Bagikan

Harga Melonjak Usai Xi Jinping Sepakat Membeli Minyak dari AS

Poin Penting

Harga minyak dunia melonjak setelah Donald Trump mengklaim Xi Jinping sepakat membeli minyak mentah Amerika Serikat. Harga minyak Brent kontrak Juli naik 1,49% menjadi US$107,30 per barel, sementara WTI kontrak Juni menguat 1,55% ke level US$102,74 per barel.
Trump menyebut pengiriman minyak untuk China akan dilakukan dari Texas, Louisiana, hingga Alaska.
Selain isu perdagangan energi, pasar juga mencermati ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% distribusi minyak dan gas dunia.

JAKARTA, Investortrust.id — Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim China sepakat membeli minyak mentah Amerika Serikat menyusul pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing.

Laporan CNBC yang dipublikasikan Kamis malam (14/5/2026) waktu Amerika Serikat atau Jumat pagi WIB menyebut harga minyak Brent kontrak Juli naik 1,49% menjadi US$107,30 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni menguat 1,55% ke level US$102,74 per barel.

Kenaikan harga terjadi setelah Trump dalam wawancara dengan Fox News mengatakan China ingin mulai membeli minyak dari Amerika Serikat dan pengiriman akan dilakukan dari Texas, Louisiana, hingga Alaska.

“Mereka sepakat ingin membeli minyak dari Amerika Serikat. Mereka akan datang ke Texas dan kami akan mulai mengirim kapal-kapal China ke Texas, Louisiana, dan Alaska,” ujar Trump seusai pertemuannya dengan Xi Jinping.

Ilustrasi harga minyak naik. Foto: ANTARA-Shutterstoc

Baca Juga

Emas Turun 1% Saat Harga Minyak Naik dan Tekan Prospek Suku Bunga

Namun hingga berita ditayangkan, pemerintah China belum memberikan konfirmasi resmi terkait rencana pembelian minyak tersebut maupun menanggapi permintaan komentar dari CNBC.

Selain isu perdagangan energi, pasar juga memantau perkembangan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak global. Gedung Putih menyebut Trump dan Xi Jinping sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka demi menjaga kelancaran arus energi dunia. China juga disebut menolak militerisasi kawasan tersebut maupun rencana penerapan pungutan bagi kapal yang melintas.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa China akan membantu di belakang layar untuk mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz karena langkah tersebut sangat penting bagi kepentingan energi Beijing.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di Beijing, China, Rabu (13/05/2026), untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping. Foto: Tangkapan layar Whitehouse

Baca Juga

Dunia Menunggu Pertemuan Trump-Xi Jinping

Laporan Reuters yang terbit Kamis (14/5/2026) menyebut pejabat AS mulai membuka peluang peningkatan pembelian energi Amerika oleh China pasca pertemuan Trump-Xi di Beijing. Gedung Putih mengatakan Xi Jinping menunjukkan minat membeli lebih banyak minyak AS untuk mengurangi ketergantungan China terhadap jalur Selat Hormuz.

Reuters juga mencatat China tidak lagi mengimpor minyak mentah AS sejak Mei 2025 akibat tarif 20% yang diberlakukan dalam perang dagang kedua negara. Bahkan pada puncaknya tahun 2020, impor minyak AS oleh China hanya mencapai sekitar 395 ribu barel per hari atau kurang dari 4% total impor minyak China.

Sementara itu, media Inggris The Guardian melaporkan kenaikan harga minyak juga dipicu ketidakpastian perang Iran dan ancaman terganggunya distribusi energi global dari Timur Tengah. Harga Brent sebelumnya sempat menembus lebih dari US$105 per barel setelah Trump menolak proposal damai Iran beberapa hari lalu.

Laporan The Wall Street Journal menambahkan pasar energi kini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Selat Hormuz. Investor menilai jalur tersebut tetap menjadi titik krusial perdagangan energi dunia di tengah konflik Iran-AS-Israel yang belum mereda.

Data berbagai lembaga internasional menunjukkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia biasanya melewati Selat Hormuz. Krisis di kawasan tersebut bahkan disebut sebagai salah satu gangguan energi terbesar sejak krisis minyak 1970-an.

Blokade di Selat Hormuz oleh Iran (garis tipis) dan blokade yang dilakukan oleh militer AS di arah masuk Selat Hormuz dari Samudera Hindia (garis tebal). Foto: @IraninHyderabad
The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024