UEA Putus Hubungan Finansial dengan Iran, Harga Minyak Naik Lagi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga minyak kembali naik. Investor mencemaskan eskalasi ketegangan di Timur Tengah setelah Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan untuk menghentikan seluruh transaksi finansial dan ekonomi dengan Iran.
Baca Juga
Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz juga masih berlangsung lambat. Data menunjukkan sebagian besar pemilik kapal menghindari jalur strategis tersebut karena belum ada sinyal yang jelas mengenai kapan dan bagaimana selat itu akan kembali dibuka.
Kontrak berjangka minyak Brent ditutup naik 0,7% menjadi US$91,62 per barel pada Rabu (19/8/2026). Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), menguat 1% dan menetap di US$85,83 per barel.
“Kontrak berjangka minyak mentah masih mendapat dukungan dari ketegangan geopolitik yang terus berlangsung di Timur Tengah. UEA menyatakan telah memutus seluruh hubungan finansial dengan Iran akibat serangan rudal terbaru,” kata Dennis Kissler, wakil presiden senior perdagangan di BOK Financial, dikutip CNBC.
Pada Selasa, Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menyebut Selat Hormuz telah terbuka. Namun, Iran menyatakan jalur pelayaran tersebut masih ditutup.
Kesepakatan gencatan senjata sementara berakhir pada Senin. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya bergerak menuju sikap yang lebih ofensif akibat kebuntuan diplomatik. Meski demikian, tidak ada laporan mengenai serangan dari kedua pihak pada Selasa.
Financial Times melaporkan Iran tengah mempertimbangkan sasaran militer di Eropa jika Trump meningkatkan eskalasi perang, berdasarkan keterangan sejumlah sumber.
Pasar minyak masih menjadikan Selat Hormuz sebagai fokus utama. Sebelum perang AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur strategis tersebut.
Baca Juga
Ahmad Assiri, research strategist di perusahaan pialang Pepperstone, mengatakan kenaikan harga Brent di atas US$91 per barel menunjukkan investor mulai memasukkan premi risiko yang lebih tinggi ke dalam harga minyak. Menurut dia, harga minyak berpotensi kembali menembus level US$100 per barel.
Di sisi lain, pengiriman minyak dari pelabuhan-pelabuhan Rusia di wilayah barat turun menjadi sekitar 2,3 juta barel per hari pada paruh pertama Agustus. Angka tersebut 15% lebih rendah dibandingkan rencana pemuatan awal akibat gangguan di pelabuhan Novorossiysk di Laut Hitam.
Di AS, persediaan minyak mentah meningkat 4,4 juta barel menjadi 428,8 juta barel pada pekan lalu, menurut data Energy Information Administration (EIA). Kenaikan stok tersebut sedikit meredakan kekhawatiran mengenai ketatnya pasokan.
Namun, menurut Kissler, permintaan terhadap minyak mentah secara global masih kuat. Kilang-kilang meningkatkan pembelian minyak karena margin pengolahan yang tinggi, sementara serangan Ukraina terhadap sektor pengilangan Rusia turut membuat pasokan bahan bakar global tetap ketat.
Tingkat utilisasi kilang AS juga naik 1 poin persentase menjadi 97,2% pada pekan tersebut, berdasarkan data EIA.
Kondisi ini menunjukkan pasar minyak masih menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Di satu sisi, kenaikan stok AS menandakan pasokan domestik relatif mencukupi. Namun, di sisi lain, risiko geopolitik, gangguan logistik, serta ketidakpastian di Selat Hormuz terus memberikan tekanan ke atas harga minyak.

