Wall Street Melonjak Didorong Saham Teknologi, Dow Tembus Rekor 52.000
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS bergerak positif pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (30/6/2026) WIB. Wall Street mengawali pekan dengan penguatan solid. Indeks Dow Jones Industrial Average untuk pertama kalinya ditutup di atas level psikologis 52.000, didorong oleh debut Alphabet sebagai anggota terbaru indeks serta reli kuat saham-saham teknologi dan semikonduktor.
Dow Jones naik 306,63 poin atau 0,59% ke posisi 52.182,74, mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah.
Sementara itu, S&P 500 menguat 1,18% menjadi 7.440,43, sedangkan Nasdaq Composite melesat 2,07% ke 25.820,14, ditopang kenaikan saham-saham berkapitalisasi besar di sektor teknologi.
Baca Juga
Saham Chip-AI di Wall Street Rontok Lagi, Indeks Nasdaq Catat Penurunan 5 Hari Beruntun
Sorotan utama tertuju pada Alphabet, induk usaha Google, yang resmi bergabung sebagai anggota Dow Jones.
Pada hari pertamanya sebagai anggota indeks bergengsi tersebut, saham Alphabet melonjak hampir 5%, menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap kenaikan Dow.
Di sisi lain, saham Comcast juga menguat 4,4% setelah perusahaan mengumumkan rencana memisahkan bisnis media dan teknologi menjadi dua perusahaan publik yang berbeda. Proses spin-off tersebut ditargetkan rampung dalam waktu sekitar satu tahun.
Saham Semikonduktor Naik Tajam
Reli juga terjadi di sektor semikonduktor. VanEck Semiconductor ETF (SMH) mengakhiri perdagangan dengan kenaikan lebih dari 3%, berbalik menguat setelah sempat diperdagangkan di zona merah.
Beberapa saham produsen chip mencatat lonjakan signifikan. Astera Labs melonjak sekitar 16%, KLA naik sekitar 12%, Applied Materials menguat hampir 11%.
Kebangkitan sektor semikonduktor memperkuat optimisme investor terhadap prospek industri kecerdasan buatan (AI) dan belanja pusat data yang masih terus meningkat.
Jelang Libur dan Akhir Kuartal
Reli Wall Street terjadi saat pasar memasuki pekan perdagangan yang lebih pendek menjelang libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada Jumat.
Manajer portofolio Equity Armor Investments, Joe Tigay, mengatakan volume transaksi diperkirakan lebih tipis sehingga pergerakan harga saham berpotensi menjadi lebih besar dari biasanya.
Menurutnya, pasar juga memasuki penghujung kuartal, ketika banyak manajer investasi melakukan window dressing, yakni menyesuaikan portofolio agar laporan investasi kepada klien terlihat lebih menarik.
"Banyak saham-saham besar telah mencatat keuntungan luar biasa sepanjang tahun ini sehingga sebagian manajer investasi memilih mengamankan keuntungan tersebut," ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Timur Tengah Masih Jadi Perhatian
Di tengah reli pasar saham, investor tetap mencermati perkembangan geopolitik setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat menghentikan sementara aksi militer menyusul bentrokan sepanjang akhir pekan.
Baca Juga
AS-Iran Sepakati Jeda Perang, Kapal Kembali Melintas di Hormuz
Kedua negara juga menyetujui pembukaan kembali jalur pelayaran komersial melalui Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia, sembari melanjutkan pembahasan teknis mengenai nota kesepahaman (MoU).
Sebelumnya, militer AS menyerang sejumlah target Iran sebagai balasan atas serangan Teheran di kawasan Selat Hormuz. Presiden Donald Trump kemudian kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran melalui media sosial Truth Social.
Meski ketegangan sedikit mereda, pelaku pasar energi masih menunggu kepastian apakah penghentian sementara konflik dapat bertahan. Akibatnya, harga minyak kembali menguat pada awal pekan.
Minyak acuan global Brent naik 1,61% dan ditutup pada US$73,15 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,2% menjadi US$70,75 per barel.
Kenaikan tersebut mencerminkan masih tingginya premi risiko geopolitik di pasar energi global, mengingat setiap gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz berpotensi mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
