Paus Fransiskus Menggeser Kepemimpinan Monarkis Menuju Servant Leadership
JAKARTA, investortrust.id – Kehadiran fisik Paus Fransiskus di Indonesia pada 3-6 September 2024 penting, baik sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia maupun kepala negara Vatikan. Namun, teladan hidupnya juga sangat penting, yakni menunjukkan pergeseran dari pola kepemimpinan monarkis raja menuju kepemimpinan yang servant leadership, yakni kepemimpinan yang melayani.
Hal itu dikatakan Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Hardjoatmodjo, dalam konferensi pers kunjungan apostolik Paus Fransiskus di Indonesia tahun 2024, di Jakarta, Rabu (28/8/2024). Indonesia akan menjadi negara pertama dalam rangkaian kunjungan Paus ke Indonesia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura dari tanggal 2 hingga 13 September 2024.
“Kehadiran fisik Paus Fransiskus di Indonesia itu sangat penting, tetapi yang juga tidak kalah penting adalah mempelajari gagasan-gagasannya, memperdalamnya. Bukan hanya ajaran-ajarannya, tetapi juga teladan hidupnya,” kata Uskup Agung Ignatius.
Baca Juga
Pertemuan Paus Fransiskus dan Jokowi Akan Bahas Apa? Ini Kata Protokol Negara
Ignatius membeberkan, pada tahun 2014, ada satu penelitian yang dilakukan oleh suatu majalah internasional mengenai peranan 50 pemimpin dunia. Uskup Agung terkaget-kaget waktu itu, karena meski baru 1 tahun menjadi paus, penelitian itu menempatkan Paus Fransiskus sebagai nomor satu di antara 50 pemimpin sejagad yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap kemanusiaan. Sementara Angela Merkel, pada waktu itu sebagai perdana menteri Jerman, ada di nomor dua.
“Ini sangat menarik, oleh karena itu saya mencoba untuk meneliti, mempelajari riwayat hidupnya. Gagasannya dan pilihan hidupnya ternyata berawal waktu Beliau berusia 17 tahun, namanya masih Jorge Mario Bergoglio. Ia mau pergi ke pesta perayaan hari orang-orang muda di Argentina 21 September, dan dalam perjalanan itu dia melewati satu gereja Katolik dan melihat seorang pastor. Dia mengambil keputusan untuk menerima sakramen tobat dan mendapat pengalaman yang menancap di dalam batinnya, yaitu Allah yang Maha Rahim,” tuturnya.
Bergoglio kemudian menjadi Uskup di Buenos Aires, Argentina. Saat ditanya seorang wartawan, Paus menegaskan bahwa Allah bernama Kerahiman, Mercy is the name of God, adalah pengalaman yang sangat mendalam.
“Pengalaman otentik tentang Allah yang kerahimannya tanpa batas yang dialaminya itu berbuah pada transformasi pribadi. Bertransformasi kalau bahasa lainnya hidupnya diperbaharui, kalau memakai istilah alkitabiyah, ia mengenakan manusia baru menanggalkan manusia lama,” ucap Uskup Agung.
Transformasi pribadi pilihan lain, ketika pertama kali Paus keluar dari Vatikan, yang dituju adalah suatu pulau kecil di bagian selatan Italia, Pulau Lampedusa. Tempat inilah para pengungsi imigran dari Afrika masuk ke Eropa, untuk mencari hidup yang baru, seperti Pulau Galang di Indonesia tahun 1970-an.
Paus di pulau itu merayakan Ekaristi, altarnya perahu rusak, tidak seperti altar di Katedral atau gereja-geraja lain yang dihias dengan bunga. Altar perahu rusak ini yang dipakai oleh para imigran menuju Tanah Harapan Baru, tapi tidak sampai tenggelam di laut.
Transformasi pribadi atau pilihan-pilihan ini berbuah pada transformasi institusi gereja, yang sedang berubah dan terus berubah. Sekarang, Paus tidak tinggal di Istana Kepausan, tetapi tinggal bersama dengan para fungsionaris Vatikan, pilihan yang sangat simbolik, simbol dari pergeseran dari pola kepemimpinan monarkis raja menuju kepemimpinan yang melayani.
Perubahan besar pilihan lain yang juga sangat simbolik adalah, saat hari Kamis Putih menjelang Paskah, di mana ada upacara pembasuhan kaki memperingati Yesus membasuh kaki 12 rasul atau muridnya. Jika sebelumnya 12 ‘rasul’ yang dibasuh paus pasti semuanya laki-laki dan tokoh-tokoh terpandang, Paus Fransiskus dalam masa pontifikat atau kepausannya juga mencuci kaki perempuan dan saudara-saudara kita yang sedang berada di penjara dibasuh kakinya, dicium kakinya.
“Bukan pula hanya orang Katolik, tetapi Muslim juga dicuci kakinya. Transformasi institusi yang sedang berjalan di dalam gereja, dan transformasi itulah yang sedang berjalan dalam sinode yang sudah berlangsung tahun 2023 sampai tahun 2024,” tandas Uskup Agung.
Transformasi itu, lanjut dia, bisa bermacam-macam buah dan harapannya. Kita bisa belajar dari Paus Fransiskus.
“Kita semua orang-orang beriman, saya sengaja tidak menggunakan kata agama, karena agama itu bisa dimanipulasi dipakai untuk alat politik dan sebagainya. Tetapi kalau iman tidak, iman yang otentik tandanya adalah transformasi-transformasi pribadi, akan berbuah pada transformasi institusi. Kalau proses ini berjalan, di dalam bangsa Indonesia, negara kita akan menjadi negara yang seperti dicita-citakan dalam Pembukaan Undang-Undang (Dasar 1945),” tandasnya.
Cita-cita dalam Pembukaan UUD 1945 adalah untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu, ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Maka, disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Cita-cita itu, tandas Ignatius, tidak kita sekadar menunggu. Berharap pun artinya berjuang.
“Harapan itu bukan hanya hitung-hitungan manusia, tetapi iman dalam rumusan iman Katolik: Allah yang telah memulai karya yang baik akan menyelesaikannya juga. Berjuang itu adalah bagian dari harapan,” paparnya.
Ada komunitas-komunitas kecil yang berjuang untuk kesetaraan gender misalnya, lanjut Ignatius, itu tanda pengharapan. Ada komunitas-komunitas yang karena tergerak hatinya, tanpa bantuan dari siapa pun mengundang teman-temannya untuk aktif dalam menanggulangi stunting misalnya, ini juga tanda pengharapan.
Ada sekian banyak orang-orang muda yang berusaha untuk saling berdialog, untuk bercerita mengenai agamanya, supaya karena mengenal, semakin dekat relasinya, itu juga tanda pengharapan. Hal ini semakin memudahkan harapan pemerintah untuk mengembangkan moderasi beragama.
“Itulah yang dimaksudkan Paus Fransiskus adalah Peziarah Pengharapan. Moga-moga dengan memberi nama Paus Fransiskus itu Peziarah, pengharapan kita semua masyarakat Indonesia semakin terdorong untuk menjadi tanda-tanda pengharapan dalam tindakan-tindakan yang sungguh-sungguh memuliakan martabat manusia, selalu mengusahakan kebaikan bersama,” tuturnya.
Ignatius pun mengutip salah satu penulis sejarah Inggris yang bernama Arnold Joseph Toynbee, yang meneliti sejarah sepanjang 19 abad. Toynbee sampai pada kesimpulan sejarah umat manusia itu naik turun, kadang-kadang hebat, kadang-kadang jatuh. Kalau sejarah umat manusia itu tidak sampai hancur, yang menyelamatkan sejarah umat manusia adalah minoritas kreatif, bukan minoritas-mayoritas.
“Bukan minoritas-mayoritas, tetapi saudara-saudara kita yang mempunyai keyakinan iman kuat, yang mempunyai idealisme mulia itulah yang menyelamatkan sejarah umat manusia. Kita juga semua tahu, kalau membuka macam-macam kegiatan di negara kita ini, amat banyak kelompok-kelompok kecil komunitas-komunitas kecil yang menjadi tanda-tanda pengharapan itu,” ucap Uskup Agung.
Perkuat Tali Persaudaraan Antarumat Beragama
Tim Media Kunjungan Paus Fransiskus menjelaskan, Indonesia akan menjadi negara pertama dalam rangkaian kunjungan Paus, yaitu pada tanggal 3 hingga 6 September 2024. Sesudah itu, Paus mengunjungi Port Moresby (Papua Nugini) dan Vanimo dari tanggal 6 hingga 9 September, Dili (Timor Leste) dari 9 hingga 11 September, dan Singapura dari 11 hingga 13 September.
Paus Fransiskus adalah Paus ketiga yang berkunjung ke Indonesia. Pertama adalah Paus Santo Paulus VI yang berkunjung pada 3-4 Desember 1970. Sembilan belas tahun kemudian, Paus Santo Yohanes Paulus II berkunjung ke Indonesia pada 9-14 Oktober 1989. Sekarang, sesudah 35 tahun, Paus Fransiskus melakukan perjalanan apostolik ke Indonesia.
Mengangkat tema “Iman, Persaudaraan, dan Bela Rasa”, kunjungan Paus ini merupakan momen bersejarah dan sangat penting bagi umat Katolik di Indonesia, serta menjadi bagian dari upaya memperkuat tali persaudaraan antarumat beragama. Menurut Uskup Agung Jakarta Ignatius, kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Katolik dan masyarakat secara umum, yaitu penguatan iman dan persatuan.
Dalam keterbatasan kesehatan dan usianya, Paus tetap bersedia mengunjungi dan berjumpa langsung dengan umatnya. Ia menunjukkan kasih kebapaannya untuk meneguhkan dan menguatkan iman umat.
”Kunjungan Paus kiranya memperkuat dialog antaragama dan perdamaian. Paus Fransiskus juga menunjukkan perhatian pada isu sosial dan kemanusiaan melalui kunjungan ini, ia konsisten menunjukkan perhatian terhadap kaum miskin, lingkungan hidup, dan keadilan sosial,” ucap Ignatius.
Kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk menyoroti isu-isu sosial dan kemanusiaan yang relevan di Indonesia. Selain itu, mendorong umat Katolik dan masyarakat luas untuk lebih peduli dan terlibat dalam upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
“Paus Fransiskus dikenal dengan sikapnya yang terbuka terhadap berbagai budaya dan tradisi lokal. Kunjungan ini juga dapat dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap kebudayaan lokal dan tradisi Indonesia yang kaya. Hal ini mengingatkan bahwa iman Katolik dapat berakar dalam konteks budaya lokal, tanpa kehilangan identitas universalnya,” tandas Ignatius.
Kehadiran Paus yang berusia 87 tahun di Indonesia juga menjadi inspirasi bagi umat, untuk setia menjadi saksi kasih Allah di tengah masyarakat. Paus sering mengajak umat untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai Injil, seperti cinta kasih, pengampunan, dan kerendahan hati. Kunjungan ini bisa memotivasi umat untuk lebih aktif dalam memberikan kesaksian iman, melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Gereja Indonesia sangat bersyukur dan bersuka cita menyambut kedatangan Paus Fransiskus. Ini sebuah peristiwa luar biasa, penting, dan bersejarah,” kata Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC.
Ia mengungkapkan, ada 56 panitia inti dan 107 relawan inti terlibat dalam persiapan ini. Bersama dengan panitia, KWI bekerja sama dengan pemerintah dan otoritas yang berwenang untuk mengatur logistik, koordinasi keamanan, transportasi, protokol kesehatan, dan publikasi media. Antonius menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pemerintah yang telah menunjukkan kesungguhan hati dalam menyambut Paus.
“Gereja Indonesia bekerja bersama dalam menyelenggarakan Perayaan Ekaristi di Stadion Gelora Bung Karno tanggal 5 September 2024. Keuskupan-keuskupan dan paroki mengorganisasi umatnya untuk dengan tertib, boleh hadir dalam perayaan Ekaristi. Para imam juga akan menjadi konselebran dan membantu membagikan komuni. Tercatat 1.270 imam dan 65 uskup dan kardinal akan hadir dalam perayaan ekaristi ini,” urainya.
Gereja Katolik di Indonesia, lanjut Antonius, mendorong umat memaknai dan merefleksikan nilai-nilai hidup yang dianut dan diajarkan oleh Paus Fransiskus, utamanya yang juga tertulis dalam tema kunjungan di Indonesia yaitu “Iman, Persaudaraan, dan Bela Rasa”. Selain itu, nilai-nilai yang selalu dijunjung oleh Paus Fransiskus seperti perdamaian, toleransi, dan kerja sama lintasagama.
Media dan Komunikasi Penting
Persiapan media dan komunikasi juga tak kalah penting. Gereja Indonesia mempersiapkan strategi media dan komunikasi untuk menyebarluaskan informasi tentang kunjungan Paus, termasuk pemanfaatan platform digital.
Gereja juga berkolaborasi dengan media Vatikan dan media internasional lainnya serta media lokal untuk meliput kunjungan Paus, dan memastikan pesan-pesan penting tersampaikan dengan baik. Dengan langkah ini, Gereja Katolik di Indonesia ingin memastikan bahwa kunjungan Paus Fransiskus tidak hanya menjadi momen yang berkesan, tetapi juga momen transformasi spiritual yang memperkuat iman, memperdalam persaudaraan, dan mempromosikan perdamaian di antara seluruh umat manusia.
Kantor Pers Tahta Suci Vatikan secara resmi telah mengumumkan agenda kegiatan Perjalanan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia, Papua Nugini, Timor-Leste, dan Singapura melalui website www.vatican.va pada Jumat, 5 Juli 2024. ”Hingga saat ini, agenda perjalanan masih sesuai dengan rencana,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Panitia Kunjungan Bapa Suci Fransiskus, Ignasius Jonan.
Dari sejumlah agenda Paus Fransiskus di Indonesia, salah satu yang akan melibatkan banyak umat adalah Misa Suci di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Di tempat acara ini sebelum mengikuti perayaan Ekaristi Bersama Bapa Suci, umat akan mengikuti rangkaian acara yang sudah dipersiapkan oleh panitia.
Acara tersebut, di antaranya, dengan melibatkan penyanyi Tanah Air seperti Lyodra dan Lisa A Riyanto, serta bersama choir dari berbagai daerah berjumlah 600 orang. Umat akan diajak untuk memuji dan memuliakan Tuhan lewat lagu, sembari menanti kehadiran Bapa Suci.
Dukungan media untuk meliput agenda Perjalanan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia juga dinilai luar biasa. Tercatat, saat ini, ada 732 jurnalis telah terdaftar untuk melakukan peliputan, di antaranya adalah 88 jurnalis yang ikut dalam penerbangan Paus, dan 635 lainnya media lokal dan internasional yang terakreditasi di Indonesia.
Dalam persiapan kunjungan ini, Panitia Kunjungan Bapa Suci Fransiskus menyatakan tidak memproduksi merchandise atau cinderamata resmi maupun bekerja sama dengan biro perjalanan apa pun terkait kunjungan Paus Fransiskus. “Kami juga meminta dukungan masyarakat untuk dapat menyukseskan perjalanan apostolik Paus Fransiskus, yang tentunya akan menjadi pengalaman rohani yang berharga untuk umat Katolik di Indonesia,” paparnya. (pd)

