Nasdaq Tembus Rekor Baru, Wall Street Cermati Diplomasi AS-Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Indeks Nasdaq Composite mencetak rekor tertinggi baru pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (23/9/2026) WIB. Indeks S&P 500 bergerak relatif datar, sementara investor terus mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi naik 0,45% dan ditutup pada rekor 27.244,28. Kenaikan tersebut didukung lonjakan hampir 7% saham Sandisk setelah Rosenblatt memberikan rekomendasi positif terhadap saham tersebut. S&P 500 turun tipis dan berakhir di level 7.764,64. Dow Jones Industrial Average melemah 185,14 poin atau 0,36% menjadi 51.863,69.
Baca Juga
Iran Disebut Siap Buka Selat Hormuz dalam 7 Hari, Ini Syaratnya
Pergerakan pasar saham berlangsung di tengah penurunan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pejabat AS telah menggelar pertemuan yang "sangat baik" dengan delegasi Iran selama sekitar tiga jam.
Harga minyak mentah Brent, patokan global, turun 1,09% menjadi US$99,25 per barel. Minyak mentah AS turun 1,24% dan ditutup pada US$94,59 per barel.
Penurunan tersebut menjadi yang kelima secara beruntun bagi kedua patokan harga minyak.
Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa, Trump mengatakan dirinya menghadapi "keputusan besar" terkait apakah akan mengejar kesepakatan dengan Iran atau mengambil tindakan yang lebih keras terhadap negara tersebut.
Trump juga mengatakan dirinya meyakini kesepakatan dengan Iran dapat tercapai setelah pemilu sela AS. Menurut Trump, Iran masih menunggu untuk melihat bagaimana hasil pemilu tersebut.
Harga minyak sebelumnya telah turun setelah muncul laporan bahwa Iran menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh CNBC.
Arab Saudi juga dilaporkan berencana mengaktifkan kembali jaringan pipa East-West pada pekan ini. Jalur tersebut menjadi penting karena dapat memberikan alternatif bagi ekspor minyak Saudi ketika lalu lintas melalui Selat Hormuz terganggu.
Baca Juga
Pergerakan saham pada Selasa mengikuti penguatan Wall Street pada sesi sebelumnya. S&P 500 sebelumnya mencatat kenaikan harian terbaik sejak 4 Agustus, sementara Nasdaq membukukan rekor penutupan pertama sejak Juni.
Penurunan harga minyak turut memberikan dukungan terhadap pasar saham. Imbal hasil Treasury AS juga bergerak turun.
Sebelum Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada pekan lalu, imbal hasil Treasury telah bergerak naik karena perekonomian AS menghadapi peningkatan utang, harga minyak yang tinggi dan inflasi yang masih bertahan.
Imbal hasil Treasury 10 tahun terakhir berada di sekitar 4,959%.
“Pasar mungkin belum sepenuhnya memperhitungkan dampak dari siklus kenaikan suku bunga meskipun imbal hasil obligasi sudah berada di level tinggi,” ujar Tom Garretson, senior portfolio strategist di RBC Wealth Management, dikutip CNBC.
Menurut dia, pasar masih menunjukkan tingkat kepuasan yang cukup tinggi terhadap kemungkinan imbal hasil Treasury 10 tahun menembus 5%. Ia juga menilai terdapat risiko bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga setidaknya dua kali lagi dan berpotensi membawa suku bunga kembali mendekati 5% pada awal 2027.
Selanjutnya, perhatian investor akan beralih ke pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Washington, D.C. Kecerdasan buatan, perang Iran, tarif perdagangan dan logam tanah jarang diperkirakan menjadi sejumlah isu utama dalam pertemuan tersebut.
