Dow Futures Anjlok Hampir 200 Poin, Pasar Soroti Inflasi dan Ketidakpastian di Timur Tengah
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat melemah pada Minggu (21/6/2026) waktu setempat setelah harga minyak melonjak di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait perkembangan negosiasi konflik Iran. Pasar juga menanti data inflasi penting yang menjadi acuan utama bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).
Baca Juga
Iran Klaim Tutup Selat Hormuz Lagi, Tuding AS Langgar Kesepakatan
Dikutip dari CNBC, S&P 500 futures turun 0,4%, sedangkan Nasdaq-100 futures melemah 0,6%. Sementara itu, futures yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average anjlok 183 poin atau sekitar 0,4%.
Di pasar energi, harga minyak bergerak naik karena kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan dari kawasan Timur Tengah. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak hampir 3% ke kisaran US$78 per barel, sedangkan minyak Brent naik lebih dari 1% menuju US$81 per barel.
Sentimen pasar dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran apabila Teheran tidak segera menghentikan aktivitas kelompok-kelompok proksi yang didukungnya di Lebanon. Pernyataan tersebut muncul saat Wakil Presiden JD Vance bertemu pejabat Iran di Swiss dalam putaran pertama perundingan yang sebelumnya sempat dibatalkan.
Baca Juga
Trump Ancam Tarif Kapal di Hormuz Jika Kesepakatan Final Gagal Tercapai
Meski demikian, Wall Street masih mencatat kinerja positif sepanjang pekan lalu. Tiga indeks utama AS berhasil bangkit pada perdagangan Kamis setelah mengalami tekanan sehari sebelumnya akibat ketidakpastian arah kebijakan moneter.
Penguatan saham-saham sektor semikonduktor menjadi pendorong utama pemulihan pasar. Dalam sepekan, indeks S&P 500 naik hampir 1% dan membukukan pekan positif ke-11 dalam 12 pekan terakhir. Dow Jones juga menguat hampir 1%, sedangkan Nasdaq Composite melesat lebih dari 2%.
Perdagangan saham AS ditutup pada Jumat karena libur nasional Juneteenth.
Fokus utama investor pekan ini tertuju pada rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) bulan Mei yang akan diumumkan Kamis mendatang. Data tersebut merupakan indikator inflasi favorit The Fed dalam menentukan arah suku bunga.
Ekonom yang disurvei FactSet memperkirakan inflasi inti (core PCE), yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang bergejolak, akan menunjukkan kenaikan dibandingkan April.
Baca Juga
Inflasi Inti PCE AS Sentuh 3,3%, The Fed Diperkirakan Tetap Tahan Suku Bunga
Perhatian pasar terhadap data inflasi meningkat setelah pertemuan Federal Reserve pekan lalu bernada lebih hawkish. Sejumlah pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga dapat muncul secepatnya pada Oktober apabila tekanan inflasi kembali menguat.
Kepala Riset Fundstrat Global Advisors, Tom Lee, menilai sejumlah faktor berpotensi mengguncang pasar pada paruh kedua tahun ini, termasuk dampak gangguan rantai pasok global akibat ketegangan di Selat Hormuz maupun perubahan kebijakan di lingkungan Federal Reserve.
Meski mengakui risiko tersebut, Lee menilai kondisi pasar saham saat ini masih relatif kondusif.
“Kami tetap percaya bahwa pada akhir tahun akan terjadi perubahan kondisi pasar yang cukup tajam dan mungkin menyerupai pasar bearish. Namun saat ini kami belum melihat alasan untuk menyatakan pasar telah mencapai puncaknya. Kondisi masih cukup mendukung bagi saham,” ujarnya dalam program CNBC Closing Bell.
Ketahanan pasar saham AS kini akan diuji oleh kombinasi dua faktor utama, yaitu perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi harga energi dan arah inflasi AS yang menentukan langkah kebijakan moneter Federal Reserve dalam beberapa bulan ke depan.
