Bangunan dari Kayu, CLT, untuk “Green City” IKN
JAKARTA, Investortrust.id—Alangkah indahnya bila bangunan di Ibu Kota Nusantara (IKN), semuanya, terbuat dari kayu. Selain anggun, kokoh, dan tahan lama, bangunan dari kayu lebih ramah lingkungan. Dengan sentuhan teknologi, keandalan kayu sebagai bahan bangunan tidak kalah dari baja. Sejumlah negara sudah lama mengembangkan cross laminated timber (CLT), yakni produk kayu rekayasa yang terdiri atas sejumlah lapisan papan kayu yang direkatkan secara silang dan tegak lurus hingga menghasilkan produk yang kokoh-kuat.
Mengusung konsep green city, IKN menerapkan konsep green construction, mempertahankan luasnya area hijau, memanfaatkan energi terbarukan dan rendah karbon, menjaga efisiensi dan konservasi energi, serta menerapkan sepenuhnya standar sebuah kota modern yang mengimplementasi environmental, social, and governance (ESG). Untuk mewujudkan visi ini, rumah dan gedung dari kayu sangat cocok untuk IKN.
Dikutip dari website ITB, Technical Sales Consultant Rothoblaas, Mario Kurniadi menjelaskan, CLT adalah produk hasil olahan kayu yang dipotong dengan ukuran tertentu dan disusun menjadi beberapa layer yang ditumpuk tegak lurus antar layer-nya agar memiliki kekuatan. Penggabungan beberapa layer kayu dilakukan dengan lem yang bebas formalin yaitu formaldehyde-free glue. Sebelum dipakai, kayu diproses pada mesin agar memiliki kekuatan antiair dan antirayap.
Bangunan dari kayu telah berkembang luas di Amerika Utara dan Eropa, baik produk CLT maupun produk yang mengadaptasi material lain seperti bambu untuk menghasilkan cross laminated bamboo (CLB). CLB dibuat dengan merekatkan lapisan bambu secara silang, mirip dengan proses pada CLT, dan menawarkan sejumlah keunggulan seperti CLT. Bahan bambu yang dikombinasikan dengan kayu, cross laminated bamboo and timber (CLBT), juga sudah dikembangkan di berbagai negara.
Terminal di Bandara Bangalore, India, menggunakan CLT, CLB, dan CLBT. Ketiganya memberikan kesan indah dan daya pesona. Setelah masa pandemi Covid-19, terminal Bangalore menjadi salah satu daya tarik bagi pelancong yang hendak ke India.
Terminal Banglore
Mulai dibangun tahun 2018 dan diselesaikan dalam empat tahun, Terminal 2 Bandara Internasional Kempegowda di Bangalore, India membetot perhatian dunia karena desainnya yang menonjol dan bahan bangunan yang berasal dari bambu dan kayu (CLBT). Mengusung konsep “Terminal dalam Taman”, terminal ini menyulap Bangalore sebagai “Kota Taman”.
| Fasad Terminal 2 Bandara Internasional Kempegowda di Bengaluru juga menonjolkan elemen alami seperti bambu, tanaman dan air di mana semua elemen itu memperkuat kesan kota taman. Seluruh plafon, pilar dan dinding dilapisi bambu yang dilaminasi menjadi tabung padat dan berongga dalam mesin cetak yang dikembangkan secara khusus. Bambu seperti ini akan kuat bertahan bertahun-tahun meski digunakan pada fasad luar ruangan seperti tampak pada foto. Foto: Istimewa |
Bengaluru adalah nama asli dari Bangalore, ibu kota negara bagian Karnataka di India. Nama “Bangalore” adalah versi Inggris yang populer selama periode kolonial Inggris di India. Pada 2014, pemerintah India secara resmi mengubah nama kota ini menjadi “Bengaluru” untuk mencerminkan nama asli dalam bahasa Kannada sekaligus menghormati warisan budaya lokal.
Dalam kenyataan, kedua nama ini digunakan secara bergantian. Nama Bangalore acap dipakai untuk komunikasi internasional dan dokumen berbahasa Inggris, sedang “Bengaluru” digunakan dalam dokumen resmi negara dan konteks lokal.
Penggunaan kayu dan bambu dalam arsitektur Terminal 2 Banglore, mulai dari langit-langit, dinding, pilar, dan elemen interior lainnya memberikan nuansa alami dan ramah lingkungan. Terminal ini juga dilengkapi dengan berbagai fitur hijau, seperti dinding hijau, taman gantung, dan area hutan buatan, yang memberikan pengalaman unik bagi para pelancong. Para pelintas seolah berjalan di dalam taman. Karya seni yang ditampilkan terinspirasi oleh budaya leluhur dan warisan Karnataka.
Tumbuhan, saluran air, plafon bambu memberikan simulasi unsur-unsur alam seperti pada koridor di Terminal 2 Bandara Internasional Kempegowda di Bengaluru. Di manapun di seluruh bagian terminal, material alami digunakan untuk memperindah pemandangan. Foto: Istimewa
Terminal 2 Banglore dirancang oleh Skidmore, Owings & Merrill (SOM) selama lebih dari empat tahun. Dibangun di atas lahan seluas 255.000 meter persegi, 47 kali lapangan sepak bola. Dengan luas lahan yang memadai, Terminal 2 bisa dibangun dengan konsep "terminal di taman". Terminal ini juga merupakan ungkapan apresiasi terhadap warisan budaya leluhur.
Kayu dan bambu dipilih karena sifatnya yang ramah lingkungan, emisi karbon yang rendah, dan masuk kategori energi terbarukan. Kedua bahan bangunan ini menambah kehangatan dan estetika alami pada desain terminal sebagai “Terminal dalam Taman.” Ada tiga gerbang masuk di Teriminal 2 Bengaluru, masing-masing memiliki tiga titik masuk.
Terminal 2 Bandara Internasional Kempegowda di Bengaluru dirancang untuk menampilkan orkestrasi setiap komponen yang alami maupun buatan manusia dan diharapkan menjadi preseden bagi desain bandara di masa depan. Dari pintu masuk saja sudah terlihat sebagai bangunan yang menyatu dengan alam. Foto: Istimewa
Satu dekade sebelum terminal baru yang menampilkan CLBT, Bandara Banglore dikenal sebagai tempat yang sederhana dan kaku. Bandara sekadar penghubung antara destinasi dan pelancong. Setelah dibangun dengan CLBT, Bandara Banglore sekonyong-konyong berubah menjadi tempat menakjubkan, memberikan pengalaman baru dan memberikan kesan mendalam kepada setiap pelintas.
Video: Courtesy of Frame.
Gaia, Bangunan Kayu Terbesar di Asia
Bangunan dari kayu terbesar bukan terdapat di Indonesia, negeri dengan luas daratan 1,9 juta km persegi yang kaya akan hutan tropis, tapi di Singapura, negara pulau yang hanya seluas 734,3 km persegi atau 1,1 kali luas DKI Jakarta. Diresmikan 17 Mei 2023, bangunan milik Nanyang Business School (NBS), Nanyang Technological University (NTU) Singapore terbuat dari kayu, atau tepatnya cross laminated timber (CLT). Bangunan yang diberi nama Gaia ini diklaim sebagai bangunan kayu terbesar di Asia.
Dengan luas 468.000 kaki persegi, Gaia layak menyandang predikat sebagai bangunan kayu terbesar di Asia. Nama Gaia diambil dari mitologi Yunani kuno. Gaia adalah Dewi Bumi, ibu dari semua kehidupan. Gaia disembah sebagai personifikasi bumi yang bertanggung jawab atas penciptaan dan pemeliharaan semua makhluk hidup.
Seiring berjalannya waktu, nama Gaia telah melampaui asal-usul mitologinya. Di era baru yang mewajibkan penerapan environmental, social, and governance (ESG), Gaia menemukan tempatnya. Nama Gaia sering digunakan dalam berbagai bidang studi dan disiplin ilmu yang merujuk pada upaya menjaga planet bumi. Agar kehidupan manusia berkelanjutan, manusia harus menjadi planet ini.
Pembangunan Gaia menghabiskan dana S$ 125 juta atau setara Rp 1,4 triliun. Dengan teknologi CLT, rangka kayu terlihat terbuka, bebas dari pelapis atau cat, sehingga menampilkan keindahan alami kayu. Desain yang hebat membuat para pengunjung seakan berjalan di antara pepohonan.
Pada tiang-tiang yang berjajar inilah glulam digunakan. Menurut arsitek perancang Gaia, Toyo Ito dari Jepang, tujuan penggunaan kayu pada tiang-tiang ini adalah untuk memberikan penghuninya perasaan seolah berada di antara pepohonan. Foto: Nanyang Technological University
"Dalam membuat desain saya selalu mencoba membayangkan hubungan antara perasaan dan alam seperti pohon dan air," kata Toyo Ito, arsitek Jepang ternama yang terlibat dalam proyek ini kepada CNN (CNN edisi Senin, 5 Jun 2023). "Fakta, Anda menyebutkan bahwa rasanya seperti memasuki hutan menunjukkan bahwa visi saya terwujud," tambah arsitek yang pernah dianugerahi Pritzker Awards, penghargaan semacam "Nobel" untuk bidang arsitektur.
Bangunan ini memiliki auditorium berkapasitas 190 kursi dan selusin ruang kuliah. Ada fasilitas penelitian, kantor fakultas, dan teras belajar yang lapang. Selain toilet, pelat lantai dasar, dan tangga eksternal, yang dibangun menggunakan beton —sesuai regulasi Singapura—, strukturnya dibuat dari kayu yang dipanen dari pohon cemara di Austria, Swedia, dan Finlandia. Kayunya terlebih dahulu dibentuk dengan teknologi CLT sebelum dikirim ke Singapura.
PM Lee Kuan Yew pada tahun 1967 membangun Singapura dengan visi “Making Singapore into a Garden City” dan visi itu terus berlanjut hingga saat ini. Dalam imajinasi Lee, Singapura adalah sebuah taman dan kota Singapura dibangun di taman itu. Building city in the garden, no building garden in the city. Sejak itu, pemerintah negara pulau ini menggerakkan seluruh kekuatan untuk menanam pohon dan menghijaukan Singapura.
Gedung kampus baru setinggi enam lantai yang terbuat dari kayu berdiri tegak di NTU adalah bentuk penghormatan Singapura terhadap alam. Gedung yang lengkung lembut ini memiliki atrium yang disinari matahari, area belajar terbuka dengan latar belakang yang rimbun, dan lift yang turun ke hamparan tanaman tropis. Segalanya, mulai dari pegangan tangan hingga bangku, kusen pintu hingga pembatas ruangan, terbuat dari kayu.
Elemen-elemen kayu ini sebagian besar dibiarkan terekspos di seluruh bangunan, terlihat baik dari bagian luar maupun dalam dan diterangi oleh jendela-jendela besar dan skylight. Foto: Nanyang Technological University
Gaia melengkapi daftar bangunan berkelanjutan yang sudah ada di NTU, di antaranya Wave Sports Hall yang juga dibangun dari CLT. Selesai dibangun tahun 2017, Wave memiliki insulasi panas lima kali lebih baik dari bangunan beton. Bangunan ini memiliki atap bergelombang sepanjang 72 meter yang berdiri tanpa memerlukan kolom internal. Gaia adalah gedung zero energy kedelapan yang dimiliki NTU.
Gaia adalah proyek bangunan kedelapan di kampus NTU yang telah menerima Green Mark Platinum (Zero Energy), penghargaan tertinggi yang dikeluarkan oleh Building and Construction Authority of Singapore untuk mengakui bangunan yang mengonsumsi energi sebanyak yang mereka hasilkan. Saat ini, ada 16 bangunan zero energy bersertifikat di negara ini, yang setengahnya terletak di lahan NTU sekaligus menjadikan NTU kampus terhijau di Singapura.
Gaya minimalis Gaia yang ramah lingkungan dengan pencahayaan alami dan bergaya Skandinavia terlihat di setiap koridor, di setiap lantai seperti terlihat pada foto ini. Foto: Nanyang Technological University
Perusahaan besar dunia seperti Walmart hingga Microsoft telah menjajaki kayu sebagai bahan konstruksi yang berkelanjutan. Tapi, bukan kayu sembarang kayu, melainkan kayu yang sudah mendapatkan sentuhan teknologi seperti CLT.
Kemajuan teknologi dan kewajiban menjaga bumi mendorong berbagai negara maju menggunakan kayu sebagai bahan bangunan. Sejumlah negara bahkan mengizinkan pembangunan gedung dari kayu hingga hingga 25 lantai. Sebutlah Gedung Ascent, menara kayu atau skycrapers setinggi 86,6 meter di Wisconsin, AS yang dirancang oleh Korb + Associates Architects. Gedung kayu ini telah disertifikasi sebagai bangunan kayu tertinggi di dunia.
Ascent, yang menaungi apartemen mewah dan pertokoan, mengalahkan menara kayu tertinggi sebelumnya, Mjøstårnet, setinggi 85,4 meter di Norwegia, untuk meraih gelar tersebut. Ascent bersaing dengan sebuah gedung pencakar langit karya studio Denmark, Schmidt Hammer Lassen, sebuah blok perumahan setinggi 100 meter di Swiss yang akan menjadi gedung kayu tertinggi di dunia tahun 2026.
Kota-kota di Asia acap terlambat mengikuti tren dunia dibandingkan kota-kota di Eropa dan Amerika Utara. Kode bangunan Singapura hanya mengizinkan arsitektur kayu setinggi 24 meter (79 kaki) pada saat Gaia disetujui, meskipun pembatasan ketinggian ini telah dicabut. Ito, arsitek asal Jepang berusia 82 tahun, yakin bahwa Singapura menjadi negara Asia terdepan dalam mengikuti tren dunia.
Video: Courtesy of Nanyang Technological University Singapore
Keunggulan dan Tantangan CLT
Negara-negara di Eropa, khususnya Austria dan Jerman, merupakan pionir dalam pengembangan dan penggunaan cross laminated timber (CLT). Seiring dengan berjalannya waktu, penggunaannya meluas ke berbagai negara di Eropa seperti Inggris, Italia, dan Prancis. Eropa secara keseluruhan memimpin pasar global CLT, dengan pangsa pasar lebih dari 58,9% pada tahun 2022.
Selain itu, Jepang juga telah mengadopsi CLT secara signifikan dalam konstruksi bangunan, terutama dalam upaya mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi energi. Di negeri rawan gempa ini, CLT digunakan secara masif.
Di Amerika Utara, khususnya Amerika Serikat dan Kanada, penggunaan CLT semakin meningkat, didorong oleh kesadaran akan manfaat lingkungan dan efisiensi konstruksi yang ditawarkan oleh material ini. Secara keseluruhan, Eropa tetap menjadi kawasan dengan penggunaan CLT terbanyak, diikuti oleh Asia, terutama Jepang dan Amerika Utara.
Bahan baku CLT melimpah di Indonesia, di antaranya kayu sengon, jabon, jati putih, dan mahoni. Dengan bahan baku yang melimpah, CLT layak menjadi andalan bangunan rumah dan gedung di Indonesia, apalagi di wilayah ring of fire.
CLT, Kayu Laminasi Silang, merupakan produk panel kayu padat prefabrikasi, yang dibuat dengan melapisi beberapa lembar papan kayu, biasanya kayu lunak seperti cemara, pinus, atau fir, dalam orientasi yang bergantian. Di Indonesia, banyak jenis kayu lunak seperti sengon, jabon, dan jati putih.
Untuk menghasilkan produk CLT, lapisan kayu diikat bersama menggunakan perekat agar panel menjadi sangat kuat dan tahan lama. Panel CLT tersedia dalam berbagai ketebalan dan ukuran, tergantung pada persyaratan proyek bangunan tertentu. Jumlah lapisan pada panel umumnya berkisar tiga hingga tujuh, tetapi panel yang lebih tebal dapat diproduksi untuk struktur berskala besar.
Metode konstruksi yang unik—mengganti arah serat setiap lapisan—memberikan kekuatan dan stabilitas pada CLT. Teknik produksi ini membuat kekuatan CLT setara baja dan cocok untuk dinding dan lantai yang menahan beban. CLT menawarkan kekuatan seperti baja, tahan api, dan ringan dibandingkan material lain seperti beton.
Setidaknya terdapat lika keunggulan CLT. Pertama, CLT cocok dengan tema pembangunan berkelanjutan, dekarbonisasi, ekonomi hijau, dan pembangunan yang ramah lingkungan. Sebagai sumber daya terbarukan, kayu lebih ramah lingkungan dibanding bahan bangunan lainnya.
Saat tumbuh, pohon menyerap karbon dioksida dan bisa dipanen terus-menerus. CLT dapat diproduksi dengan jejak karbon yang minimal. Produksi panel CLT menghasilkan lebih sedikit limbah dibandingkan beton atau baja, dan limbah yang dihasilkan sering kali dapat didaur ulang atau digunakan kembali. Dengan demikian, CLT merupakan alat signifikan dalam mengurangi dampak lingkungan dari industri konstruksi.
Kedua, CLT memiliki kekuatan dan daya tahan yang andal. Meski terbuat dari kayu, CLT sangat kuat dan stabil. Proses laminasi silang meningkatkan kekuatan material, sehingga cocok untuk proyek konstruksi berskala besar, termasuk bangunan bertingkat hingga sky scarpers atau gedung pencakar langit. CLT tidak hanya tahan terhadap tekukan dan puntiran, tetapi juga berkinerja baik di area rawan gempa karena ketahanan beban lateralnya yang tinggi.
Ketiga, CLT memiliki isolasi termal yang sangat baik dan efisiensi energi yang tinggi. Kantong udara alami di dalam kayu menyediakan isolasi, sehingga mengurangi kebutuhan akan bahan isolasi tambahan ke dalam bangunan. Struktur CLT mempertahankan suhu dalam ruangan yang nyaman, yang membantu mengurangi konsumsi energi untuk pemanasan dan pendinginan. Hal ini selanjutnya berkontribusi pada keberlanjutan keseluruhan bangunan.
Keempat, pembangunan rumah dan gedung dengan CLT akan lebih cepat rampung dibandingkan dengan produk lainnya. Panel CLT dapat dibuat di luar lokasi, sehingga perakitan di lokasi dapat dilakukan lebih cepat. Hal ini mengurangi waktu konstruksi secara signifikan dibandingkan dengan metode bangunan tradisional di mana material seperti beton perlu diawetkan atau baja memerlukan fabrikasi yang ekstensif. Kecepatan konstruksi sangat bermanfaat bagi pembangunan rumah dan gedung dengan deadline yang pendek.
Kelima, bangunan dari CLT memberikan daya tarik tinggi. CLT memiliki estetika alami dan hangat yang sangat dihargai dalam arsitektur modern. Permukaan kayu yang terbuka dapat memberikan hubungan dengan alam, yang merupakan tren penting dalam desain bangunan kontemporer. Selain manfaat fungsionalnya, CLT menciptakan ruang yang menarik secara visual, menjadikannya pilihan populer untuk bangunan perumahan, komersial, dan institusional.
Meskipun menawarkan banyak manfaat, ada beberapa tantangan dalam penggunaan CLT. Pertama, biaya dan ketersediaan. Biaya pembuatan CLT masih mahal. Produksi CLT memerlukan fasilitas manufaktur khusus, dan materialnya bisa mahal karena yang dibutuhkan adalah kayu berkualitas tinggi dan tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi. Tidak semua negara memproduksi CLT.
Tantangan kedua, kode dan peraturan bangunan. Penggunaan CLT dalam konstruksi masih berkembang, dan kode dan peraturan bangunan mungkin belum sepenuhnya disesuaikan untuk mengakomodasinya. Kondisi ini dapat membuat proses mendapatkan persetujuan untuk desain berbasis CLT menjadi lebih rumit, terutama di wilayah yang didominasi oleh material bangunan tradisional seperti beton dan baja. Meskipun telah ada kemajuan dalam menggabungkan CLT ke dalam kode bangunan, terutama di Eropa dan Amerika Utara, penyesuaian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan penerimaannya secara luas.
Video: Courtesy of Wood Solutions
Tantangan ketiga adalah ketahanan CLT terhadap api. Meskipun telah terbukti memiliki sifat ketahanan api yang baik—lapisannya hangus dengan cara yang terkendali, yang dapat melindungi bagian dalam material—, CLT terkadang masih dianggap lebih rentan terhadap api dibanding baja. Tindakan pencegahan kebakaran tambahan, seperti lapisan pelindung atau sistem penyiram, mungkin diperlukan untuk memenuhi standar keselamatan kebakaran setempat, yang dapat meningkatkan biaya konstruksi.
Tantangan keempat, pengetahuan dan keahlian yang terbatas. CLT merupakan material yang relatif baru, sehingga diperlukan pendidikan dan keahlian yang lebih tinggi di kalangan arsitek, insinyur, dan pembangun. Memahami sifat dan perilaku CLT dalam berbagai aplikasi sangat penting untuk memastikan keberhasilan integrasinya ke dalam proyek konstruksi.
Menjanjkan
Masa depan CLT cukup menjanjikan. Dengan penelitian dan kemajuan teknologi, kualitas CLT akan mampu mengatasi semua tantangan. Meningkatnya permintaan akan solusi bangunan berkelanjutan, ditambah dengan kebutuhan untuk mengurangi jejak karbon industri konstruksi, kemungkinan akan mendorong penerapan CLT.
Sejalan dengan peningkatan teknik produksi dan skala ekonomi yang berlaku, biaya CLT akan menurun. Kondisi ini akan membuat CLT mudah dijangkau berbagai pihak. Dengan kemajuan teknologi konstruksi, integrasi CLT ke dalam pemodelan digital dan proses desain akan menjadi lebih efisien. Kampanye masif dan insentif pemerintah terhadap praktik konstruksi berkelanjutan, akan membuat CLT siap memainkan peran penting dalam membentuk masa depan desain dan konstruksi bangunan.
Didorong oleh meningkatnya permintaan akan bahan bangunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, pasar CLT pun telah berkembang pesat. Dengan meningkatnya kekhawatiran atas perubahan iklim dan dampak lingkungan dari industri konstruksi, CLT menawarkan alternatif yang menarik untuk bahan konstruksi tradisional seperti beton dan baja.
Properti —yang mengedepankan keberlanjutan, kekuatan, dan keserbagunaan— akan memposisikan CLT sebagai pilihan utama dalam proyek konstruksi modern. Kini semakin banyak negara dan korporasi yang tertarik membangun rumah dan gedung dengan teknologi CLT.
Inovasi Teknologi CLT
Ada sejumlah inovasi teknologi untuk industri CLT sebagai bahan bangunan. Pertama, manufaktur otomatis dan teknologi CNC0079. Salah satu inovasi teknologi paling signifikan dalam industri CLT adalah pengembangan proses manufaktur otomatis. Dengan diperkenalkannya mesin Kontrol Numerik Komputer (CNC), produksi CLT menjadi lebih cepat, lebih presisi, dan lebih efisien.
Teknologi CNC memungkinkan pemotongan, pembentukan, dan pengeboran panel CLT yang presisi, sehingga memungkinkan desain yang rumit dan ukuran panel yang disesuaikan untuk diproduksi dengan limbah minimal. Penggunaan router CNC dan mesin penggilingan memungkinkan pemotongan yang sangat rinci, seperti bukaan jendela, kusen pintu, dan fitur lainnya, untuk dimasukkan langsung ke panel CLT selama proses pembuatan.
Kemajuan ini mengurangi kebutuhan untuk modifikasi di lokasi, yang secara signifikan mempercepat alur waktu konstruksi. Selain itu, presisi mesin CNC memastikan produk berkualitas tinggi yang memenuhi persyaratan struktural dan mengurangi kesalahan dalam perakitan akhir.
Kedua, teknologi perekat dan pengikatan canggih. Perekat yang digunakan untuk mengikat lapisan kayu di CLT sangat penting untuk kekuatan, daya tahan, dan keberlanjutan lingkungan material.
Kemajuan terbaru dalam teknologi perekat telah mengarah pada pengembangan agen pengikat yang lebih ramah lingkungan dan berkinerja tinggi. Perekat tradisional mengandung formaldehida atau bahan kimia berbahaya lainnya, tetapi perekat modern dirancang agar rendah emisi dan tidak beracun, yang berkontribusi pada keberlanjutan CLT secara keseluruhan.
Jenis perekat struktural baru juga direkayasa untuk meningkatkan kekuatan ikatan antara lapisan kayu, membuat panel CLT lebih kuat dan lebih tahan terhadap faktor lingkungan seperti fluktuasi kelembaban dan suhu. Inovasi ini memastikan bahwa CLT mempertahankan integritas strukturalnya untuk jangka waktu yang lebih lama, bahkan dalam iklim yang menantang.
Ketiga, sistem CLT hibrida. Sistem CLT hibrida merupakan inovasi yang menggabungkan CLT dengan material lain untuk memaksimalkan kinerja. Sistem ini dapat menggabungkan panel CLT dengan beton, baja, atau kaca dengan cara yang memanfaatkan kekuatan masing-masing material. Misalnya, dalam sistem hibrida, CLT dapat digunakan untuk dinding dan lantai, sedangkan beton atau baja dapat digunakan untuk fondasi atau rangka struktural.
Pengembangan sistem CLT hibrida memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar dalam desain arsitektur dan kemampuan untuk memenuhi persyaratan bangunan tertentu. Sistem hibrida juga mengatasi beberapa keterbatasan CLT, seperti kapasitas menahan beban yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan beton atau baja, sambil tetap mempertahankan keberlanjutan dan daya tarik estetika kayu.
Keempat, peningkatan keamanan dari kebakaran. Meskipun CLT telah terbukti relatif tahan api karena kemampuannya yang unik untuk hangus di bagian luar sambil mempertahankan kekuatan di bagian inti, inovasi keamanan kebakaran terus memainkan peran penting dalam meningkatkan kinerja material di lingkungan berisiko tinggi. Kemajuan dalam pelapis tahan api dan cat intumescent telah meningkatkan sifat ketahanan api CLT secara signifikan.
Video: Courtesy of System TM
Pelapis intumescent mengembang saat terkena panas, membentuk lapisan isolasi yang melindungi kayu dari api langsung. Selain itu, perawatan tahan api diterapkan pada kayu sebelum diproduksi menjadi panel CLT, meningkatkan kemampuannya untuk menahan api tanpa mengorbankan integritas strukturalnya.
Lebih jauh lagi, teknologi pengujian dan pemodelan kebakaran telah meningkat, memungkinkan para insinyur untuk lebih memahami perilaku CLT dalam skenario kebakaran. Hal ini memungkinkan pengembangan kode dan peraturan bangunan yang lebih tepat yang memfasilitasi penggunaan CLT di gedung-gedung bertingkat tinggi dan berskala besar sambil memastikan keselamatan.
Kelima, desain digital dan BIM. Building Information Modeling (BIM) telah merevolusi cara CLT dirancang dan diintegrasikan ke dalam proyek konstruksi. BIM memungkinkan visualisasi digital struktur CLT sebelum konstruksi dimulai, memastikan bahwa setiap komponen dioptimalkan untuk estetika dan integritas struktural. Desainer dan arsitek dapat membuat model 3D bangunan yang presisi, yang kemudian digunakan untuk membuat rencana dan jadwal terperinci untuk prafabrikasi panel CLT.
Melalui BIM, proses prafabrikasi panel CLT menjadi lebih efisien, karena spesifikasi yang tepat dikomunikasikan langsung ke fasilitas manufaktur. Selain itu, BIM membantu dalam mengoordinasikan proses pemasangan, karena panel dipotong, diberi label, dan dikirim dalam urutan yang telah diatur sebelumnya untuk mengurangi waktu perakitan di lokasi. Integrasi CLT dengan BIM merupakan inovasi teknologi utama yang meningkatkan kolaborasi, mengurangi kesalahan, dan meningkatkan efisiensi konstruksi.
Keenam, teknologi pemantauan lingkungan dan keberlanjutan. Karena keberlanjutan merupakan keunggulan utama CLT, teknologi pemantauan lingkungan telah dikembangkan untuk melacak jejak karbon CLT sepanjang siklus hidupnya—mulai dari pengadaan bahan baku hingga produksi, transportasi, dan pembuangan atau daur ulang di akhir masa pakai. Alat Penilaian Siklus Hidup (LCA) digunakan untuk mengevaluasi dampak lingkungan CLT relatif terhadap bahan lain, yang memberikan analisis komprehensif tentang potensi penghematan karbonnya.
Teknologi ini membantu meningkatkan keberlanjutan produksi CLT dengan mengidentifikasi area di mana konsumsi sumber daya dapat diminimalkan atau limbah dapat dikurangi. Misalnya, beberapa produsen sekarang menggunakan kayu dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan, dan ada peningkatan upaya untuk menggunakan kayu limbah atau sisa kayu dari industri lain sebagai bahan baku CLT. Selain itu, teknologi baru sedang dikembangkan untuk mendaur ulang CLT di akhir masa pakainya, yang selanjutnya mengurangi dampak lingkungannya.
Ketujuh, CLT untuk aplikasi bangunan tinggi dan menjulang. Inovasi terkini dalam bidang teknik telah memungkinkan CLT digunakan di gedung-gedung tinggi, termasuk bangunan bertingkat menengah dan tinggi.
Di masa lalu, kayu terutama digunakan untuk bangunan bertingkat rendah karena kekhawatiran tentang kekuatan dan ketahanannya terhadap api. Namun, kemajuan baru dalam rekayasa struktur dan ilmu material telah memungkinkan untuk membangun bangunan CLT bertingkat, bahkan mencapai ketinggian hingga 18 lantai atau lebih.
Penggunaan CLT di gedung-gedung tinggi dimungkinkan oleh peningkatan kinerja seismik dan desain struktural, khususnya penggunaan sistem hibrida yang menggabungkan CLT dengan material lain. Inovasi dalam desain seismik memungkinkan bangunan CLT lebih tahan terhadap gempa bumi, sehingga cocok untuk daerah yang rentan terhadap aktivitas seismik.
Kedelapan, konstruksi modular dan pracetak. Konstruksi modular menggunakan CLT merupakan bidang kemajuan teknologi lainnya. Dengan sistem CLT modular, seluruh bagian bangunan, seperti dinding, lantai, dan langit-langit, dibuat terlebih dahulu di lingkungan pabrik sebelum diangkut ke lokasi konstruksi untuk perakitan cepat. Hal ini tidak hanya mempercepat konstruksi tetapi juga meminimalkan limbah dan meningkatkan kontrol kualitas. Inovasi dalam sistem CLT modular telah memungkinkan terciptanya bangunan yang fleksibel dan dapat diskalakan, sehingga memudahkan modifikasi dan perluasan. Sistem ini sangat populer di daerah perkotaan, di mana permintaan akan solusi perumahan yang cepat, hemat biaya, dan berkelanjutan tinggi.
Bangunan Kayu di IKN
Pemindahan ibukota negara dari Jakarta ke wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sudah dikukuhkan lewat UU No 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara (UU IKN). Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Basuki Hadimuljono menyampaikan dua milestone besar yang akan menjadi acuan dalam pembangunan IKN pada waktu akan datang. Tonggak penting itu diharapkan menjadi penanda progres signifikan dalam mewujudkan IKN sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi baru yang modern.
Tonggak sejarah penting pertama adalah tahun 2025 dan kedua tahun 2028. Apabila Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) menyatakan siap, demikian Basuki, ASN sudah bisa pindah ke IKN. Rumah hunian, kantor, dan fasilitas pendukung lainnya —seperti air, listrik, serta pertokoan— sudah siap melayani ASN.
Sedang pada tahun 2028, pemerintah akan menyelesaikan pembangunan infrastruktur untuk legislatif dan yudikatif, termasuk kantor dan hunian para pejabatnya. “Pembangunan terus berjalan,” katan Basuki usai mengikuti Musyawarah Rencana Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) terkait Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 di Kantor Kementerian PPN/Bappenas pada Senin (30/12/2024).
Wilayah IKN terdiri atas wilayah darat dan laut. Luas wilayah darat sekitar 256.142 hektare (ha). Sedang luas wilayah perairan laut kurang lebih 68.189 ha. Wilayah darat IKN terbagi menjadi dua kawasan, yaitu kawasan IKN dengan luas kurang lebih 56.180 ha yang akan menjadi kawasan inti pusat IKN. Wilayah yang jauh lebih luas, 199.962 ha, 78%, adalah kawasan pengembangan. Sekitar 65% kawasan pengembangan dikelola menjadi kawasan hutan.
Pemerintah akan melakukan reforestasi atau penghutanan kembali. Saat ini sudah jutaan pohon lokal yang ada di pembibitan di IKN. Langkah forestasi didukung oleh komunitas yang terlibat dalam 'Green Movement: Sabuk Hijau Nusantara'. IKN telah meluncurkan Nusantara Net Zero Strategy 2045 di COP-28 di Dubai dan akan meluncurkan Nusantara Nature Positive Plan (Rencana Induk Keanekaragaman Hayati) yang selaras dengan Kunming Montreal Global Biodiversity Framework.
IKN juga membentuk Komite ESG untuk memandu pembangunan IKN agar terus sejalan dengan prinsip-prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola internasional. Sangat tepat jika pembangunan rumah dan gedung di IKN ke depan menggunakan kayu dengan teknologi CLT. Semua rumah dan gedung baru di IKN terbuat dari CLT.
Akan ada korporasi yang tertarik membangun rumah dan gedung dari kayu di IKN. Kita berharap perusahaan yang membangun rumah dan gedung dari kayu di IKN juga membangun mesinnya.
Seperti rencana awal, IKN bukan saja menjadi ibukota negara, green city, dan digital city, melainkan juga sebuah kota masa depan yang menjadi contoh bagi kota-kota di Indonesia dan dunia. Ke depan, perlu ada sky scrapers di IKN yang dijadikan landmark di ibukota baru. Teknologi CLT sangat memungkinkan untuk mengakselerasi pembangunan rumah dan gedung di IKN.
Bukan hanya itu. Kayu dengan sentuhan teknologi CLT juga sangat tepat diimplementasikan pada program pembangunan tiga juta rumah yang tengah digencarkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. (Tim Investortrust, diolah dari berbagai sumber).

