Palu Godam Sang “Deal Maker” Mengguncang Ekonomi Dunia
Oleh Primus Dorimulu
JAKARTA, investortrust.id -- Dunia terguncang ketika mendengar keputusan Presiden Donald Trump, Rabu (02/04/2025) atau Kamis (03/04/2025) waktu Indonesia. Keputusan presiden AS ke-45 dan ke-47 bagai palu godam yang menghentak para pemimpin dunia, pemimpin negara, maupun pemimpin bisnis. Penaikan tarif gila-gilaan terhadap mitra dagangnya memicu reaksi yang umumnya seragam, yakni penolakan! Trump dinilai tidak fair, melanggar aturan yang ditetapkan World Trade Organisation (WTO), dan menabrak semua kesepakatan.
Dalam sekejap, pasar saham pada perdagangan Kamis (03/04/2025) ambruk dan harga komoditas terjungkal. Dow Jones Index turun 4%, S&P Index terpangkas 4,8%, dan Nasdaq Composite Index tergerus hingga 6%. Indeks Bursa Vietnam terjungkal 6,8%. Kejatuhan harga saham terus berlangsung hingga Jumat (04/04/2025). Semua bursa dunia rontok kecuali Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diselamatkan oleh liburan Idul Fitri. Perdagangan saham di BEI baru dibuka Selasa (08/04/2025).
Dunia mengakui, tarif yang dikenakan Trump jauh melebihi ekspektasi mereka. Sejumlah negara menyiapkan langkah balasan. Tapi, umumnya, negara mitra dagang yang terkena palu godam AS tidak memberikan reaksi berlebihan. Ada keyakinan, Trump akan membuka pintu negosiasi. Sejumlah negara langsung melakukan negosiasi setelah Trump menyatakan kesiapannya untuk bernegosiasi.
Seorang pengusaha nasional, jauh sebelum Presiden Trump mengumumkan tarif timbal-balik, mengatakan kepada investortrust.id, “Trump adalah seorang deal maker ulung. Dia akan call tinggi untuk mengajak mitra dagangnya ke meja perundingan.”
Sebagai master negosiator, Trump sudah mengukur level yang pas untuk mencapai kesepakatan. Dia sudah memiliki semua informasi untuk sebuah deal. Pemimpin negara yang piawai bernegosiasi akan sukses mencapai tujuannya. Negosiasi bisnis bukan hal mudah, apalagi berhadapan dengan seorang negosiator brilian berpengalaman yang kini menjadi presiden AS.
Pemimpin Vietnam, pada Jumat (04/04/2025) malam, berbicara dengan Presiden Donald Trump. Sekretaris Jenderal Partai To Lam bergerak cepat melakukan negosiasi untuk menghindari tarif timbal balik sebesar 46% yang diumumkan Trump.
To Lam menyatakan kesiapan Vietnam untuk berunding dan bersedia mengurangi tarif impor atas barang-barang AS hingga 0% seraya mengusulkan agar AS menerapkan tarif yang sama untuk produk-produk yang diimpor dari Vietnam.
Palu godam Trump menimpa 50 negara yang dinilai menikmati surplus perdagangan dengan AS dan Indonesia masuk "The Dirty Fifteen", 15 negara yang paling banyak menikmati surplus perdagangan dengan Paman Sam. Indonesia berada di urutan ke-13 dengan patokan tarif baru 32%. Dengan perhitungan yang tidak transparan, Indonesia dituduh mengenakan tarif 64% terhadap produk AS.
Mitra dagang yang dinilai cukup fair dikenakan tarif impor 10%, sedang yang bermasalah dengan AS dipatok tarif bervariasi hingga 49%. Ada empat negara Asia Tenggara yang menjadi korban tarif terbesar, yakni Vietnam dan Kamboja di urutan pertama dan kedua dengan besaran tarif, masing-masing, sebesar 46% dan 49%, kemudian Thailand dan Indonesia di urutan ke-10 dan ke-13 dengan tarif 36% dan 32%.
Dari Rose Garden, Gedung Putih, Washington DC, pada Rabu (02/04/2025) waktu setempat, Trump mengatakan, tarif yang dipatoknya masih tergolong lunak. Karena tarif resiprokal yang diterapkan hanya separuh dari yang dipatok berbagai negara terhadap negaranya. Presiden AS yang saat kampanye menggunakan tagline “Make America Great Again” menyebutkan hari pengumuman tarif resiprokal sebagai “Liberation Day”. Hari Pembebasan AS dari kecurangan yang dilakukan mitra dagang.
Bermacam-macam penilaian terhadap Trump. Tapi, untuk adilnya, mari kita mencoba memahami AS dan pemikiran Trump untuk memajukan negeri yang dipimpinnya. Dari tahun ke tahun, defisit neraca perdagangan AS terus membesar. Pada tahun 2024, defisit perdagangan AS dengan semua negara mencapai US$ 1,2 triliun. Defisit perdagangan AS dengan Tiongkok mencapai US$ 295,4 miliar, meningkat 5,8% dari tahun 2023. Pangsa defisit perdagangan AS dengan Tiongkok mencapai 25%.
Pada masa lalu, AS adalah eksportir terbesar produk otomotif, elektronik, dan berbagai produk berteknologi tinggi. Dalam 50 tahun terakhir, AS harus menjadi importir produk otomotif dan berbagai industri manufaktur, termasuk alat kesehatan. Kondisi ini dinilai Trump sebagai dampak dari liberalisasi perdagangan yang tidak diikuti etika. Dunia mendorong free trade yang dalam kenyataan tak lebih dari praktik unfair trade yang merugikan AS.
Trump menyebut kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan sebagai upaya mewujudkan fair trade. Ia tidak percaya lagi terhadap free trade di bawah pengawasan WTO. AS sudah lama menjadi korban free trade dan kini saatnya ia mendeklarasikan sebuah tarif baru yang adil. Tarif yang membebaskan AS dari kesemena-menaan dan kecurangan mitra dagang. Itu sebabnya hari pengumuman tarif resiprokal sebagai Hari Pembebasan.
“Selama bertahun-tahun, negara kita dijarah dan dicuri oleh negara-negara dekat dan jauh, teman, dan musuh, “kata Trump. “Rakyat kita menyaksikan dengan kecewa. Sementara pemimpin luar negeri mencuri lapangan kerja kita. Pencuri luar negeri telah menyerang pabrik kita. Para pemulung luar negeri telah mengoyak impian kita. American Dreams belakangan ini tidak begitu terdengar lagi,” tambahnya.
Amerika, kata Trump, telah dikoyak selama lebih dari 50 tahun. Ia berjanji, ke depan hal itu tidak akan terjadi lagi. “Saya menandatangani perintah eksekutif bersejarah, menegaskan tarif resiprokal dengan berbagai negara. Ini adalah salah satu hari yang paling penting dalam sejarah Amerika. Ini adalah Deklarasi Kebebasan Ekonomi. Selama bertahun-tahun, penduduk Amerika bekerja keras, tapi terpaksa duduk di pinggir saat negara lain menjadi kaya dan berkuasa, dan sedihnya, kebanyakan dengan biaya kita,” jelas mantan pemimpin dengan latar belakang yang panjang sebagai pengusaha.
Trump yakin, tindakan menaikkan tarif akan membuat America Great Again, lebih hebat daripada sebelumnya. Pabrik baru akan dibangun dan lapangan kerja terbuka lebih banyak lagi. “Sekarang giliran kita untuk kembali berkembang dan untuk mewujudkannya, kita menggunakan triliun dolar yang selama ini terbuang ke luar AS,” jelas pemimpin berusia 78 tahun sembilan bulan itu.
Selama puluhan tahun, kata Trump, AS mengurangi hambatan perdagangan, sedangkan negara lain menetapkan tarif besar terhadap produk AS. Selain tariff barrier, ada hambatan nontarif dan kecurangan sistem nilai tukar yang sangat merugikan Amerika. Tiongkok dikenal sebagai salah satu negara yang memperlemah nilai tukar mata uangnya guna mendorong ekspor negara itu.
“Mereka memanipulasi nilai tukar, mensubsidi ekspor mereka, mencuri hak intelektual kita, menerapkan pajak yang besar pada produk kita, menerapkan peraturan yang tidak adil dan standar teknis, dan menciptakan penyusupan yang menjengkelkan,” papar Trump. Kebijakan Trump adalah janji yang acap dilontarkan selama masa kampanye pemilihan presiden.
Sekitar 81% mobil Korea Selatan dibuat di Korea Selatan dan 94% dari mobil di Jepang dibuat di Jepang. Toyota menjual 1 juta mobil, sedangkan produk General Motors hampir tidak terjual satu unit pun. Produk Ford hanya sedikit yang terjual. Tidak ada perusahaan AS yang diizinkan untuk masuk ke negara lain. Ke depan, Trump memberikan syarat ketat kepada para pengusaha. “Boleh menjual produk di AS, tapi bangunlah pabrik di AS,” ujarnya.
Berbagai produk industri diproduksi di Eropa, Asia, dan belahan bumi lainnya. Tapi, pasar yang dituju adalah AS. Kondisi ini yang hendak dibalikkan oleh Trump. Bangunlah pabrik di AS. Pemerintah AS menyediakan semua kemudahan untuk investasi, termasuk penurunan pajak. AS dibuat Trump sebagai negara paling atraktif bagi para investor asing dan domestik.
Trump mengatakan, dalam banyak kasus di perdagangan, ternyata, teman lebih buruk daripada musuh. Namun, keseimbangan yang tidak seimbang itu telah menghancurkan industri dasar AS. “Saya tidak menyalahkan negara lain untuk kejahatan ini. Saya menyalahkan presiden dan pemimpin sebelumnya yang tidak melakukan pekerjaan mereka. Mereka membiarkan semua ini terjadi. Tahun lalu, misalnya, Joe Biden yang ‘ngantukan’ itu membuat AS ‘kehilangan’ 100.000 lapangan kerja manufaktur,” kata pemimpin yang nyaris terbunuh itu.
Jika dibicarakan dengan baik, kata Trump, para pemimpin negara mitra dagang akan mengerti perdagangan yang adil dan yang tidak. Mereka memahami posisi AS yang dirugikan oleh perdagangan yang tidak adil. Ia pun menjelaskan pengalamannya pada periode pertama, 2017-2021.
“Sejujurnya. Presiden Xi Jinping mengerti. Dia bilang, lihat, saya mengerti. Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe juga mengerti. Dia seorang lelaki yang luar biasa. Malangnya, dia tewas karena pembunuhan (Abe tewas ditembak 8 Juli 2022). Para pemimpin negara lain juga mengerti,” ungkap Trump.
Sejak 1789 hingga 1913, kata Trump, AS merupakan negara kaya yang, antara lain, didukung oleh tarif impor. Karena kaya, pada tahun 1880-an, AS membentuk komisi untuk memutuskan negara dan organisasi dunia yang perlu dibantu. “Hari ini, kita memutuskan hal penting untuk pekerja dan rakyat Amerika. Kita menekankan “America First” agar bisa membuat “America Great Again”.
AS mengikuti berbagai organisasi perdagangan. Tapi, semuanya itu justru membuat neraca perdagangan AS membesar dan pada tahun 2024, defisit perdagangan AS mencapai US$ 1,2 triliun. Sejak awal NAFTA, AS kehilangan 90.000 lapangan kerja di industri manufaktur.
Dibentuk 17 Desember 1992 dan berlaku efektif 1 Januari 1994, North American Free Trade Agreement (NAFTA) atau Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara beranggotakan AS, Kanada, dan Meksiko. Pada tahun 2020, NAFTA diperbarui dan digantikan oleh USMCA (United States-Mexico-Canada Agreement). Prinsip dasarnya keduanya tetap serupa, yakni mengurangi hambatan perdagangan.
Selama ini, AS adalah anggota World Trade Organization (WTO) dan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (Bank Dunia). IMF adalah lembaga keuangan internasional yang membantu kestabilan moneter global. Sedang Bank Dunia adalah lembaga yang memberikan pinjaman dan bantuan kepada negara-negara berkembang. AS adalah anggota penting dan pemegang saham terbesar di di dua lembaga ini.
AS juga anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), forum negara-negara maju yang bekerja sama dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan pembangunan, anggota G7 (Group of Seven), kelompok tujuh negara maju (AS, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang) yang membahas isu ekonomi dan politik global, anggota G20 (Group of Twenty), forum internasional negara-negara dengan ekonomi terbesar di dunia, anggota Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC), dan anggota USMCA (United States-Mexico-Canada Agreement).
Trump sangat kritis terhadap PBB dan organisasi di bawah PBB. Ia menuduh PBB boros, tidak efisien, dan bias terhadap AS dan sekutunya seperti Israel. Meski tidak keluar dari PBB, Trump mendorong pengurangan kontribusi dana AS dan mempromosikan pendekatan “America First” di forum PBB.
Di sejumlah kesempatan, Trump mengritik WHO (Organisasi Kesehatan Dunia). Ia menuduh WHO terlalu dekat dengan China dan gagal menangani pandemi Covid-19 secara transparan dan cepat. Pada tahun 2020, Trump mengumumkan penarikan AS dari WHO dan menghentikan pendanaan. Namun, keputusan ini dibatalkan oleh Presiden Joe Biden.
AS di bawah Trump juga keluar dari UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB) pada tahun 2019. Ia menilai UNESCO anti-Israel dan tidak becus mengelola organisasi. Trump juga sempat mengeluarkan AS dari UN Human Rights Council (Dewan HAM PBB) pada tahun 2018, namun pada era Joe Biden, AS kembali bergabung.
Dengan pendekatan “America First”, Trump menolak komitmen internasional yang dinilai merugikan AS, baik secara finansial maupun politik. Dalam empat tahun ke depan, ia berusaha merealisasikan janji politiknya saat kampanye. Banyak tidak suka dan marah, tapi banyak juga yang mengapresiasi.
Dampak positif yang diharapkan Trump masih membutuhkan waktu. Sedang dampak negatif sudah di depan mata. Kejatuhan harga saham di berbagai negara tidak bisa dinilai sepele. Indeks harga saham adalah leading indicator yang mencerminkan kepercayaan para pelaku pasar akan masa depan ekonomi AS, ekonomi setiap negara mitra dagang AS, ekonomi dunia.
Jika tidak ada negosiasi dalam posisi yang setara, kebijakan tarif resiprokal Trump akan merugikan AS, bukan hanya mitra dagang. Gubernur Federal Reserve (Fed) Jerome Powell mengatakan, kebijakan Trump akan memicu inflasi AS. Lewat kenaikan fed fund rate (FFR) sejak April 2022, inflasi AS sudah ditekan turun dari 9,1%, Juli 2022, ke 2,8%, Februari 2025, yoy. Dengan kebijakan tarif resiprokal Trump, sasaran inflasi 2% tidak akan tercapai.
Tarif impor tinggi aneka produk yang masuk AS akan memicu inflasi. Produk impor menjadi mahal, sehingga terjadi imported inflation. Dampak lanjutnya, FFR yang saat ini 4,50% tidak mungkin diturunkan. Untuk meredam inflasi, FFR sangat mungkin dinaikkan. Suku bunga acuan Bank Indonesia yang saat ini 5,75% sulit diturunkan.
JP Morgan dalam laporannya memperkirakan, peluang ekonomi global untuk masuk ke jurang resesi mencapai 60%, naik dari 40% sebelumnya. Sedang Kepala Penasihat Ekonomi Allianz Mohamed El-Erian mengatakan, tarif timbal balik Trump dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian global.
Dunia akan terlibat trade war. Ekspor yang tidak bisa masuk ke AS akan dialihkan ke negara lain. Sebagai negara besar, Tiongkok memiliki kemampuan untuk melawan AS dengan membalas menaikkan tarif impor dari AS. Tapi, bagaimana membendung produk Tiongkok agar tidak menyerbu Indonesia, legal dan ilegal? Sangat boleh jadi, produk Tiongkok yang tidak bisa masuk AS akan digelontorkan ke negara lain.
Satu hal yang paling tidak disukai para pengusaha dan pelaku pasar adalah “uncertainty” atau ketidakpastian. Kebijakan tarif resiprokal Trump telah memicu ketidakpastian. Oleh karena itu, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan Indonesia dan mitra dagang AS untuk bernegosiasi dengan Trump.
Dari Gedung Putih Trump mengatakan, tarif resiprokal yang menggemparkan dunia itu justru "memberikan AS kekuatan besar untuk bernegosiasi". Tarif resiprokal yang berkisar 11-49% adalah sebuah angka pembuka. Seorang negosiator ulung bisa memberikan “call” atau harga penawaran tinggi agar jika diturunkan, deal terjadi pada level yang menguntungkannya. Trump menyatakan, ia akan bersedia mengoreksi tarif resiprokal yang sudah dipatoknya jika ada penawaran yang spektakuler dari mitra dagang.
Indonesia perlu bergerak cepat untuk berunding dengan Trump dengan memberikan sejumlah penawaran. Surplus perdagangan Indonesia dengan AS mencapai US$ 16,8 miliar tahun 2024 atau setara dengan 54% dari surplus neraca perdagangan Indonesia di tahun yang sama. Dengan ketidakpastian global dan posisi setiap negara yang kian proteksionis, bisa jadi tahun ini, neraca perdagangan Indonesia defisit.
Benar belaka kata PM Singapura Lawrence Won. Merespons kebijakan Trump, ia mengatakan, dunia sedang mengalami perubahan besar dalam tatanan global. Era globalisasi berbasis aturan dan perdagangan bebas telah berakhir. Dunia memasuki fase baru, fase yang lebih sewenang-wenang, proteksionis, dan berbahaya.
Selama beberapa dekade, AS merupakan landasan bagi ekonomi pasar bebas dunia. AS memperjuangkan perdagangan bebas, dan memimpin upaya untuk membangun sistem perdagangan multilateral, yang ditopang oleh aturan dan norma yang jelas, tempat negara-negara dapat memperoleh manfaat yang saling menguntungkan melalui perdagangan. Tapi, Trump mengubah semuanya.
Sistem perdagangan bebas di bawah WTO membawa stabilitas dan kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Wong mengakui, sistem perdagangan bebas memang tidak sempurna. Singapura dan banyak negara lain telah lama menyerukan reformasi untuk memperbarui aturan dan membuat sistem lebih baik.
“Tetapi apa yang dilakukan AS saat ini bukanlah reformasi. AS meninggalkan seluruh sistem yang telah diciptakannya. Pendekatan barunya berupa tarif timbal balik, negosiasi bilateral negara dengan negara, merupakan penolakan total terhadap kerangka kerja WTO,” tegas Won.
Dunia sedang berubah. Meski tidak sebesar Singapura (174%) dan Vietnam (87%), peran ekspor terhadap PDB Indonesia sebesar 22%. Kini saatnya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membuktikan kepiawaiannya dalam bernegosiasi dengan a brilliant negosiator, Donald Trump. How to win the deal? Rakyat menunggu!

