Bagikan

Hidup Itu ‘Nothing to Lose’ Saja

Poin Penting

William Sutanto membuktikan bahwa status drop out kuliah dan sifat introver bukan penghalang untuk sukses mendirikan platform kripto terbesar di Indonesia.
Menjalani hidup tanpa beban dan terus belajar secara autodidak menjadi kunci ketangguhannya dalam menghadapi dunia bisnis yang keras.
Baginya, kesuksesan sejati diukur dari kebermanfaatan bagi orang lain, serta komitmen menjaga kejujuran dan sikap rendah hati (humble).

INVESTORTRUST.ID – Siapa sangka William Sutanto adalah seorang introver yang kerap dirundung rasa minder? Introver, pernah putus kuliah, dan berasal dari kampung dengan latar belakang ekonomi pas-pasan sempat membuat William akrab dengan sifat inferior dan meragukan kemampuan diri sendiri.

Toh William Sutanto akhirnya berhasil membuktikan bahwa introver dan rasa minder bukanlah penghalang untuk menjadi entrepreneur dan merengkuh kesuksesan.

Nyatanya, pria kelahiran Weleri, Kendal, Jawa Tengah ini berhasil mendirikan dan membesarkan sejumlah perusahaan, salah satunya Indodax, platform jual beli (exchange) aset kripto pertama dan terbesar di Indonesia.

“Saya ini introver, dulu saya gampang minder. Saya ini kan orang kampung, waktu kecil mainnya di sawah, di sungai, manjat pohon kelapa, nyolong tebu. Apalagi saya sempat putus kuliah karena orang tua nggak sanggup membiayai,” tutur William.

Introver, minder, inferior, drop out (DO) dari bangku kuliah, dan berasal dari keluarga pas-pasan justru menjadi kekuatan William untuk mengarungi dunia bisnis yang keras, cepat, dan susah diduga. Berbekal sifat-sifat alami yang dimilikinya, William Sutanto menjadi pribadi yang tangguh tetapi tidak ngoyo, tetap humble (rendah hati), dan berupaya menjunjung tinggi integritas.

Kesederhanaan William Sutanto juga tecermin pada filosofi hidupnya yang sangat simple bahwa kehidupan ini harus dijalani tanpa beban (nothing to lose). “Saya cuma berupaya jalanin hidup saja. Terus berusaha lebih baik hari ini dari hari sebelumnya. Hidup itu nothing to lose saja,” kata dia.

Kunci sukses lain William Sutanto adalah kemauannya yang kuat untuk belajar. Sesibuk apa pun, ia selalu menyempatkan diri untuk membaca buku. “Selain baca buku, saya juga suka sekali mendengarkan podcast,” ujar penggemar podcaster asal Amerika Serikat (AS), Lex Fridman yang dikenal sebagai ilmuwan komputer dan peneliti kecerdasan buatan (AI) tersebut.

William Sutanto punya definisi sendiri tentang kesuksesan. Bagi pria bersahaja ini, seseorang baru bisa dikatakan sukses jika sudah berguna dan mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Sukses tidak bisa diukur dengan uang, jabatan, posisi, atau hal-hal lainnya yang bersifat materiel.

William sendiri mengaku belum sukses. “Saya ngerasa kalau mampu, ya mampulah. Cuma kalau sukses sekali, ya masih banyaklah yang lebih sukses,” tandas dia.

Apa lagi kunci keberhasilan William Sutanto? Bagaimana ia bisa menghilangkan rasa minder? Mengapa ia menganjurkan agar generasi muda menjadi spesialis sekaligus generalis? Berikut penjelasan lengkap Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Indodax itu kepada jurnalis investortrust.id, Taufiq Al Hakim, Lona Olavia, Mohammad Defrizal, dan Abdul Aziz di Jakarta, baru-baru ini:

Perjalanan karier Anda dimulai dari mana?

Saya menamatkan SMA di SMA Kolese Loyola Semarang. Saya kemudian kuliah di Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. Ambil jurusan Ilmu komputer. Pas semester III, saya DO (drop out) karena orang tua tidak sanggup lagi membayar uang kuliah. Kemudian saya memutuskan cuti.

CEO Indodax, William Sutanto. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal

Apa yang Anda lakukan setelah berhenti kuliah?

Pulang kampung, ke Weleri (sebuah kecamatan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah). Saya coba ngulik, cari uang secara online. Jadi, salah satu usaha saya dulu di bidang internet marketing. Itu setelah saya DO dari kuliah, sekitar tahun 2007. Komputernya waktu itu masih jadul, yang ada tabungnya, tebal banget. Internetnya lambat, masih pakai GPRS (General Packet Radio Service). Masih Pentium 4 kalau tidak salah.

Skill saya memang ilmu komputer, jadinya bisnis pun nggak jauh-jauh dari komputer, ngulik online. Karena tidak bisa kuliah, saya berusaha cari uang lewat internet. Ternyata berhasil. Saya bisa dapat dolar AS waktu itu. Saya membuat blog, membuat website. Kemudian cari traffic sebanyak mungkin. Terus, saya pasang iklan di situ. Dari iklan itulah saya dapat dolar.

Saya ‘main’ AdSense (layanan Google yang memungkinkan pemilik situs web atau konten online menghasilkan uang dengan menampilkan iklan di halaman mereka). AdSense dulu lumayan tuh. Saya main AdSense pada 2007-2008. Pernah mencapai US$ 1.000 per bulan, bahkan US$ 8.000 per bulan. Lumayan gede kan? Rp 100 juta lebih waktu itu. Saya bisa beli mobil, kontrak rumah, segala macam.

Berarti Anda tidak pernah bekerja di perusahaan orang lain?

Betul, saya nggak pernah bekerja di orang lain. Begitu DO kuliah, saya buka usaha sendiri.

Cerita mendirikan Indodax?

Saya dan Oscar (Oscar Darmawan, salah satu pendiri dan pemilik saham Indodax) berasal dari SMA yang sama, yaitu SMA Kolese Loyola Semarang. Tapi waktu SMA kami tidak berteman, bahkan tidak saling kenal. Oscar lebih senior satu tahun, kakak kelas. Saya kenalnya sama adiknya malah.

Kami baru benar-benar kenal setelah menjadi alumni. Waktu itu ada sebuah forum internet, namanya kolosloyola.com. Di situ kami baru bertemu. Oh, ternyata ada yang namanya Oscar yang juga mengerjakan IT (information technology). Dia bekerja di Singapura, sedangkan saya di Semarang.

Nah, kami ngobrol-ngobrol. Ternyata ada yang bisa dikolaborasikan. Dari situlah kami bikin perusahaan, bikin PT (perseroan terbatas) bareng. Oscar di Singapura yang jualan. Saya di Semarang. Kemitraan kami berlanjut, sampai akhirnya mendirikan Indodax.

Background saya kan IT, tapi saya introver, saya tidak suka tampil. Saya bilang ke Oscar, gimana kalau kamu jadi CEO-nya. Saya yang bikin sistem, bikin produk. Pada Februari 2014, kami bikin PT-nya, PT Bitcoin Indonesia, kemudian kami jalan bareng. Nah, baru tahun kemarin kami bertukar posisi. Per Mei 2025, saya menggantikan posisi Oscar sebagai CEO.

CEO Indodax, William Sutanto. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal

Berapa lama proses mendirikan perusahaan?

Saya membuat Bitcoin Indonesia hanya dalam waktu satu bulan. Saya program sendiri, bikin sistem sendiri, kemudian dibuatkan press release. Sebetulnya kami bertiga. Saya, Oscar, dan Pak Ricky. Tapi dengan berjalannya waktu, Pak Ricky memutuskan untuk exit. Sahamnya dijual kepada investor yang lain. Sekarang tinggal saya dengan Oscar di perusahaan.

Perusahaan apa saja yang telah Anda dirikan?

Sebelum Indodax, saya mendirikan Bumi Intermedia. Sebelum itu, kami mendirikan Adsindo Lingkar Media. Semuanya berhubungan dengan komputer, internet atau IT. Belakangan, saya juga mendirikan Blockdev.id, lalu saya bersama Oscar mendirikan BPR Dana Karya Nusa dan Ayobantu.com (donasi online). Selain itu, saya mendirikan Bali Top Changer (money changer).

Khusus tentang Blockdev.id, itu situs berbasis komunitas. Saya melihat kebanyakan komunitas kripto hanya mendiskusikan bagaimana trading kripto saja atau investasi kripto saja. Tidak ada komunitas yang membicarakan bagaimana caranya menciptakan sesuatu yang keren menggunakan blockchain.

Nah, saya berinisiatif membuat komunitas Blockdev.id. Sampai sekarang masih jalan. Tujuannya untuk meliterasi masyarakat. Siapa pun bisa masuk. Ini bagi yang tertarik untuk belajar lebih dalam tentang blockchain, bagaimana menjadi entrepreneur di bidang blockchain. Kalau mereka mau berdagang, silakan ke Indodax. Members-nya sekarang sekitar 1.000 orang.

Kami sudah bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan Bank Indonesia (BI), dengan Kementerian Komdigi, untuk membantu mereka membuat event-event di Indonesia.

CEO Indodax, William Sutanto. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal

Kenapa tertarik membuat BPR?

Ini usaha kami dulu ketika kripto belum diakui oleh negara. Jadi, kami berupaya mengakuisisi atau mendaftarkan lisensi ke semua vertikal yang kira-kira berhubungan dengan industri kripto. Makanya kami punya BPR, punya money changer, dan sempat punya SCF (security crowdfunding/layanan urun dana). Kira-kira mana yang bisa berhubungan dengan kripto, kami daftarkan izinnya, siapa tahu nanti ke depannya berguna.

Bagaimana kelanjutan pendidikan Anda?

Setelah punya uang dan pindah ke Jakarta, baru saya melanjutkan kuliah di Binus (Bina Nusantara University) sampai tamat. Saya ambil jurusan Bisnis Manajemen, lulus tahun 2022. Karena, walaupun punya uang, punya wealth, tapi kalau tidak punya ijazah S1, saya tidak bisa lanjut dan agak susah ya. Kecuali memang di zaman-zaman generasi lalu.

Dari situ, saya kemudian ke luar negeri, ke AS, belajar di Stanford Graduate School of Business, ambil Executive Program selama dua bulan. Untuk melengkapi saja, karena saya melihat persaingan di dunia digital di Indonesia bukan kaleng-kaleng. Teman-teman kompetitor rata-rata jebolan Harvard Business School, Stanford, dan lain-lain.

Mau nggak mau, saya harus mengimbangi. Saya coba menyusul. Oh, ternyata kuliah di Stanford atau di salah satu universitas terbaik di dunia tuh rasanya seperti itu. Jadi, sudah bisa merasakan suasananya. Sekarang harga diri sudah terbangun.

Anda kuliah ilmu komputer hanya sampai semester III, selebihnya autodidak?

Ya, saya pelajari ilmu komputer secara autodidak sebetulnya. Saya kan kuliah programmer hanya sampai semester III. Saya selesaikan sendirilah. Saya belajar saja lewat buku, lewat online.

CEO Indodax, William Sutanto. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal

Tidak takut gagal waktu mendirikan perusahaan?

Pokoknya bangun saja. Ada masalah, saya selesaikan dengan baik. Muncul lagi masalah, saya selesaikan dengan baik. Begitu saja seterusnya. Seiring berjalannya waktu, saya juga mesti belajar, dong? Karena perusahaan kan mengalami multi stages. Yang dari angka 0 ke angka 1, itu challenge-nya berbeda dengan sekarang. Dari 1 ke 1.000 lebih berbeda lagi. Mau nggak mau harus belajar leadership, strategi perusahaan, culture, dan lain-lain.

Menurut Anda, expertise seperti apa yang harus dimiliki seorang entrepreneur?

Menjadi spesialis sekaligus generalis. Spesialisasi dulu di hard skill. Tekuni, kerjakan apa yang bisa kita kerjakan. Kemudian setelah take off, mulai berhasil, baru mengasah skill yang lain. Saya percaya bahwa kita harus menjadi spesialis sekaligus generalis.

Kalau saya kebetulan spesialisasi awalnya di pemrograman, saya menguasai coding. Tapi cabang ilmu yang lain saya tahu secara general. Hukum juga saya tahu, pajak pun lumayan tahu, begitu pula keuangan.

Saya juga belajar leadership, bahkan sampai psikologi pun saya belajar, saya baca buku textbooks kuliah. Ekonomi belajar dikit-dikit, finansial belajar dikit-dikit. Ya karena untuk menjadi leader kan kita harus tahu semuanya. Jangan sampai kita dibodohin orang.

Apa sebetulnya modal dasar untuk menjadi entrepreneur?

Saya nggak menyarankan juga bahwa anak-anak muda sekarang harus memaksakan diri, harus jadi entrepreneur, karena memang berat. Berat maksudnya secara mental, secara tanggung jawab, jauh lebih berat dibanding bekerja (menjadi karyawan di perusahaan orang lain).

Jadi, sebenarnya kembali ke masing-masing sih, nggak harus jadi entrepreneur. Cuma kalau memang mau jadi entrepreneur, ya pertama mesti sadar dulu bahwa ini perjalanan yang berat. Di titik saya pun, sekarang saya lagi stres-stresnya. Bukan berarti kayak sekarang bisa punya banyak hal, terus ongkang-ongkang kaki, nggak. Ternyata tekanannya meningkat terus.

Bagi yang ingin sukses berkarier atau menjadi entrepreneur, bacalah buku yang banyak, terutama buku-buku filsafat atau sastra karena di sana banyak diceritakan pengalaman filosofis seseorang. Itu bisa membuat kita berpikir ulang tentang kita, hidup itu harus ngapain, termasuk dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, juga bagaimana kita menentukan sikap dalam hidup.

Lalu cari mentor, tapi mentor yang benar. Saya suka cari mentor walaupun saya nggak ngomong sama orangnya. Di dalam hati saya catat, ini mentor saya ini. Jadi, kalau ada apa-apa, kadang saya telepon, saya WhatsApp, "Yuk ngopi, Pak," sambil tanya-tanya. Selain itu harus punya integritas dan humility.

CEO Indodax, William Sutanto. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal

Kesimpulan dari perjalanan karier Anda?

Integritas (kualitas moral seseorang yang menunjukkan kejujuran, konsistensi antara perkataan dan perbuatan, serta berpegang teguh pada nilai dan prinsip yang benar) adalah segalanya. Apa yang saya ucapkan, itulah apa yang saya lakukan.

Kalau ditanya bagaimana saya bisa berhasil di titik saya yang sekarang, saya selalu katakan bahwa ini hanya hoki saja sebetulnya. Saya berada di waktu yang tepat dan di tempat yang tepat.

Pada 2013-2014, ketika saya tahu tentang Bitcoin, perusahaan IT dan perusahaan periklanan internet yang kami dirikan itu dua-duanya sedang tidak baik-baik saja. Kemudian saya tahu tentang Bitcoin dan trennya sedang naik. Dari situ saya putuskan all out saja di bisnis ini.

CEO Indodax, William Sutanto. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal

Seberapa penting peran integritas dalam mendukung kemajuan perusahaan?

Sangat penting. Integritas itu modal utama kami untuk mendapatkan reputasi dari pemegang saham dan customer. Apalagi di industri blockchain, industri kripto. Kami terkenal transparan soalnya. Karena kan semua transaksi bisa dilihat oleh publik.

Jadi, sangat sulit bagi kami untuk memanipulasi data. Ya dari situ karakter kita memprioritaskan integritas, mau nggak mau. Industrinya memang memerlukan integritas, kemudian spirit kita sendiri selalu menjunjung integritas.

Tapi mau nyebut integritas itu harus mikir dua sampai tiga kali kan? Karena kata integritas kayak apa ya, bullshit banget ya? Terlalu mengawang-awang, kadang-kadang. Tapi emang itu faktanya. Saya agak idealis juga ya.

Bahkan, kadang saya kalau ngomong istilahnya brutal honesty (menyampaikan kebenaran secara blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling). Ngapain kita sembunyi-sembunyikan?

Mungkin karena background saya introver juga. Jadi, saya tuh susah bohong. Kalau bohong ke istri gampang ketahuan. Langsung tahu, apalagi dia background S1-nya psikologi.

Maksudnya, kalau nggak pinter bohong, ya mau nggak mau kita jujur saja, blak-blakan saja, apa adanya. Orang-orang di sekeliling kita juga kan menilai, "Oh, kalau orang ini ngomong berarti ada dasarnya, nggak ngomong sembarangan."

Integritas itu harus dijaga betul. Kalau nggak dijaga, nggak akan ada orang yang percaya sama kita, baik customer, shareholder, maupun pemerintah.

CEO Indodax, William Sutanto. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal

Berarti reputasi adalah value tertinggi?

Ya, bukan hanya personal, tapi juga perusahaan. Apalagi Indodax merupakan perusahaan finansial di industri yang baru, rite, dengan members hampir 10 juta. Reputasi menjadi krusial. Terlebih sekarang di media sosial (medsos) dikit-dikit jadi masalah. Kami mau setransparan apa pun tetap saja ada black campaign. Akhirnya saya balas pakai brutal honesty lagi.

Pernah ada yang ‘mengganggu’ reputasi Anda?

Kemarin kami diserang masalah, kan memang ada beberapa isu, terutama ada user yang kena account takeover Rp 600 juta. Walaupun ternyata setelah kita telaah, itu adalah kecerobohan nasabah, kemudian diviralkan di sosmed, kemudian ada black campaign bahwa Indodax tidak aman gitu.

Respons Anda?

Ya sudah, saya tiup POA (proof of assets). Kami kasih data saja, ngapain berargumentasi? Kasih data nih kami ada uang sekian triliun, belasan triliun, ini POA. Kami siap diaudit OJK (Otoritas Jasa Keuangan). OJK beneran melakukan audit dan kami senang.

Persoalan beres?

Waktu OJK melakukan audit, saya malah berterima kasih. Kami buka semua. Kalau orang lain kan takut diaudit, tapi kami malah senang. Saya senang. Karyawan yang stres semua. Yang ngerjain mereka, saya cuma buka acara sama tutup acara. Tidak ada yang ditutup-tutupi.

CEO Indodax, William Sutanto. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal

Anda pernah gagal?

Sering dong. PT Bumi Intermedia (perusahaan yang didirikan William Sutanto) juga kannggak ke mana-mana’. Waktu saya menekuni AdSense dan pendapatannya lumayan, tiba-tiba ada banned massal, sebagian penghasilan saya kepotong. Itu juga sempat membuat saya terpukul.

Anda mudah bangkit setelah jatuh, apa rahasianya?

Nothing to lose saja. Mungkin karena background saya. Orang tua saya bukan orang mampu, nggak ada privilege. Saya dulu DO kuliah juga karena orang tua nggak mampu bayar uang kuliah. Saya nothing to lose, kalau saya nggak ngapa-ngapain, saya mau makan apa?

Definisi sukses menurut Anda?

Saya sih lebih cenderung mengatakan sukses itu kalau sudah berguna dan mendatangkan kebahagiaan bagi orang-orang sekitar, terutama orang-orang terdekatlah. Gitu saja. Saya sih nggak pernah mikir hidup harus sukses gimana-gimana. Dijalanin saja.

Anda sudah merasa sukses?

Saya ngerasa kalau mampu, ya mampulah. Cuma kalau sukses sekali, ya masih banyaklah yang lebih sukses.

Filosofi hidup Anda?

Saya cuma berupaya jalanin hidup saja. Terus berusaha lebih baik hari ini dari hari sebelumnya. Hidup itu nothing to lose saja. Dengan nothing to lose, kita akan lebih mudah, lebih tenang, dan lebih sistematis dalam mengatasi masalah. Kemudian, untuk bisa mencapai itu, sesibuk apa pun, kita tetap harus belajar, belajar terus-menerus. Baca buku sih yang paling gampang. Selain baca buku, saya juga suka sekali dengerin podcast, karena saya bisa dengerin sambil nyetir, sambil lari.

Saya suka dengerin podcast yang berat. Kalau dari luar saya suka Lex Fridman (ilmuwan komputer, peneliti kecerdasan buatan/AI, dan podcaster asal AS). Kalau di Indonesia ya Gita Wirjawan (mantan Menteri Perdagangan) dan Akbar Faisal (politikus).

Pesan Anda untuk generasi muda?

Pesan saya sih selalu jaga integritas. Terus juga selalu asah diri, baik hard skill maupun soft skill. Hard skill juga penting. Kadang orang berpikirnya cuma butuh soft skill saja.

Komunikasi, network, itu memang penting. Tapi jika kita tidak punya hard skill, apa yang mau kita jual dari diri kita? Walaupun kita punya banyak teman atau punya banyak relasi, kalau tidak ada keunggulan yang menonjol, ya susah juga untuk menjadi sukses. Satu lagi, harus tekun dan tetap humble.

CEO Indodax, William Sutanto. Foto: Investortrust/Mohammad Defrizal

Anda menerjemahkan humble seperti apa?

Rendah hati sayangnya sering disalahartikan dengan rendah diri. Saya pernah mengalaminya. Saya ini introver, dulu saya gampang minder. Saya kan orang kampung. Mau di mana pun saya berada, ya saya tetap orang kampung. Waktu kecil mainnya di sawah, di sungai, manjat pohon kelapa, nyolong tebu. Di kampung dulu, saya China sendiri, mainnya sama orang-orang kampung. Apalagi saya sempat putus kuliah karena orang tua nggak sanggup membiayai.

Terus saya pindah ke Jakarta, melihat orang-orang hebat di sini, ya minderlah. Indodax kompetitornya banyak, yang mengelola orang-orang hebat, sekolahnya hebat-hebat, ada lulusan Harvard, Stanford, dan lain-lain. Memang nggak jaminan, tapi kalau dihadapkan pasti ada rasa minder.

Di Jakarta, saya ngomong bahasa Indonesia saja medok, medok Jawa. Tapi untungnya Pak Jokowi jadi Presiden, Pak Jokowi juga medok juga kan? Ha, ha, ha

Solusi mengatasi minder, ya ditabrak saja akhirnya. Ditabrak maksudnya membiasakan diri berinteraksi, berdebat, berdiskusi. Itu sebabnya saya pergi ke Stanford, itu untuk meningkatkan kepercayaan diri, karena kepercayaan diri itu tidak bisa dibeli, mau punya uang seberapa banyak pun nggak bisa beli.

Gaya leadership Anda?

Nyantai saja. Saya nggak galak. Tapi saya kasih pemahaman kenapa mereka harus tahu cara berpikir saya. Saya mau ini karena ini-ini, saya beri framework-nya. Nah, dari situ kan nanti dibagi, ada elemen A, B, C, D, E. Masing-masing elemen saya kembalikan ke divisi masing-masing, ini kalian jabarin KPI (key performance indicator)-nya.

Mimpi Anda yang belum tercapai?

Melihat anak-anak saya bisa tumbuh dengan baik dan sehat, itu sih. Terus, saya juga masih ingin kuliah S2. Pengen banget ambil S2 kalau diperbolehkan cuti sama pemegang saham. Inginnya ambil di luar negeri.

Kegiatan Anda di waktu weekend?

Saya triatlon sudah lama, khususnya lari, sudah 10 tahun. Justru sekarang sedang dikurangi. Istri saya juga lari maraton. Saya pernah ikut event lari di London, Chicago, Tokyo, New York. Tahun ini harusnya Berlin. ***

Biodata

Nama: William Sutanto.

Pendidikan:

* Stanford Graduate School of Business (AS) - Executive Program.

* Bina Nusantara (Binus) University - S1 Manajemen Bisnis.

Karier:

* Chief Executive Officer (CEO) Indodax (2025 – sekarang).

* Co-Founder & Chief Technology Officer (CTO) Indodax (2013-2025).

* Chief Financial & Technology Officer PT Bumi Intermedia (2007-2013).

* Direktur Operasi PT Adsindo Lingkar Media (2007-2012).

* Founder Blockdev.id.

* Co-Founder BPR Dana Karya Nusa.

* Co-Founder Ayobantu.com.

* Founder Bali Top Changer.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024