Tak Gentar Ancaman ‘Sanksi Keras’ AS, Iran Klaim Mampu Bertahan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent akan mengumumkan sanksi baru terhadap Iran. Bessent menggambarkan langkah tersebut sebagai kampanye “isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia”.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Hampir 3%, AS Ancam ‘Sanksi Ekonomi Terberat’ untuk Iran
“Atas terbitnya fajar, dimulai D-Day ekonomi—serangan finansial tunggal terbesar yang pernah dikerahkan terhadap pihak lawan,” tulis Bessent dalam opini yang dimuat Financial Times pada Minggu (23/8/2026).
Bessent pada Kamis mengatakan kepada CNBC bahwa AS akan “meruntuhkan” Republik Islam Iran melalui “sanksi terberat dalam sejarah”.
Pemerintahan Presiden Donald Trump, menurut Bessent, menuntut negara-negara sekutu AS dan negara lain di dunia menghentikan aktivitas bisnis dengan Iran. Washington bahkan akan menggunakan “seluruh kekuatannya” terhadap pihak yang tidak mematuhi kebijakan tersebut.
“Kami datang kepada mereka dan mengatakan Anda bersama kami atau melawan kami,” kata Bessent kepada CNBC. “Sudah waktunya bagi sekutu kami dan seluruh dunia untuk mengambil keputusan, dan kami akan menghancurkan ekonomi rezim yang mematikan ini.”
Langkah Bessent tersebut merupakan tindak lanjut dari pernyataan Trump pekan lalu. Presiden AS itu mengatakan Washington akan menargetkan Iran dengan “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun”.
Trump juga mengancam akan menjatuhkan sanksi finansial berat kepada negara mana pun yang membantu Iran menghindari sanksi AS. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyebut kebijakan tersebut sebagai “perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya”.
Tak Gentar
Namun, Teheran menepis ancaman tersebut.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), seperti dikutip media pemerintah Iran, mengatakan negaranya memiliki berbagai cara untuk menghadapi dampak buruk dari “perang musuh”. Iran juga disebut mampu dengan mudah membangun hubungan ekonomi dengan negara-negara lain.
“Presiden AS mengatakan bahwa dia memerintahkan perang ekonomi dan melancarkan kampanye ekonomi paling keras terhadap Iran. Ini merupakan pengakuan tersirat atas kekalahan memalukan musuh di arena militer,” kata juru bicara IRGC tersebut.
Analis menilai tantangan bagi Washington adalah menentukan apakah tekanan ekonomi tambahan benar-benar mampu mengubah perilaku Teheran.
Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, mengatakan Iran sudah menjadi salah satu negara yang paling banyak dikenai sanksi di dunia.
“Tidak jelas apakah tekanan ekonomi yang lebih besar akan mengubah perilaku Teheran,” kata Croft kepada CNBC.
Menurut dia, Iran tampaknya percaya dapat bertahan lebih lama daripada pemerintahan Trump yang menginginkan perang segera berakhir.
Croft juga memperingatkan Iran masih memiliki kemampuan untuk menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz serta infrastruktur di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga
AS Ancam Isolasi Ekonomi Iran, Selat Hormuz Bisa Diblokade Tanpa Batas
“Iran masih memiliki kemampuan signifikan untuk mengganggu. Pertanyaannya adalah bagaimana hal ini akan berubah dengan tambahan sanksi ekonomi,” ujarnya.
Dengan demikian, pengumuman Bessent tidak hanya akan menjadi babak baru tekanan ekonomi terhadap Iran, tetapi juga ujian terhadap kemampuan AS membangun koalisi internasional untuk mengisolasi perekonomian Teheran.

