AS-Iran Jeda Serangan, Dow Futures Melonjak Lebih dari 200 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Saham berjangka Amerika Serikat menguat setelah AS dan Iran menghentikan sementara aksi saling serang selama akhir pekan. Di saat yang sama, harga minyak dunia merosot tajam karena meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Baca Juga
Wall Street 'Mixed' di Tengah Konflik AS-Iran, Nasdaq Anjlok, Dow Menguat Ditopang Saham Apple
Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average naik 244 poin atau 0,5% pada Minggu (26/7/2026) malam. Sementara itu, futures S&P 500 menguat 0,6% dan Nasdaq 100 melonjak 1,2%, mencerminkan meningkatnya optimisme investor menjelang pekan yang dipenuhi sejumlah agenda penting.
Di pasar energi, harga minyak mengalami tekanan setelah Iran menyatakan akan menangguhkan serangan selama Amerika Serikat juga mempertahankan penghentian operasi militernya. Pernyataan tersebut mengakhiri hampir dua pekan eskalasi konflik yang mengguncang pasar global.
Harga minyak mentah Brent turun lebih dari 5% menjadi sekitar US$92 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 5% ke kisaran US$85 per barel.
Meski demikian, ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda. Situasi kembali memanas setelah Ukraina dilaporkan menyerang sebuah kapal dagang Iran di Laut Kaspia. Pemerintah Iran mengecam insiden tersebut sebagai "tindakan bermusuhan dan kriminal", sehingga menambah kompleksitas konflik yang melibatkan sejumlah kawasan.
Pekan Penentu
Penguatan bursa berjangka terjadi setelah Wall Street menutup pekan sebelumnya dengan kinerja negatif. Kekhawatiran terhadap konflik Iran serta aksi jual saham-saham semikonduktor menekan indeks utama.
Pada perdagangan Jumat, indeks S&P 500 turun 0,6% dan Nasdaq Composite merosot 2,1%, sehingga keduanya mencatat pelemahan selama dua pekan berturut-turut. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 0,4% dan memperpanjang tren penurunan menjadi tiga pekan berturut-turut.
Pekan ini diperkirakan menjadi salah satu periode yang menentukan bagi pasar keuangan Amerika Serikat.
Investor menanti laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi, yakni Amazon, Apple, Meta Platforms, dan Microsoft. Hasil kinerja keempat perusahaan tersebut akan menjadi indikator penting apakah belanja besar-besaran untuk pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) masih mampu menghasilkan pertumbuhan laba atau justru mulai membebani profitabilitas perusahaan.
Perhatian investor meningkat setelah Alphabet pekan lalu melaporkan hasil yang mengecewakan, sehingga memunculkan kekhawatiran mengenai besarnya pengeluaran untuk investasi AI.
CEO Mahoney Asset Management, Ken Mahoney, mengatakan pasar berada dalam posisi yang sulit.
"Risiko terbesar adalah jika belanja AI terus meningkat. Namun jika perusahaan mulai mengurangi pengeluaran demi memenuhi tuntutan pemegang saham, pasar juga kemungkinan tidak akan menyukainya," ujarnya, dikutip CNBC.
Menurut Mahoney, kondisi tersebut menciptakan dilema bagi investor karena kedua skenario sama-sama berpotensi menimbulkan tekanan terhadap pasar.
Fokus The Fed
Selain laporan keuangan emiten teknologi, perhatian pasar juga tertuju pada rapat kebijakan Federal Reserve yang akan berakhir pada Rabu waktu setempat.
Baca Juga
Pejabat The Fed Dorong Kenaikan Suku Bunga ‘Moderat’, Lorie Logan: Inflasi Belum Terkendali
Mayoritas ekonom masih memperkirakan bank sentral AS akan mulai menaikkan suku bunga pada September. Namun, pelaku pasar kini mulai memperhitungkan peluang bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin lebih cepat, bahkan pada pertemuan pekan ini, sebagaimana tercermin dalam CME FedWatch Tool.
Keputusan The Fed diperkirakan akan menjadi penentu arah pasar global dalam jangka pendek, terutama di tengah kombinasi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, dan prospek pertumbuhan sektor teknologi yang masih menjadi motor utama Wall Street.
