Membangun Ketahanan Pangan sambil Merawat Kearifan Lokal
Poin Penting
| ● | Pentingnya melibatkan kearifan lokal dalam pertanian untuk menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan. |
| ● | Metode pertanian tradisional seperti tatanén paranti karuhun mengutamakan keselarasan antara alam dan manusia. |
| ● | Penerapan teknologi modern secara bijaksana dapat memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan nilai-nilai budaya dan alam. |
INVESTORTRUST.ID - Kabut pekat menyelimuti puncak Gunung Halimun, Sabtu (13/12/2025). Angin malam yang berembus kencang mengempaskan awan-awan lembap itu ke lereng dan ngarai. Sebagian lenyap di kegelapan, sebagian lagi menyelinap ke rumah-rumah warga di perkampungan adat Kasepuhan Gelar Alam, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Dalam dekapan suhu 15 derajat Celsius, kampung yang berlokasi di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun–Salak (TNGHS) itu belum tertidur. Lampu neon mikrohidro masih berpendaran di rumah-rumah panggung sederhana beratap daun rumbia, berdinding anyaman bambu.
Menjelang tengah malam, di rumah adat utama, di sebuah ruangan khusus, seorang pria muda berpakaian serba hitam duduk bersila di kursi besar. Asap rokok sesekali berembus dari sela-sela bibirnya. Pria berkulit putih yang wajahnya ditumbuhi kumis, cambang, dan janggut itu dikelilingi tumpukan buku, sebilah golok, miniatur lumbung padi, busur, dan sejumlah anak panah.
Tak jauh dari ‘singgasana’-nya, tampak dua buah gitar listrik, satu gitar akustik, drone, dan seperangkat personal computer (PC) yang belum selesai dirakit. Lusinan foto, trofi, dan piagam memenuhi ruangan yang didominasi warna cokelat.
Pria itu tiada lain Abah Ugi, pemimpin adat Kasepuhan Gelar Alam. “Kami menanam padi untuk kehidupan. Kebanyakan yang menanam di luar mungkin untuk ekonomi. Beda kan? Menanam untuk ekonomi harus untung. Kalau Abah di sini menanam untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” kata Abah Ugi dalam logat Sunda yang kental, saat menerima tim investortrust.id di kediamannya, Sabtu tengah malam (13/12/2025).
Kampung Kasepuhan Gelar Alam sudah lama dikenal sebagai kampung adat yang mempraktikkan sistem pertanian kuno bernapaskan spiritualitas dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Abah Ugi merupakan generasi ke-10 dari garis keturunan Abah Anom. Leluhur mereka memulai tradisi kasepuhan sejak zaman kerajaan Sunda kuno.
Pria bernama lengkap Ugi Sugiana Rakasiwi ini memimpin Kasepuhan setelah ayahnya, Abah Anom (Encup Sucipta) wafat pada 2001. Semula, Abah Ugi memimpin Kasepuhan Cipta Gelar yang diwariskan pendahulunya. Empat tahun lalu, ia berpindah tempat untuk memimpin Kasepuhan Gelar Alam yang berlokasi hanya beberapa kilometer dari Kasepuhan Cipta Gelar.
Tradisi yang paling dipegang teguh Abah Ugi yaitu Tatanén Paranti Karuhun (istilah bahasa Sunda yang berarti bertani ala leluhur atau cara bertani menurut tradisi dan kearifan nenek moyang). “Kalau bidang lain kan masih bisa dikompromikan. Tapi pertanian padi sudah bersifat final, tidak bisa ditawar-tawar,” tegas pria berpembawaan ramah dan humanis tersebut.
Berkat nilai-nilai tradisi yang terus dipegang teguh itu, masyarakat Kasepuhan Gelar Alam tak pernah kekurangan beras. Malah, mereka selalu surplus. Buktinya, lumbung padi (leuit) mereka selalu terisi penuh. Bahkan masih ada padi yang tersimpan di leuit selama 300 tahun lebih. Maklum, warga Kasepuhan sudah menerapkan sistem pertanian kuno secara turun-temurun selama 657 tahun.
Kasepuhan Gelar Alam berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Kampung adat ini berlokasi di lereng Gunung Halimun yang puncaknya memiliki ketinggian 1.929 mdpl. Kasepuhan Gelar Alam berjarak sekitar 17 km dari Desa Sirnaresmi, dengan waktu tempuh 2 jam menggunakan kendaraan roda empat. Adapun Desa Sirnaresmi berjarak 105 km dari Kota Sukabumi, dengan waktu tempuh 4 jam.
Jalanan curam, berkelok, mendaki, sempit, licin, dan terjal dengan kemiringan 45 derajat menjadikan perjalanan menuju lokasi sungguh menantang. Tak semua kendaraan bisa menjajal track tersebut. Sekitar 90% jalan menuju Kasepuhan Gelar Alam sama sekali tak beraspal, hanya berupa bongkahan dan pecahan batu kali yang diratakan. Masyarakat setempat membangunnya secara swadaya.
Suku Badui dan Kasepuhan
Rupanya, masyarakat Kasepuhan Gelar Alam masih bertali-temali dengan suku Badui yang mendiami wilayah Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.
Syahdan, semasa kerajaan Pajajaran dulu, tetua suku Badui mendapat tugas sebagai menteri pertahanan, sedangkan tetua Kasepuhan diberi tugas sebagai menteri pertanian. ‘Tugas’ itu masih dilaksanakan secara turun-temurun hingga kini.
Jika suku Badui sama sekali menolak teknologi, Kasepuhan Gelar Alam lebih ramah teknologi, sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pelestarian alam dan tidak menabrak atau berseberangan dengan nilai-nilai yang diwariskan para karuhun (nenek moyang).
“Abah sampai sekarang masih mencari tahu teknologi apa aja sih yang bisa membantu dan mendukung masyarakat di Kasepuhan. Ternyata tidak semuanya dilarang. Beberapa hal, kalau kita tertib secara aturan adat, itu bisa digunakan, misalnya listrik, mobil, dan sepeda motor,” tutur Abah Ugi.
Khusus pada pertanian padi, Kasepuhan Gelar Alam melarang penggunaan teknologi. Larangan yang disampaikan secara lisan dan turun-temurun itu berlaku dari mulai menanam padi, sampai mengolahnya menjadi beras dan nasi.
“Itu yang dijaga benar-benar dari zaman dulu sampai sekarang, istilahnya tidak boleh diganggu gugat. Contohnya saat menanam padi, kami harus melakukannya secara tradisional. Dari zaman dulu sampai sekarang, kami nggak boleh pakai traktor,” ujar dia.
Meski demikian, tak berarti penggunaan traktor sama sekali dilarang. ”Boleh sih traktor digunakan, tapi jangan untuk pertanian padi. Untuk kebun saja, misalnya untuk memproduksi sayur-sayuran. Kalau kepepet banget, ya apa boleh buat, baru bisa digunakan,” papar dia.
Abah Ugi mengaku masih terus mencari keseimbangan antara tradisi dan nilai-nilai leluhur dengan teknologi yang berkembang saat ini.
“Almarhum ayah Abah punya gaya sendiri, begitu pula kakek. Yang paling banyak memasukkan teknologi itu Abah. Kalau almarhum ayah mungkin internet, telekomunikasi lewat HT (handy talky). Kalau Abah kan internetnya masuk, TV-nya masuk, komunikasinya masuk,” ucap dia.
Oleh para tokoh Kasepuhan Gelar Alam, Abah Ugi sempat dituduh merusak adat gara-gara membawa komputer dan menggunakannya di lingkungan Kasepuhan.
“Sempat jadi ‘tersangka’. He, he, he... Dulu kan nggak ada teknologi. Pada tahun 2001, Abah pertama kali punya komputer, dibawa ke sini. Ingin tahu aja kenapa nggak boleh digunakan. Abah kan 'pemberontak',” tutur dia.
Rasa penasaran Abah Ugi akhirnya terobati. Berbagai kejadian ganjil bermunculan. Komputer miliknya tak bertahan lama. Setelah dua minggu, komputer baru itu rusak, tidak berfungsi. Ia kemudian membawanya ke Bandung untuk diservis.
“Setelah sampai Bandung, nggak apa-apa, normal. Aneh-aneh nih, ada kejanggalan. Dari situlah kita menggali lebih jauh. Kesimpulannya, mungkin secara tatanan adat belum selaras,” kata Abah Ugi.
Contoh lain adalah kamera digital. Pada tahun 2000-an, kamera digital terbilang canggih. Abah Ugi pun membelinya karena saat itu ia kerap mendokumentasikan kegiatan-kegiatan adat di Kasepuhan. Kejadian ganjil kembali muncul.
“Abah gunakan di sawah. Nggak permisi nggak apa, Abah pakai langsung, asal jepret aja. Namanya juga anak muda. Gambarnya jadi aneh. Sepotong gambarnya ada di foto pertama, sepotongnya lagi ada di foto kedua. Kenapa ini? Mungkin menurut karuhun belum selaras,” ujar dia.
Hal serupa terjadi tatkala Abah Ugi menggunakan teknologi global positioning system (GPS) untuk pemetaan wilayah adat. Di beberapa titik, GPS itu error, tidak berfungsi.
“Makanya ada ritual khusus adat untuk menyelaraskan itu. Antara analog yang zaman dulu dengan teknologi kekinian. Alhamdulillah sekarang bisa digunakan. Tapi kadang-kadang di beberapa titik masih error,” tandas Abah Ugi, yang pernah kuliah di sebuah sekolah tinggi ilmu kesehatan di Sukabumi, namun tak sampai tamat.
Pertanian Nomaden
Para penerus Kasepuhan Gelar Alam memiliki tradisi ngalalakon (nomaden). Hanya saja, mereka berpindah tak jauh dari lokasi awal. Contohnya Abah Ugi. Ia hijrah dari Kasepuhan Cipta Gelar ke Kasepuhan Gelar Alam yang masih dalam satu kawasan.
Saat membuka lahan pertanian atau perkampungan baru, mereka tetap mengedepankan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. Misalnya tidak sembarangan membabat hutan dan hanya mencetak sawah di lokasi-lokasi yang tidak berpotensi memicu longsor atau banjir.
Tradisi hijrah ternyata dilakukan untuk pemerataan masyarakat, baik dari sisi ekonomi, sisi sosial, maupun dari sisi persebaran penduduk. “Jadi, istilahnya adil untuk masyarakat. Dengan ngalalakon, kami bisa membangun daerah-daerah masyarakat adat, khususnya di lokasi yang masih terpencil,” ujar dia.
Tak kalah penting, ngalalakon adalah tradisi untuk mempertahankan pola pertanian padi berbasis alam yang diwariskan secara turun-temurun. “Padi yang ditanam itu kan diregenerasikan turun-temurun dari zaman dulu. Yang dicari adalah lahan subur. Kalau sudah tidak subur, pasti kami bergeser, mencari tanah yang subur,” tegas dia.
Hijrah atau ngalalakon tak bisa dilakukan sembarangan. Mereka pindah tempat berdasarkan wangsit alias petunjuk para leluhur. “Kalau dari leluhur sudah memberi wangsit harus pindah, ya kapan pun harus pindah. Walaupun tanahnya masih subur, masih betah di situ, tetap harus pindah,” ucap dia.
Peta tutupan lahan Kasepuhan Gelar Alam terkonsentrasi di Dusun Sukamulya, Cipulus, dan Situmurni, dengan luas sawah 289 hektare, talun (hutan perawan) 562 hektare, perkampungan 26 hektare, dan hutan garapan 173 hektare.
Kasepuhan Gelar Alam memiliki sedikitnya 168 varietas padi. Varietas-varietas unggul itu terus dikembangkan. “Kami tidak punya profesor atau doktor ahli padi. Kami cukup mengembangkannya bersama alam. Misalnya saat menanam dua varietas berbeda di lokasi yang bersebelahan, kadang-kadang muncul varietas baru,” kata Abah Ugi.
Kasepuhan Gelar Alam dan Cipta Gelar tidak sendiri. Masih di kaki dan belahan lereng Gunung Halimun lainnya terdapat beberapa Kasepuhan yang masih memiliki pertalian darah dengan Abah Ugi, yaitu Kasepuhan Sinar Resmi yang dipimpin Abah Asep, Kasepuhan Cipta Mulia yang dipimpin Abah Hendrik, dan Kasepuhan di Cihaneut, Kabupaten Lebak yang dipimpin Abah Epi.
“Kami masih bersaudara, tapi kami punya kebijakan dan gaya kepemimpinan yang berbeda-beda,” tutur Abah Ugi.
Dibanding Kasepuhan lainnya, Kasepuhan Gelar Alam paling banyak pengikutnya. Tak hanya di lereng dan kaki Gunung Halimun, pengikut Kasepuhan Gelar Alam tersebar di berbagai daerah, terutama di sekitar Sukabumi, Bogor, dan Lebak. Jumlah totalnya sekitar 30 ribu orang.
“Mereka rutin datang ke sini, setidaknya setahun sekali, untuk bersilaturahmi,” kata Aki Koyod (65), orang kepercayaan Abah Ugi yang khusus membidangi pertanian.
Jika dipetakan, masyarakat Kasepuhan Gelar Alam terbagi atas dua kelompok, yaitu warga ‘dalam’ dan warga ‘luar’. Warga dalam adalah warga yang masih menetap di kampung adat. Mereka masih menanam padi, mengikuti aturan adat, dan bermasyarakat ala Kasepuhan. Adapun warga luar sudah tidak lagi hidup dalam tradisi dan aturan adat.
“Warga luar menetap di luar Kasepuhan. Mereka tidak menanam padi. Ada yang tinggal di Jakarta, Bandung, Aceh, Medan, dan daerah-daerah lainnya, bahkan ada yang menikah dengan orang Papua dan tinggal di sana,” ujar Aki Koyod.
Sudah 657 Tahun
Konon, sistem pertanian kuno diterapkan di Kasepuhan secara turun-temurun sejak tahun 1368. Alhasil, sistem pertanian berbasis kearifan lokal itu sudah berusia 657 tahun.
Diam-diam, sudah banyak pula warga biasa yang menggunakan varietas-varietas made in Kasepuhan Gelar Alam. Bahkan, tak sedikit pengelola pesantren dan sekolah di sejumlah daerah yang datang untuk berkonsultasi dan meminta bibit padi. Mereka antara lain datang dari Bandung, Kuningan, Yogyakarta, Surabaya, dan Jombang.
“Mereka bilang meminjam dulu, nanti dikembalikan setelah panen dan disemai lagi. Tentu kami kasih karena ini untuk faedah bersama,” kata Abah Ugi.
Ada pula pegawai kementerian atau instansi pemerintah yang datang ke Kasepuhan Gelar Alam untuk berdiskusi dan berkonsultasi tentang bercocok tanam, khususnya padi. ”Bahasanya ketahanan pangan. Mereka ingin tahu konsep Abah seperti apa. Mereka bilang, wah, saya pulang dari sini harus bikin lumbung padi untuk di desa, di kecamatan. Baru itu aja konsep mereka. Cuma, isi lumbungnya dari mana, ya jangan tanya Abah, he, he, he..,” papar Abah Ugi.
Dalam menanam padi, masyarakat Kasepuhan Gelar Alam hanya menggunakan pupuk kandang atau kompos, tak menggunakan pupuk kimia. Mereka tak fanatik terhadap satu varietas. Soalnya, masing-masing varietas memiliki karakteristik sendiri-sendiri.
“Tiap tempat berbeda sendiri. Semua unggul, tergantung tempatnya. Setiap varietas tak bisa ditanam di semua tempat. Kami trial and error, ada juga yang gagal,” ucap dia.
Abah Ugi berharap Indonesia bisa membangun ketahanan pangan, seperti masyarakat Kasepuhan Gelar Alam memenuhi kebutuhannya. “Mudah-mudahan Indonesia subur makmur, jangan sampai mengimpor beras lagi. Harusnya kita yang ekspor beras, dong,” tegas dia.
Abah Ugi percaya, Indonesia yang dikaruniai tanah subur bisa berswasembada, bukan saja beras, tapi juga komoditas pangan lainnya. “Kan ada peribahasa ‘lempar tongkat di batu jadi tanaman’. Kalau sampai impor, isin (malu) Abah mah, kenapa Indonesia nggak bisa seperti negara lain, bisa ekspor,” ujar dia.
Abah Ugi wanti-wanti mengingatkan bahwa panen padi sekali setahun adalah upaya manusia menjaga keseimbangan alam. “Supaya sari-sari makanan di dalam tanah untuk tumbuhan tidak terus kita sedot. Tanah juga ingin istirahat, sama dengan kita. Jadi, harus ada jeda, diganti dulu dengan tanaman yang lain,” tegas dia.
Dengan menerapkan sistem pertanian kuno, masyarakat Kasepuhan Gelar Alam rata-rata menghasilkan 8 ton gabah kering per hektare setiap panen. Angka itu jauh di atas rata-rata hasil panen padi nasional yang mencapai 5 ton gabah kering giling (GKG) per hektare. “Rugi-ruginya itu di 5 ton,” jelas Abah Ugi.
Uniknya, tak semua hasil panen dikonsumsi atau digunakan sendiri. Padi atau beras yang dihasilkan masyarakat Kasepuhan Gelar Alam juga tak boleh diperjualbelikan. "Kalau meminjam boleh, nanti diganti. Kalau mau makan silakan, siapa pun boleh menumpang makan di rumah warga, gratis," tutur Wawan (65), pensiunan guru SD yang beristrikan warga setempat dan telah menjadi warga Kasepuhan Gelar Alam.
Masyarakat Kasepuhan Gelar Alam umumnya menggunakan 60% padi hasil panen untuk dikonsumsi dan disimpan di leuit sebagai stok sesuai kebutuhan masing-masing keluarga. Sisanya yang 40% dibagi lagi, yakni untuk upacara adat, sedekah yatim piatu, fakir miskin, dan untuk pemerintahan, misalnya untuk konsumsi kegiatan pembangunan fasilitas umum atau sosial.
“Ada jatah alam juga di situ. Jadi, ada jatah adat istiadat, ada jatah yatim piatu dan fakir miskin, ada pula jatah untuk pemerintahan, misalnya untuk membangun jalan. Selain itu ada jatah alam. Tikus atau hama itu termasuk jatah alam," papar Abah Ugi.
Ada Ritual Khusus
Yang pasti, ada ritual-ritual khusus yang dijalankan masyarakat Kasepuhan Gelar Alam selama proses produksi padi. Sebelum menanam padi, misalnya, mereka harus membaca rasi bintang, yaitu Bintang Kerti dan Bintang Kidang.
Bintang Kerti adalah petunjuk untuk menyiapkan alat atau perkakas pertanian. Sedangkan Bintang Kidang merupakan petunjuk waktu untuk menanam benih padi. Bintang Kerti dan Bintang Kidang dapat dilihat jelas dengan mata telanjang pada jam 02.00 hingga jam 04.00 (dini hari). Kedua rasi bintang ini muncul selama enam bulan. Tenggelamnya pun selama enam bulan.
Jadwal menanam padi berdasarkan rasi bintang inilah antara lain yang membuat sawah di Kasepuhan Gelar Alam jarang diserang hama, termasuk hawa tikus, serta tetap subur dan produktif, menghasilkan padi-padi berkualitas.
Selain menanam padi di sawah irigasi dengan mengandalkan air yang mengalir secara alami dari puncak Gunung Halimun, warga Kasepuhan Gelar Alam juga menanam padi di huma. Mereka melakukannya di tebing-tebung curam yang tak terjangkau aliran air.
Adapun hari menanam padi dilaksanakan sesuai hari lahir yang menanam padi. Warga tidak akan menanam padi jika ketua adat belum menanam. Maka Abah Ugi adalah orang yang pertama menanam padi.
Terdapat lima ritual yang dilakukan saat menanam padi. Pertama adalah nyacar, yakni membersihkan ladang huma yang bakal ditanami benih padi dengan cara memotong rumput, membersihkan semak belukar, memotong pepohonan kecil yang tumbuh liar, serta memotong dahan dan ranting agar lahan kelak mendapatkan sinar matahari yang cukup.
Tahap selanjutnya adalah ngahuru, yaitu kegiatan membakar rerumputan, serta memotong semak belukar dan pepohonan kecil. Setelah itu dilakukan ritual salametan yang diyakini sebagai penyempurna kegiatan, mengingat pada kegiatan ngahuru ada ekosistem yang terganggu, seperti semut, ulat, belalang, capung, kupu-kupu, dan makhluk hidup lainnya.
Ritual ketiga yaitu ngerukan atau membuat sesajen, dilanjutkan dengan ritual caruta-carita berupa kegiatan meminta izin kepada orang tua yang masih ada dan yang sudah meninggal (leluhur). Ritual terakhir dari menanam padi adalah ngaseuk, yaitu menanam benih padi. Sebelum menanam padi, masyarakat terlebih dulu membuat pungpuhunan yang merupakan simbol dari tempat di mana 'ibunya padi' ditanam.
Manakala padi mulai tumbuh, ada ritual yang disebut salamet sapangjadian (kondisi padi baru tumbuh), dengan membuat sajian bubur sumsum untuk tetangga sekitar. Setelah itu dilakukan aktivitas ngored, yaitu membersihkan tumbuhan, seperti rumput di sekitar padi sampai padi mulai tumbuh biji.
Masih ada seabrek ritual lainnya selama tahapan menanam, merawat, hingga memanen padi, bahkan sampai padi disimpan di lumbung (leuit). Intinya, ritual-ritual bermakna filosofis tersebut dijalankan untuk menunjukkan bahwa manusia dan alam harus berdampingan secara harmonis, saling menghormati dan menghargai.
Faktanya, padi yang diproduksi warga Kasepuhan Gelar Alam bisa tahan hingga ratusan tahun. Saat dikeluarkan dari lumbung untuk dikonsumsi, padi-padi itu ditumbuk di lesung, menggunakan alu, untuk memisahkan kulit (gabah) dengan beras. Padi tidak digiling di mesin penggilingan modern.
“Padi itu makin tua malah semakin bagus. Biasanya warnanya lama-lama berubah menjadi kuning, lalu hitam. Banyak yang cari untuk pengobatan, misalnya untuk pengidap diabetes,” kata Aki Koyod.
Meski kegiatan menanam, memanen, dan menyimpan padi menjadi episentrum adat dan spiritual masyarakat Kasepuhan Gelar Alam, padi justru tidak dijadikan komoditas ekonomi. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, mereka mengandalkan sayur-mayur, palawija, ternak, dan ikan hasil budi daya. "Komoditas di luar padi boleh diperjualbelikan," tutur Abah Ugi.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mafhum betul mengenai sistem pertanian berbasis kearifan lokal. Ia berjanji akan mendukung dan mengadopsi filosofi kearifan lokal dalam program-program Kementan. Untuk itu, Kementan akan berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut).
"Ada juga namanya agro forestry yang sedang kami dorong bersama Pak Menteri Kehutanan. Ada padi gogo, ada tanaman kakao, dan lain-lain," kata Mentan menjawab investortrust.id.
Kearifan Lokal vs Teknologi
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Fadjry Djufry menegaskan komitmennya untuk menjaga dan mendorong praktik kearifan lokal dalam sistem pertanian.
Fadjry sepakat bahwa praktik kearifan lokal dalam sistem pertanian seperti diterapkan warga Kasepuhan Gelar Alam merupakan budaya yang harus dipelihara karena telah terbukti efektif. Panduan hidup, seperti Lontara di Sulawesi Selatan yang mengatur berbagai hal, termasuk bercocok tanam, juga tak boleh diabaikan. Begitu pula nilai-nilai yang dianut masyarakat Badui.
"Praktik-praktik yang ada (dalam kearifan lokal) sebenarnya baik, karena itu memang warisan budaya kita," kata Fadjry kepada investortrust.id di Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Bogor, Senin (15/12/2025).
Kementan sendiri tengah mencoba menyinergikan kearifan lokal tersebut dengan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Perihal apakah konsep pertanian yang dipraktikkan masyarakat adat dapat diterapkan di daerah lain, Fadjry menjelaskan bahwa setiap praktik kearifan lokal sangat spesifik di masing-masing wilayah.
"Jadi, memang ini sangat spesifik di masing-masing wilayah. Di Sukabumi ada, di Papua ada, di Kalimantan Selatan juga ada. Di beberapa tempat, mereka menjaga itu," jelas dia.
Toh potensi untuk menggabungkan kedua sistem ini tetap terbuka. BRMP telah memiliki Kalender Tanam Terpadu (KTT) dan sistem lain seperti Siap Tanam yang berfungsi membantu masyarakat memasukkan sains atau teknologi terbaru, dengan menggunakan data nyata langsung (real-time).
Secara teknis, sistem pertanian adat bisa diterima berbagai kalangan, termasuk perguruan tinggi. "Warisan budaya kita harus dijaga. Tinggal bagaimana memadukan warisan itu dengan teknologi terbaru, sehingga bisa saling bersinergi, saling melengkapi," ungkap dia.
Produksi beras Indonesia sendiri sejauh ini masih aman. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras pada Januari-Desember 2025 mencapai 34,77 juta ton, meningkat 4,15 juta ton atau naik 13,54% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dengan estimasi tersebut, pemerintah memutuskan untuk menghentikan impor beras pada 2025. Tahun lalu, Indonesia masih mengimpor 4,5 juta ton beras.
“Kita sudah surplus beras 4 juta ton. Produksi beras dalam negeri sudah meningkat signifikan dan mampu memenuhi kebutuhan domestik,” tandas Menko Pangan, Zulkifli Hasan dalam siaran pers, baru-baru ini.
Namun, tak berarti produksi beras Indonesia sudah benar-benar aman. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah memperingatkan bahwa pada tahun 2050 dunia bakal menghadapi ancaman bencana kelaparan akibat perubahan iklim yang menyebabkan sentra-sentra produksi pertanian hancur.
Peringatan FAO bukan isapan jempol. Sejumlah kawasan pesisir di Indonesia sudah tenggelam akibat abrasi, rob, penurunan muka tanah, dan kenaikan muka air laut. Kondisi paling parah antara lain dialami kawasan pesisir di Pulau Jawa, seperti Demak, Pekalongan, dan Indramayu. Di kawasan-kawasan tersebut, desa-desa yang sebelumnya merupakan lahan pertanian yang subur, sudah menjadi laut.
Perlu diingat pula, bencana banjir dan longsor di Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat, baru-baru ini, yang merenggut jiwa 1.000 orang lebih dan meluluhlantakkan permukiman, perkantoran, tempat berniaga, dan lahan-lahan pertanian, adalah bukti bahwa dampak buruk perubahan iklim nyata adanya.
Tak bisa dimungkiri, sistem pertanian berbasis kearifan lokal yang dipraktikkan masyarakat adat di Kasepuhan Gelar Alam, Badui, dan daerah-daerah lainnya di Tanah Air bisa menjadi solusi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus mencegah kerusakan alam.
"Apalagi jika sistem pertanian berbasis kearifan lokal dilakukan secara masif sebagai gerakan nasional," kata peneliti pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Bambang Sapta Purwoko kepada investortrust.id. ***

