Harga Minyak Turun Dipicu Optimisme Perdamaian AS-Iran, Pasar Pantau Selat Hormuz
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia menurun seiring menguatnya harapan perdamaian AS-Iran. Investor terus memantau kelancaran arus kapal tanker melalui Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting di dunia.
Baca Juga
AS Buka Keran Ekspor Minyak Iran Selama 60 Hari, Minyak Brent Anjlok Lebih dari 3%,
Dikutip dari CNBC, kontrak berjangka Brent, yang menjadi acuan internasional, turun 82 sen menjadi US$77,08 per barel pada Selasa (23/6/2026). Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) melemah 65 sen dan ditutup pada level US$73,21 per barel.
Perhatian pasar tertuju pada perkembangan di Selat Hormuz setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim sekitar 19 juta barel minyak mengalir melalui jalur tersebut pada Senin. Angka itu disebutnya sebagai rekor baru, meski belum dapat diverifikasi secara independen.
Sebelum konflik antara Iran dan Israel memanas, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Akhir pekan lalu, Iran menyatakan telah menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap konflik regional. Namun, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) membantah klaim tersebut dan menegaskan jalur pelayaran internasional itu tetap terbuka. Perbedaan pernyataan tersebut sempat menimbulkan kebingungan di pasar energi global.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh langkah Departemen Keuangan AS yang menerbitkan lisensi selama 60 hari yang mengizinkan produksi, pengiriman, dan penjualan minyak Iran hingga 21 Agustus.
Lisensi tersebut bahkan memungkinkan impor minyak mentah Iran ke Amerika Serikat dan pembayaran transaksi menggunakan dolar AS. Kebijakan ini dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan energi global sekaligus mendukung proses diplomatik yang tengah berlangsung.
Meski demikian, muncul kekhawatiran bahwa pendapatan dari penjualan minyak dapat dimanfaatkan Iran untuk memperkuat kembali kemampuan militernya.
Menanggapi hal itu, Trump mengatakan pemerintah Iran seharusnya menggunakan dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.
"Mereka seharusnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan bagi rakyat mereka, karena saat ini banyak warga mereka yang kelaparan. Mereka membeli jagung dan kedelai dari kami," kata Trump saat acara penandatanganan perintah eksekutif di Gedung Putih.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan yang berlangsung di Swiss telah menghasilkan "kemajuan besar", meskipun Iran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada akhir pekan lalu.
Perkembangan tersebut memperkuat optimisme bahwa konflik yang selama ini mengguncang pasar energi dapat menuju penyelesaian yang lebih berkelanjutan.
Direktur Pelaksana Strategi Ekuitas AS Citi Research, Scott Chronert, mengatakan pola perdagangan minyak dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan pasar semakin yakin bahwa konflik mendekati akhir.
Baca Juga
AS-Iran Sepakati Peta Jalan Damai 60 Hari, Hormuz Dibuka, Konflik Israel–Hizbullah Dibahas
"Pasar tampaknya semakin percaya bahwa kita lebih dekat menuju akhir konflik. Tekanan harga energi terhadap inflasi kemungkinan akan berkurang dalam beberapa minggu dan bulan ke depan," ujarnya, dalam acara “Squawk Box Asia” CNBC.
Meski demikian, Oman dan Iran dalam pernyataan bersama pada Selasa menegaskan hak kedaulatan mereka atas perairan teritorial di Selat Hormuz, sebuah sinyal bahwa isu keamanan jalur pelayaran strategis tersebut masih akan menjadi perhatian utama pasar global.
