Horor 18 Maret di Bursa Efek Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Horor melanda Bursa Efek Indonesia (BEI), pada 18 Maret 2025. BEI terpaksa harus menerapkan trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham pada pukul 11.20 WIB setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) nyungsep 5,02% (325 poin) ke level 6.146.
Akumulasi dan kombinasi aneka sentimen negatif, baik di level global maupun domestik berkontribusi terhadap anjloknya IHSG, ditambah rumor soal mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Kejatuhan yang terjadi di pasar saham Indonesia tersebut tergolong anomali, karena bursa di regional justru menunjukkan perkembangan positif.
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menjelaskan, trading halt dilakukan mengacu pada Surat Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat.
Kebijakan trading halt dilakukan untuk menjaga perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efisien. Sedangkan definisi kondisi darurat menurut aturan resmi tersebut adalah suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi di luar kehendak dan atau kemampuan bursa.
Kategori kondisi darurat yang dimaksud adalah: (1) Bencana, termasuk namun tidak terbatas pada gempa bumi, banjir, dan kebakaran, (2) Terjadinya gangguan keamanan, sosial dan politik, termasuk namun tidak terbatas pada pemberontakan, ledakan bom, kerusuhan, huru-hara, sabotase, pemogokan dan epidemi, (3) Terjadi permasalahan teknis pada JATS dan atau sistem remote trading, (4) Terjadi masalah teknis pada sistem kliring dan penjaminan KPEI dan atau sistem penyimpanan dan penyelesaian KSEI yang mengakibatkan tidak dapat dilakukan proses kliring, penjaminan dan atau penyelesaian transaksi bursa. (5) Terjadi gangguan pada infrastruktur sosial seperti jaringan listrik, telekomunikasi dan transportasi. (6) Terjadi kepanikan pasar dalam melakukan transaksi jual dan atau beli saham yang mengakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sangat tajam.
Ada tiga tahapan pembekuan bursa. Jika IHSG turun hingga lebih dari 5%, BEI dapat melakukan trading halt selama 30 menit. Bila IHSG berlanjut turun hingga lebih dari 10%, BEI dapat melakukan trading halt kedua selama 30 menit. Kemudian, jika IHSG merosot lagi hingga lebih dari 15%, BEI dapat melakukan trading suspend sampai penutupan perdagangan setelah mendapat persetujuan OJK.
Peristiwa 18 Maret bukanlah kali pertama, karena sebelumnya BEI telah menempuh aksi trading halt 6 kali. Saat awal Indonesia dilanda Covid-19 pada Maret 2020, BEI melakukan trading halt sampai 5 kali selama bulan Maret itu. Kemudian trading halt keenam terjadi kembali pada September 2020.
Kronologi
Pemicu utama „crash“ di pasar saham pada 18 Maret yang membuat BEI menempuh trading halt adalah penurunan signifikan hingga auto reject bawah (ARB) saham emiten Prajogo Pangestu. Di antaranya saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ARB sebanyak 19,92% menjadi Rp 5.325, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) jatuh 15,46% menjadi Rp 4.840, PT Petrindo Kreasi Jaya Tbk (CUAN) anjlok 17,82% menjadi Rp 5.650.
Kejatuhan dalam juga melanda saham emiten Prajogo lainnya, seperti saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah sebanyak 18,06% menjadi Rp 635 dan PT Petrosea Tbk (PTRO) anjlok 16,85% menjadi Rp 2.270.
Kondisi itu menyeret kemerosotan sangat dalam saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII), yang mengalami ARB tigal kali secara beruntun. Hal itu membuat saham DCII sempat melemah 20% menjadi Rp 115.800.
Pelemahan juga diperparah penurunan harga empat saham bank papan atas, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Setelah perdagangan terhenti sementara 30 menit, BEI kembali membuka perdagangan. Namun pada pukul 11.58, IHSG justru terjun 402 poin (6.21%) ke level 6.069. Bahkan, IHSG sempat menyentuh level terendahnya 6.011.
Sedangkan penutupan sesi I, IHSG turun sebanyak 395,87 poin (6,12%) menjadi 6.076. Penurunan dipicu pelemahan seluruh sektor saham, antara lain sektor energi 6,24%, sektor material dasar 6,24%, sektor keuangan 3,86%, dan sektor teknologi 12,46%.
Hingga pukul 14.25 WIB, penurunan indeks terpantau mulai mereda, hanya 240 poin (3,73%) menjadi 6.231. Penurunan sejumlah saham-saham kapitalisasi pasar besar terpantau mulai mengecil.
Saham emiten Prajogo Pangestu pun mulai sedikit bangkit. TPIA dari sebelumnya ARB menjadi hanya turun 16,54% menjadi Rp 5.550, pelemahan BREN mulai mengecil menjadi 10,48% menjadi Rp 5.125, dibandingkan sebelumnya sempat ke level Rp 4.580.
Penurunan saham bank-bank besar, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI mulai mereda dari semula rata-rata melemah 5% menjadi hanya kisaran 3%.
Alhasil, di penutupan pasar, IHSG “hanya” melemah 248,55 poin (3,84%) ke level 6.223,38. Dengan demikian, sejak awal tahun (year to date/ytd), IHSG terpangkas 12,1%. Indeks sektor teknologi mengalami kejatuhan tertinggi, yakni 9,77%, sektor material dasar 5,99%, sektor energi 3,43%, sektor infrastruktur 3,03%, sektor propert 3,33%, dan sektor consumer primer 3,06%.
Pemodal asing mencatatkan net sell senilai Rp 2,48 triliun (18/3/2025), atau Rp 29,4 triliun (ytd). Net sell terbanyak melanda empat bank papan atas, yaitu saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 1,53 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 642,70 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 361,22 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 120,45 miliar, dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sebanyak 48,94 miliar.
Ketika pasar saham domestik jatuh, bursa regional justru mengalami penguatan, seperti indeks Nikkei yang naik 1,39%, Hangseng melesat 1,82% dan Shanghai menguat 0,09%.
Upaya Menenangkan Pasar
Kejatuhan IHSG yang dalam membuat DPR menyambangi BEI. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dan Ketua Komisi XI DPR Muhammad Misbakhun menggelar jumpa pers didampingi Dirut BEI Iman Rachman dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi.
"Kita ingin membangun kepercayaan kepada pasar bahwa kita memberikan dukungan penuh kepada Otoritas Jasa Keuangan kepada Bursa Efek Indonesia, terhadap policy-policy yang mereka ambil terkait situasi saat ini ," kata Misbakhun.
Di sisi lain, guna mencegah kerugian investor, OJK selaku regulator memberi sedikit petunjuk soal kebijakan di pasar modal Indonesia untuk menahan penurunan IHSG. Inarno menyebut bahwa Rabu ini (19/3), OJK akan membuat kebijakan kejutan sebagai respons bergejolaknya pasar. Janji itu dipenuhi. OJK menerbitkan kebijakan buyback saham tanpa harus melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Kebijakan ini dikeluarkan dengan pertimbangan bahwa perdagangan saham di BEI sejak 19 September 2024 mengalami tekanan yang diindikasikan dari penurunan IHSG per 18 Maret 2025 sebesar 1.682 poin atau minus 21,28% dari Highest to Date.
Kebijakan buyback saham tanpa RUPS ini sudah disampaikan kepada direksi perusahaan terbuka melalui surat resmi OJK tertanggal 18 Maret 2025. “Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan di pasar dan bisa mengurangi tekanan, serta merupakan tindak lanjut pertemuan dengan para pemangku kepentingan di pasar modal yang diselenggarakan 3 Maret 2025 lalu,” tutur Inarno.
Adapun Iman Rachman menilai rontoknya IHSG merupakan sesuatu yang normal, terutama akibat faktor global, termasuk perkembangan terkini di Amerika Serikat (AS) yang terancam resesi.
Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto langsung menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka untuk melaporkan kondisi perekonomian nasional. Airlangga menjamin bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, dengan beberapa indikator pendukung.
Di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi relatif bagus, inflasi masih rendah, indeks keyakinan konsumen relatif tinggi, indeks manufaktur (PMI) pada Februari di angka 53,6, pertumbuhan kredit pada Januari 2025 10,3%, cadangan devisa maih kuat, serta neraca perdagangan Februari 2025 melanjutkan surplus.
Defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal juga masih aman, di bawah 3% PDB. Selain itu, rasio investasi asing (FDI) terhadap PDB masih sekitar 1,5%.
Menkeu Tidak Mundur
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang diisukan mundur pun langsung memberikan klarisikasi sore harinya, bahwa dia menjamin tidak mundur dari jabatannya sebagai pengelola keuangan negara. Dia menegaskan akan mengelola APBN bersama-sama tim Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
“Saya tegaskan, saya ada di sini, berdiri dan tidak mundur,” kata Sri Mulyani di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Selasa (18/3/2025).
Sri Mulyani dan tim Kemenkeu berjanji untuk bertanggung jawab menjaga keuangan negara sebagai instrumen penting untuk mencapai tujuan pembangunan Presiden Prabowo Subianto. Selain itu, langkah bertahan sebagai menteri keuangan merupakan pilihan demi menjaga kepercayaan masyarakat di sektor ekonomi.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menjelaskan dukungan investor domestik dan asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) tetap kuat. Dia akan konsisten mengelola APBN secara pruden dan kredibel sehingga menjaga kepercayaan pelaku pasar.
Menkeu Sri Mulyani juga menyebutkan, spread surat utang Indonesia masih kompetitif. Spread SBN tenor 10 tahun dengan US Treasury 10 tahun hanya 267 basis poin (bps). Dia membandingkan spread surat utang serupa Meksiko yang sebesar 521 bps, Afrika Selatan 629 bps, Brazil bahkan 1.070 bps.
Salah satu bukti kepercayaan investor terhadap SBN adalah lelang delapan seri SUN Selasa kemarin yang menghasilkan penawaran sebesar Rp 61,75 triliun, atau 2,38 kali dari target indikatif Rp 26 triliun. “Incoming bid dari investor asing menunjukkan ketertarikan yang kuat. Investor asing percaya kepada APBN 2025 dan pengelolaannya,” ujar dia.
Selain itu, perkembangan APBN juga membaik. Penerimaan pajak periode 1-17 Maret 2025 menunjukkan pertumbuhan positif 6,6%.
Pandangan Analis
Sementara itu, para analis memberikan pandangan beragam tentang trading halt di BEI. Ekonom dan Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta menilai, terjadi peralihan aset investor asing dari pasar saham Indonesia ke safe haven di tengah ketidakpastian global, perang tarif, eskalasi konflik di Yaman, konflik Israel-Palestina, dan Rusia-Ukraina yang berkepanjangan.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede berpendapat, anjloknya IHSG disebabkan akumulasi berbagai faktor. Antara lain kebijakan pemerintah ke depannya yang dinilai investor masih memberikan ketidakpastian. “Kondisi ini turut memberikan sentimen negatif di pasar keuangan domestik,” kata dia kepada investortrust.id.
Selain itu, investor juga menantikan hasil rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia dan FOMC bulan ini. BI dan FOMC The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan tingkat suku bunga acuannya.
Sementara itu, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menduga anjloknya IHSG bukan semata karena pengaruh konflik geopolitik. Faktor utamanya adalah kinerja APBN Februari yang buruk dan outlook fiskal yang berat. “Akibat kebijakan pemerintah yang tidak realistis dan tanpa teknokrasi yang jelas,” kata dia.
Wijayanto menambahkan, isu lain yang membuat investor hati-hati adalah mega korupsi yang muncul belakangan ini. Sentimen negatif juga datang dari wacana revisi Undang-Undang (UU) TNI yang memunculkan kekhawatiran publik mengenai dwifungsi TNI.
Lebih dari itu, kekhawatiran mengenai turunnya rating kredit Indonesia turut memengaruhi kepercayaan investor. Seperti diketahui, Fitch dan Moodys akan mengumumkan hasil analisnya pada Maret-April, serta S&P di sesi berikutnya pada Juni-Juli.
Dalam pandangan Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, sentimen domestik lebih berpengaruh dibandingkan global. Untuk sentimen global, pemicu penurunan IHSG adalah nafsu Putin yang ingin perang lebih lama, pembalasan tarif lebih besar dari Uni Eropa kepada AS, dan kekhawatiran resesi di Amerika.
Dari domestik, sentimen buruk berasal dari penerimaan APBN yang anjlok 30% yang memperlebar defisit APBN (Rp 31,2 triliun), sehingga penerbitan utang bakal membengkak. Pembayaran bunga utang mencapai Rp 79,3 triliun dalam dua bulan. „Risiko fiskal ini menjadi ketakutan terbesar investor. Kemungkinan investor beralih ke obligasi,“ tegasnya.
Sedangkan analis pasar modal sekaligus founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai, ketidakpastian kebijakan The Fed mengenai suku bunga menjadi faktor penggerak sentimen pasar. Jika inflasi AS masih tinggi, pemangkasan suku bunga bisa tertunda sehingga saham menjadi kurang menarik.
Faktar bahwa sepanjang 2025, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 29 triliun menandakan kepercayaan investor asing terhadap pasar Indonesia sedang turun.
Selain itu, sektor riil tertekan, tercermin pada maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) serta memburuknya kredit bermasalah (NPL) perbankan yang naik menjadi 2,17% pada Januari 2025. "Ini menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat melemah dan risiko perbankan meningkat. Kurs rupiah yang terus melemah menambah tekanan bagi perusahaan yang memiliki eksposur utang dalam dolar AS," terang dia.
Di samping itu, Hendra menilai rumor terkait pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani ikut memicu rontoknya IHSG.
Hendra melihat IHSG yang anjlok lebih dari 5% menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia saat ini tidak dalam kondisi baik-baik saja. Investor asing mulai kehilangan kepercayaan akibat kombinasi faktor global dan domestik.
"Meski demikian, pasar saham bersifat siklikal. Jika kebijakan ekonomi lebih stabil dan investor melihat prospek keuntungan yang lebih menarik, bukan tidak mungkin dana asing akan kembali mengalir ke Indonesia, membawa IHSG kembali ke jalur pemulihan," kata Hendra.
Secara terpisah, pengamat pasar modal Panin Sekuritas Reydi Octa mengatakan, investor cenderung mengamankan dananya di instrumen investasi low risk yang masih menawarkan return tinggi.
Adapun VP Marketing Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengatakan, anjloknya IHSG menunjukkan anomali karena bursa regional Asia justru positif. "Hal ini menunjukkan kekhawatiran investor akan ekonomi Indonesia dan pasar keuangan," kata Audi.
Audi juga memandang penurunan indeks dipicu oleh pemangkasan rating saham-saham Indonesia, seperti oleh Morgan Stanley dan Goldman Sachs menyusul kekhawatiran melebarnya defisit anggaran.
Peristiwa kelabu 18 Maret ini setidaknya menjadi peringatan kepada pemerintah untuk peka terhadap berbagai isu, rumor, dan persepsi yang berkembang di masyarakat serta tekanan-tekanan yang dialami oleh dunia usaha. Tentu saja pemerintah dan otoritas terkait tetap wajib mencermati dinamika dan gejolak di level global. (Tim Investortrust)

