meningkatkan produksi beras dan mendorong kerja sama konkret.
Baca Juga
Menlu Arrmanatha Targetkan Reformasi Multilateralisme di Kancah Global
Arrmanatha mengatakan bahwa Indonesia juga bekerja sama dengan Vietnam untuk mengembangkan investasi peternakan sapi perah. Indonesia juga bekerja sama dengan Jepang untuk membangun pembangkit listrik tenaga thorium dan panas bumi.
“Dengan RRT (China), kita membangun ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi,” ujar dia.
Arrmanatha menjelaskan bahwa QRIS juga sudah bisa untuk transaksi lintas batas di Thailand, Malaysia, China, dan Jepang. Tak hanya itu, dalam dua tahun terakhir, hubungan Tailan dan Mesir naik menjadi strategic partnership.
“Hal yang sama juga dengan Rusia, sementara dengan Vietnam dan Perancis menjadi comprehensive strategic partnership. Tahun ini, untuk pertama kalinya, kita menggelar Dialogue 2+2 dengan Turkiye dan comprehensive strategic dialogue dengan Turkiye,” kata dia.
Arrmanatha mengatakan bahwa pemerintah juga merencanakan kerja sama ekonomi dengan Korea Selatan dan Qatar. Sementara itu, di bidang perdagangan, comprehensive economic partnership agreement alias CEPA dengan Uni Eropa sudah selesai secara substansi.
“Sementara, CEPA dengan Kamerun dan Peru sudah ditandatangani. Kita juga akan terus merampungkan perundingan kerja sama perdagangan dengan GCC Mercosur, Turkiye, Georgia, Chile, dan Uzbekistan,” ujar dia.
Arrmanatha mengatakan perjanjiaan ini bukan garis akhir, melainkan garis awal. Untuk itu, dia akan menerjemahkan seluruh kerja sama ini dengan rencana aksi alias action plan, peta jalan atau roadmap, proyek, dan kesepakatan sektoral yang konkret.
