Menilik Upaya BRI Akrabkan Digitalisasi ke Nasabah di Tengah Kesenjangan Infrastruktur Digital
JAKARTA, investortrust.id – Meski terkenal sebagai banknya wong cilik, namun PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) tak bernyali kecil dalam pengembangan digitalisasi. Apalagi ada gap adopsi digital khususnya di perdesaan dan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang masih menjadi pekerjaan rumah bangsa ini.
Bank pelat merah itu bahkan menjadi satu-satunya bank yang memiliki satelit. Mengangkasa sejak Juni 2016, satelit BRI alias BRIsat berhasil mengakrabkan nasabah di pelosok Tanah Air dengan digitalisasi.
Indonesia menuju era masyarakat tanpa uang tunai (cashless society). Membawa smartphone pun lebih penting dibanding dompet. Semua layanan perbankan, mobile banking dan internet banking, bisa dilakukan lewat alat komunikasi canggih itu. Cukup aktifkan aplikasi layanan digital banking, transaksi bisa langsung terjadi lewat QR atau quick response code.
Digital banking berkembang pesat karena kemajuan digitalisasi, pertumbuhan smartphone, dan gaya hidup masyarakat, terutama Gen Y dan Z. Perbankan berlomba mengembangkan layanan digitalisasinya demi efisiensi dan peningkatan kualitas layanan kepada nasabah.
Department Head of IT Strategy & Enterprise Architecture Division BRI Yosep Lie menuturkan, BRI akan terus mengupayakan transformasi digitalnya. Langkah itu untuk terus mendukung inklusi keuangan dan memberikan layanan terbaik bagi seluruh masyarakat di Indonesia.
Dalam mengembangkan digitalisasi, Yosep mengatakan tak sedikit tantangan yang dihadapi. Hal itu mengingat, Indonesia merupakan negara kepulauan yang sulit terjangkau dari sisi infrastruktur. Namun, bank dengan kode emiten BBRI itu selalu berkomitmen untuk mengupayakan semampunya menjangkau pelosok-pelosok yang sulit terjangkau. Apalagi, BRI juga sudah memiliki satelit sendiri untuk mencapai target digitalisasi yang merata.
Selain memberikan pelayanan yang nyaman, BRI yang akan menginjak usia 129 tahun pada 16 Desember 2024 mendatang, sambungnya juga memastikan untuk memberikan keamanan bagi seluruh nasabah.
“Apalagi dimulai dari Oktober lalu, sudah ada undang-undang perlindungan data nasabah. Terkait ini tentunya kami sangat peduli sekali untuk selalu meningkatkan infrastruktur dan kapabilitas di sisi keamanannya,” kata Yosep kepada investortrust.id di Jakarta, Selasa (26/11/2024).
Baca Juga
Keberadaan AgenBRILink di Wilayah Transmigrasi Merauke Dorong Kemajuan Ekonomi Lokal
Direktur Eksekutif Intellectual Business Community (IBC) Bayu Prawira Hie menyatakan, digital banking untuk kemaslahatan masyarakat tidak hanya berbicara tentang Jakarta saja, melainkan untuk kemasalahatan seluruh masyarakat Indonesia.
“Bank perlu memastikan bahwa mereka available untuk seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya Jakarta atau seluruh rakyat Jawa. Karena itu penting juga untuk melihat daerah-daerah di tier tiga yang perlu dilayani, karena tujuan utama yang ingin dicapai oleh regulator adalah financial inclusion," ujar Bayu kepada investortrust.id baru-baru ini.
Sharing Economy
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, transaksi digital banking selama Oktober 2024 mencapai 1.960,8 juta transaksi atau tumbuh sebesar 37,1% year on year (yoy). Sedangkan transaksi uang elektronik tumbuh 27% (yoy) mencapai 1.365,4 juta transaksi.
Sebaliknya, pembayaran menggunakan kartu ATM pada bulan Oktober 2024 turun 11,4% (yoy) menjadi 558,8 juta transaksi. Penggunaan digital banking juga bertumbuh pesat berkat QRIS yang mulai diperkenalkan tahun 2019. Transaksi QRIS terus bertumbuh pesat 183,9% (yoy), dengan jumlah pengguna sampai dengan Oktober 2024 sebesar 54, 1 juta dengan jumlah merchant 34,7 juta.
BI memproyeksikan nilai transaksi digital banking 2024 meningkat 23,2% mencapai Rp 71.584 triliun dan pada tahun 2025 tumbuh 18,8% pada menjadi Rp 85.044 triliun.
Layanan digital banking sudah menciutkan jumlah kantor cabang. Pada tahun 2014 terdapat 118 bank dengan 32.739 kantor cabang. Tahun ini, jumlah bank 105 dan kantor cabang 24.276. Kantor cabang turun 8.467 atau 25,8%.
Tak terkecuali bagi BRI yang telah mengurangi jumlah kantornya, guna mengakselerasi inklusi keuangan dan menciptakan sharing economy bagi masyarakat. Apalagi BRI terus memperkuat komitmennya dalam pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan memberikan akses pembiayaan dan pendampingan intensif bagi para pelaku UMKM di daerah 3T.
Berdasarkan data, jumlah kantor BRI pada September 2024 mencapai 7.594 kantor, angka tersebut menurun dibandingkan jumlah kantor pada tahun 2020 sebanyak 9.030 kantor.
Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan, sebagai bank yang memiliki portofolio terbesar di UMKM, BRI telah mengurangi sebagian jumlah kantornya dan mengalihkan layanan perbankannya melalui AgenBRILink. Layanan kantor yang ditutup kemudian dialihkan kepada para AgenBRILink yang tersebar di warung-warung. AgenBRILink sendiri bisa disebut sebagai salah satu channel digital yang dimiliki BRI.
Menurut Sunarso, hal ini merupakan bagian dari transformasi BRI tahap kedua, yang disebut BRIvolution 2.0. Aspirasinya, BRI ingin menjadi “The Most Valuable Banking Group in Southeast Asia and Champion of Financial Inclusion,". Di mana dalam fase ini, inklusi menjadi kunci.
Hasil riset BRI menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya digital. Masih lebih banyak yang menyukai layanan perbankan lewat agen.
"Jangankan digital, ke bank saja masih enggan, masih lebih senang lewat warung-warung yang sifatnya dekat dengan rumah. Tapi intinya adalah masih butuh physical presence dan personal touch," kata Sunarso dalam keterangan persnya baru-baru ini.
Sunarso menggambarkan, AgenBRILink persis seperti layanan kantor cabang BRI yang sesungguhnya, namun dalam bentuk agen. Agen-agen tersebut bisa berupa warung, toko kelontong, dan lain sebagainya.
"Tujuannya supaya menjangkau masyarakat lebih luas, dalam, dan murah dengan tujuan meningkatkan inklusi keuangan tadi di wilayah-wilayah terutama yang tidak terjangkau oleh layanan bank secara formal," imbuh Sunarso.
Berdasarkan data yang diterima Investortrust, saat ini AgenBRILink terus bertumbuh dan jumlahnya sudah mencapai 1,02 juta agen di seluruh Indonesia pada tahun ini. Padahal, pada tahun 2015, jumlah AgenBRILink masih sekitar 75 ribu.
Dari sisi bisnisnya juga potensial. Sunarso membeberkan pada tahun lalu, BRI menerima fee sebesar Rp 1,19 triliun dari AgenBRILink. Di mana, agen menerima sekitar dua kali lipat dari fee yang diterima BRI tersebut. Karena, porsi fee yang diterima mereka lebih besar daripada yang diterima oleh BRI.
"Itulah kehadiran BRI dengan agen dengan merelakan menutup sebagian cabang-cabangnya dan bisa tetap melayani masyarakat justru lebih dalam, lebih luas, dan kemudian lebih menjangkau masyarakat lebih banyak. Ternyata transaksi lewat warung-warung itu volumenya sangat besar,” tambah Sunarso.
UMKM memiliki peran besar bagi perekonomian, meski banyak yang belum terjangkau oleh perbankan. Tak heran, Menteri Keuangan Sri Mulyani secara khusus meminta manajemen BRI untuk terus memperluas akses pembiayaan bagi usaha mikro.
Selain akses, masalah lain yang dihadapi pelaku usaha ultra mikro adalah affordability. Untuk itu, Menkeu mengharapkan BRI melalui AgenBRILink mampu melakukan penetrasi hingga masyarakat terkecil.
"Saya harapkan agar BRI lakukan penetrasi melalui AgenBRILink dan bahkan beroperasinya tidak perlu bangunan, agen itu juga identik dengan pemilik warung," ucap Sri Mulyani.
Baca Juga
Unggul Dalam Tata Kelola, BRI Dinobatkan Sebagai The Most Trusted Company 2024
Ekosistem Super Apps
Selain AgenBRILink, BRI juga masih memiliki channel digital lainnya sebut saja BRImo dan BRIAPI.
Sunarso menegaskan, BRI akan terus memperkuat ekosistem super apps BRImo sebagai salah satu strategi transformasi digital dalam menghadirkan kemudahan bertransaksi.
Saat ini super apps BRImo menjadi aplikasi mobile banking dengan rating terbaik dibandingkan aplikasi perbankan konvensional lainnya di Indonesia. Data tersebut didapatkan berdasarkan jumlah pengunduh pengguna Android (Playstore) dan IOS (AppStore).
Tercatat, para pengguna Android memberikan rating 4,7 dengan 1 juta review, sementara pengguna IOS memberikan rating 4,7 dengan total 147 ribu review. Fakta ini menunjukkan kepuasan para pengguna BRImo terhadap aplikasi tersebut.
BRImo dilengkapi dengan fitur untuk top up uang digital, tagihan, setor tarik dan tunai, lifestyle, asuransi, donasi, konversi valas hingga catatan keuangan. Bahkan BRImo juga punya fitur investasi. Fitur ini memungkinkan nasabah untuk investasi melalui deposito, emas, SBN, dan dana pensiun lembaga keuangan (DPLK).
Meski BRImo telah memiliki lebih dari 100 fitur, BRI terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan pengguna dari berbagai segmen. Fitur BRImo juga semakin lengkap setelah memiliki fitur QRIS antar negara.
Berdasarkan data, transaksi BRImo hingga 30 September 2024 mencapai Rp 4.034 triliun. Volume transaksi tersebut tumbuh 35,2% secara tahunan. Di mana, pengguna BRImo sebanyak 37,1 juta pengguna.
Sunarso mengatakan, kehadiran BRImo untuk mengakomodasi kebutuhan digital nasabah, terutama generasi muda. Inovasi BRImo terbukti mampu mendorong peningkatan jumlah nasabah tabungan, khususnya di kalangan milenial dan generasi muda yang semakin digital-savvy.
Integrasi Layanan Digital
Seiring kebutuhan layanan perbankan yang cepat dan mudah semakin tinggi, dalam mengembangkan digitalisasi, BRI juga memiliki layanan BRIAPI. BRIAPI adalah sebuah antarmuka pemrograman aplikasi atau application programming interface (API) yang dikembangkan oleh BRI yang memungkinkan integrasi antara aplikasi pihak ketiga dengan layanan BRI.
Hadir sejak tahun 2018, BRIAPI merupakan solusi open banking yang memungkinkan ribuan mitra pihak ketiga mengintegrasikan berbagai produk dan layanan BRI ke dalam platform masing-masing. BRIAPI juga dirancang mempermudah pemilik platform digital untuk menyediakan layanan pembayaran dan informasi dari BRI.
Melalui pengembangan BRIAPI bersama inisiatif digital lain, BRI berpartisipasi dalam percepatan digitalisasi layanan. Dengan berbagai inovasi berkelanjutan yang dihadirkan, BRI optimis akan dapat menciptakan ekosistem perbankan yang lebih inklusif.
Di akhir tulisan ini, bisa disimpulkan menjadi satu pantun yang ciamik berikut ini:
“Berjalan kaki di jalanan desa
Melihat sawah luas mempesona
BRI hadir membawa asa
Digitalisasi pun merata hingga pelosok bumi Indonesia”

