Tim SAR Nepal dan China Berpacu Melacak Ribuan Korban Hilang Pascabencana Air Bah Himalaya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Tim penyelamat di Nepal dan China pada Sabtu (29/8) berpacu dengan waktu melacak ribuan orang yang hilang beberapa hari setelah gelombang air dan puing mirip tsunami menerjang wilayah Himalaya hingga menggulung seluruh desa.
Angka resmi dari kedua negara mencatat jumlah korban hilang mendekati 3.000 orang, sementara 682 jenazah telah ditemukan, dengan beberapa laporan mengindikasikan sebagian korban tewas diduga terbawa arus jauh ke hilir hingga ke India.
Di tengah pencarian tersebut, militer Nepal berhasil mencatatkan kemajuan pada Sabtu malam dengan memasukkan pipa ke dalam terowongan di lokasi pembangkit listrik tenaga air Trishuli 3A, tempat para pekerja diyakini terperangkap.
"Kami sudah mulai menyalurkan udara melalui celah kecil tersebut, dan kini kami akan memulai pekerjaan penggalian serta mengirimkan tim penyelamat ke dalam," kata Menteri Dalam Negeri Sudan Gurung dalam sebuah pernyataan yang dikutip CNA News, Minggu (30/8/2026).
Lebih dari 100 pekerja diperkirakan masih hidup dan terperangkap di dalam terowongan, dengan fokus upaya penyelamatan terpusat pada lokasi Trishuli 3A dan 3B.
US Geological Survey menyatakan bahwa runtuhnya gletser menjadi penyebab utama banjir bandang mematikan pada Rabu (26/8/2026) lalu di perbatasan Nepal-Tibet. Meski penyebab pasti runtuhnya gletser belum pasti, perubahan iklim yang memicu pencairan gletser di seluruh dunia telah meningkatkan risiko bencana serupa.
"Runtuhnya gletser secara mendadak dan banjir bandang ini menjadi pengingat yang sangat menyedihkan tentang betapa rapuhnya lingkungan pegunungan ini," kata Kepala Iklim PBB Simon Stiell dalam sebuah pernyataan.
"Kita juga mengetahui bahwa pemanasan iklim, yang dipicu oleh tindakan manusia membakar batu bara, minyak, dan gas dalam jumlah besar, membuat tragedi seperti ini dan banyak tragedi lainnya di seluruh dunia menjadi lebih mungkin terjadi, lebih sering, dan lebih parah, dengan masyarakat rentan yang sering kali menjadi korban paling parah," imbuhnya.
Bagi para penyintas, mereka harus menghadapi masa penantian yang menyiksa untuk mengetahui nasib kerabat mereka yang hilang, sekaligus menghadapi kenyataan pahit harus membangun kembali kehidupan dari awal.
"Semua permukiman di dekat sungai hanyut," kata Buddhi Ram Dangol di distrik Nuwakot, Nepal.
"Tidak ada yang tersisa."
Di sebuah pangkalan militer yang menjadi pusat penyelamatan utama di Bidur, kerabat korban berkumpul di sekitar daftar nama orang teratasilkan yang ditempel di dinding.
"Saya datang ke sini mencari anak saya," kata Kalka Sharda sambil memindai daftar tersebut dengan penuh keputusasaan.
"Dia seorang pekerja di pembangkit listrik tenaga air, tetapi saya tidak dapat menemukan namanya, dan pihak berwenang tidak mengatakan apa pun." Ia kemudian menambahkan, "Saya pikir tidak ada harapan lagi, karena jika dia masih hidup, dia pasti sudah menghubungi kami."
Baca Juga
Kemenlu: Belum Ada Laporan WNI Terdampak Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tibet
Di kawasan yang menjadi pusat proyek infrastruktur energi skala besar tersebut, otoritas bencana Nepal mencatat 933 pekerja pembangkit listrik tenaga air masuk dalam daftar korban hilang, bersama dengan 517 warga negara asing yang mencakup pendaki dan peziarah Hindu menuju Gunung Kailash yang suci di Tibet.
Selain itu, Isha Foundation yang dipimpin guru asal India, Sadhguru, menyampaikan melalui unggahan Instagram pada Sabtu (29/8/2026) bahwa 80 anggotanya sedang berada dalam perjalanan kelompok di area tersebut. Unggahan itu mengonfirmasi bahwa kelompok tersebut berada di pelabuhan perbatasan Gyirong di China yang hancur parah akibat "sepenuhnya hanyut".
"Saat ini, sepertinya tidak ada petunjuk yang membesarkan hati mengenai adanya penyintas di area kantor imigrasi," demikian kata Sadhguru.
Nepal Butuhkan Drone Pengangkat Beban Berat
Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal pada Sabtu menyatakan bahwa biaya rekonstruksi di negaranya dapat mencapai miliaran dolar AS.
"Urgensinya adalah pada penyelamatan dan menyelamatkan nyawa sebanyak yang kami bisa," ujarnnya saat memohon bantuan khusus berupa drone pengangkat beban berat dan teknologi untuk membantu melacak keberadaan korban yang terperangkap.
Ia juga meminta perlengkapan tes forensik untuk mengidentifikasi jenazah serta unit pendingin untuk menyimpannya, mengingat jenazah yang berada di dalam air dapat membusuk lebih cepat.
Kekhawatiran akan banjir susulan kian menyulitkan proses pencarian korban hilang. Tumpukan es dan lumpur telah membentuk danau-danau besar, di mana salah satu formasi danau tersebut menimbulkan risiko terjadinya banjir lanjutan.
Untuk mengantisipasi dampak buruk, menteri luar negeri China dan Nepal berbicara pada Sabtu untuk membahas pembagian data satelit dan hidrologi.
Di Tibet, tempat otoritas China menjadi satu-satunya sumber informasi, operasi penyelamatan di area terparah yakni Gyirong sempat dihentikan sementara akibat risiko banjir susulan dari danau yang baru terbentuk. Namun, penyiar negara CCTV mengutip Kementerian Sumber Daya Air China pada Sabtu malam melaporkan bahwa danau tersebut telah mengalir secara alami dan telah surut.
Kantor berita Xinhua melaporkan sebanyak 2.141 penyelamat disiagakan di dekat lokasi Gyirong, termasuk lebih dari 500 orang di area terdampak paling parah.
Secara keseluruhan, Nepal melaporkan korban tewas mencapai 675 orang pada Sabtu, sementara 2.426 orang termasuk ratusan warga asing masih hilang kontak di negara tersebut.
Di seberang perbatasan Tibet yang sebagian besar tidak dapat diakses oleh jurnalis asing, kantor berita Xinhua melaporkan tujuh orang tewas dan 554 orang masih hilang.
Pihak berwenang China juga menyatakan telah mengevakuasi 555 wisatawan yang terdampar dan 499 warga lokal dari Tibet. Sementara itu di India, para pejabat mengonfirmasi telah menemukan tujuh jenazah dari sungai-sungai yang mengalir dari Nepal, yang diyakini merupakan korban tewas akibat banjir bah tersebut.
