Pasar Salah Baca Perang Iran: Euforia Hormuz Berujung Jebakan
Oleh Primus Dorimulu
CEO Investortrust.id
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pasar keuangan global menunjukkan volatilitas tajam di tengah perkembangan perang Iran, seiring para investor dinilai keliru membaca arah konflik dan dampaknya terhadap stabilitas energi global, khususnya di Strait of Hormuz. Mengutip laporan CNBC yang ditulis Joseph Wilkins dan diterbitkan Senin (20/04/2026) pukul 09.29 EDT atau 20.29 WIB, para analis memperingatkan bahwa optimisme pasar saat ini berpotensi menyesatkan. Investor dinilai terlalu cepat merespons kabar pembukaan kembali Selat Hormuz, padahal kondisi di lapangan masih sangat tidak stabil dan mudah berubah.
Optimisme sempat menguat setelah Iran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz pada Jumat (18/4/2026), memicu reli pasar saham global. Indeks S&P 500 tercatat naik 4,5% dalam sepekan, sementara Nasdaq Composite melonjak 7,2% dan mencatatkan 13 hari kenaikan berturut-turut—rekor yang terakhir terjadi pada 1992.
Namun euforia tersebut hanya berlangsung singkat. Pada awal pekan ini, pasar kembali berbalik melemah setelah lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali terhenti, mencerminkan rapuhnya kondisi gencatan senjata yang akan berakhir dalam waktu dekat.
Matt Gertken, kepala strategi geopolitik di BCA Research, menilai pasar terlalu menyederhanakan dinamika konflik dengan menganggap Presiden AS Donald Trump masih sepenuhnya mengendalikan situasi. Menurutnya, asumsi tersebut keliru. “Pasar menganggap Trump bisa menaikkan dan menurunkan tensi konflik seperti konduktor orkestra. Tapi situasinya sekarang berbeda, karena Iran sudah diserang dan memiliki ambang toleransi yang lebih tinggi,” ujarnya kepada CNBC.
Baca Juga
Wapres JD Vance Sudah di Islamabad, Iran Belum Tentu Bersedia Berunding
Pandangan serupa disampaikan oleh Patrick O’Donnell, kepala strategi investasi di Orbis Investments. Ia menilai pasar terlalu optimistis dengan pendekatan “setengah gelas penuh”, tanpa mempertimbangkan ketidakpastian mendasar, khususnya terkait apakah Selat Hormuz benar-benar akan kembali dibuka secara berkelanjutan.
Padahal, jalur ini dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan berulang di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak jangka panjang terhadap ekonomi global dan pasar keuangan.
Sementara itu, Deutsche Bank juga mengingatkan investor untuk tidak terjebak dalam optimisme semu. Kepala riset makro mereka, Jim Reid, membandingkan situasi saat ini dengan awal perang Rusia-Ukraina pada 2022.
Saat itu, pasar sempat reli lebih dari 10% karena harapan penyelesaian cepat, namun kemudian justru berbalik tajam. Indeks S&P 500 akhirnya turun sekitar 25% dari puncaknya dan mencatat penurunan tahunan sebesar 19%—yang terburuk sejak krisis keuangan 2008. “Episode tersebut adalah peringatan yang jelas,” tulis Reid.
Dengan gencatan senjata Iran-AS yang akan berakhir pada Selasa (22/4/2026), para analis menilai risiko kesalahan membaca pasar semakin besar. Ketidakpastian geopolitik, ditambah dinamika militer di Selat Hormuz, membuat arah pasar sangat bergantung pada perkembangan konflik dalam waktu sangat singkat.
Dalam kondisi seperti ini, pasar global tidak hanya menghadapi volatilitas jangka pendek, tetapi juga ancaman disrupsi yang lebih dalam jika konflik kembali memanas.

