Ini Rencana Besar Elon Musk Kembangkan Starlink
JAKARTA, investortrust.id – Elon Musk punya ambisi dan rencana besar untuk mengembangkan Starlink. Ia pun hadir di Indonesia menyaksikan peresmian beroperasinya produk layanan internet berbasis satelit orbit rendah itu.
Siapa tak kenal Elon Musk, pengusaha kakap yang menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Pria bernama lengkap Elon Reeve Musk ini selalu menjadi sorotan publik di mana pun berada. Begitu juga saat dia hadir di Pulau Dewata, Mei 2024. Kehadiran miliarder berusia 52 tahun ini menjadi magnet dalam perhelatan World Water Forum (WWF) ke-10 yang digelar di Nusa Dua, Bali, 18-25 Mei.
Baca Juga
Jokowi Bertemu Elon Musk di Bali, Bahas Pengembangan Investasi di Indonesia
Hal itu diakui Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Sandiaga, yang akrab disapa Sandi, meyakini kehadiran pebisnis asal Amerika Serikat Elon Musk pada WWF di Bali dapat mendongkrak kunjungan pariwisata di Indonesia. Dengan kunjungan Elon Musk diharapkan minat masyarakat dunia datang ke Indonesia, khususnya Bali, terus meningkat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara di Indonesia selama 2023 mencapai 11,7 juta orang atau naik jika dibandingkan 2022 yang mencapai 5,4 juta. Kunjungan wisatawan asing di Tanah Air pada 2023 itu paling banyak dikontribusikan Provinsi Bali dengan total mencapai 5,7 juta orang.
Pemerintah Indonesia sudah lama mendekati Elon Musk agar mau berinvestasi di Tanah Air. Apalagi, perintis EV (electrical vehicle) itu memiliki perusahaan Tesla, yang mobil listriknya sudah dipasarkan secara global. Sedangkan, Indonesia memiliki nikel, salah satu komponen baterai yang tentunya terkait dengan kendaraan listrik.
Ketika pertemuan G20 digelar di Bali November 2022, Elon Musk juga diundang, tapi tidak bisa datang. Kali ini, CEO Tesla itu mengaku berkesempatan untuk hadir di WWF dan menjadi salah satu pembicara kunci pada pembukaan forum yang diadakan tiga tahun sekali itu.
Tapi, kedatangan Elon Musk ke Indonesia bukan hanya urusan WWF. Ia juga menghadiri peluncuran layanan internet satelit miliknya, yaitu Starlink. “Saya diundang ke World Water Forum. Jadi ini sepertinya adalah waktu yang tepat untuk secara resmi mengumumkan Starlink,” ujar Elon Musk kepada media.
Nah, peluncuran Starlink inilah yang mengundang heboh, khususnya di kalangan industri pemberi layanan telekomunikasi dan internet di Tanah Air. Pasalnya, keberadaan layanan internet baru ini berpotensi menggerus pasar pelaku industri yang sudah beroperasi di Indonesia. Suka atau tidak suka, yang jelas Starlink sudah meluncur.
Direktur Telekomunikasi Kemenkominfo, Aju Widya Sari menyatakan, Starlink sudah mengantongi Surat Keterangan Laik Operasi (SKLO). Artinya, Starlink sudah mendapatkan lampu hijau untuk menghadirkan layanannya ke pelanggan ritel. Berlaku secara nasional seperti halnya operator telekomunikasi lain di Indonesia.
Banyak pendapat dilontarkan terkait layanan internet satelit ini. Pengamat telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Agung Harsoyo menyoroti proses perizinan dan pemenuhan syarat-syarat Starlink untuk beroperasi. Sebagai penyedia layanan internet (Internet Service Provider/ISP), Starlink harus melalui proses yang sama dengan ISP lain di Indonesia. Mengikuti seluruh aturan terkait, mulai dari aturan soal perlindungan data pribadi, perlindungan konsumen, serta pertahanan dan keamanan negara.
Starlink juga wajib memenuhi beberapa persyaratan antara lain pusat operasi jaringan (Network Operation Center/NOC), peladen (server), hub, sistem pemantauan jaringan (Network Monitoring System/NMS). Kemudian stasiun bumi, remote, alamat IP, nomor Autonomous System (AS), dan kerja sama dengan penyelenggara jasa interkoneksi internet (Network Access Point/NAP). Keberadaan NOC di dalam negeri diperlukan terkait kepentingan pertahanan dan keamanan negara serta perlindungan konsumen. Termasuk dalam hal perlindungan data pribadi.
Operator telekomunikasi memberi tanggapan beragam. Direktur Wholesale & International Service Telkom Bogi Witjaksono PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) misalnya, masih yakin layanan internet Starlink tidak akan menggerus pengguna layanan seluler yang dilayani Telkomsel atau jaringan internet berbasis kabel (fixed broadband) yang dimiliki Indihome. Sebab, harga yang ditawarkan layanan internet berbasis satelit orbit rendah Starlink masih mahal, belum kompetitif dibandingkan dengan harga layanan seluler dan fixed broadband.
Baca Juga
Kehadiran Elon Musk di Bali Dongkrak Pariwisata RI, Begini Kata Menparekraf
Dalam laman resminya, Starlink menetapkan harga langganan paket standar untuk pelanggan pribadi tanpa batas penggunaan (unlimited) sebesar Rp750.000 per bulan. Selain itu, ada tambahan biaya awal senilai Rp 7.800.000 untuk perangkat keras. Biaya tersebut belum termasuk biaya pengiriman sebesar Rp 345.000 untuk wilayah Jawa maupun luar Jawa.
Starlink dianggap memiliki kelemahan. Karena mengorbit rendah, jangkauan Starlink tak seluas satelit telekomunikasi konvensional. Usia pakainya juga lebih singkat dari satelit biasa yang usia pakainya bisa 15- 20 tahun.
Vice President Corporate Communications Telkomsel Saki Hamsat Bramono meminta pemerintah agar memberikan kesetaraan dalam pemberlakuan pemenuhan kewajiban penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia kepada Starlink. Antara lain, penerapan kebijakan perpajakan, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), aspek potensi interferensi, serta aspek perlindungan dan keamanan data.
Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk (EXCL) Dian Siswarini mengakui, Starlink punya potensi untuk menjadi kompetitor operator seluler nasional, namun tergantung pada perkembangan teknologi yang diusungnya. Hanya saja, saat ini harga layanan Starlink masih tergolong tinggi. Kalau nanti teknologi Starlink lebih maju sehingga layanan di kota bisa menjadi lebih murah, akan terjadi kompetisi yang ketat.
Sementara itu, Director & Chief Business Officer PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison/IOH) M Danny Buldansyah menyebut kehadiran Starlink bukan menjadi kompetitor utama bagi operator seluler di Tanah Air. Kehadiran layanan internet berbasis satelit LEO lebih mengancam operator internet Very Small Aperture Terminal (VSAT).
Walaupun demikian, Danny mengingatkan kemungkinan praktik jual rugi atau predatory pricing untuk menjaring banyak pelanggan. Selain itu, di luar Starlink, banyak pemain layanan internet berbasis satelit LEO, yang sedang antre masuk Indonesia.
Bagaimanapun, masuknya Starlink tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Perlu diwaspadai. Terutama, dari sisi keamanan data konsumen dan keamanan negara. Praktik banting harga bisa merusak pasar. Kejeniusan Elon Musk dengan kesuksesan bisnis globalnya bukan tidak mungkin bisa meluluhlantakkan pasar telekomunikasi nasional. Terlebih, dia memiliki kekuatan modal, teknologi dan akses global.
Pemerintah mengklaim sudah memagari Starlink dengan sejumlah persyaratan yang fair. Menkominfo Budi Arie Setiadi mengatakan, Starlink wajib memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk regulatory charge. Adapun, regulatory charge meliputi biaya hak penyelenggaraan (BHP) senilai 1,25% dari pendapatan kotor, izin stasiun radio (ISR), dan kontribusi Kewajiban Pelayanan Universal/Universal Service Obligation (USO).
Starlink diminta membentuk badan hukum di dalam negeri, yang sudah diwujudkan dengan PT Starlink Services Indonesia. Pembentukan badan hukum ini akan melindungi data Indonesia, termasuk melindungi konsumen. Sehingga, jika ada yang dirugikan, pihak Indonesia bisa menuntuta. Starlink harus menaati Undang-Undang (UU) Nomor 27/2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (PDP), yakni menggunakan data sesuai dengan peruntukannya.
Rencana Besar Starlink
Starlink merupakan salah satu proyek ambisius yang sedang digenjot oleh Elon Musk. Tak heran, dia terlihat bersemangat hadir dalam peresmian peluncuran produknya di Pulau Dewata. Bahkan, ketika ada awak media menanyakan rencana investasinya di bisnis lain, seperti mobil listrik, Elon berusaha mengalihkannya dan memfokuskan pada investasi Starlink.
Ekspansi bisnis Starlink sebenarnya belum lama, tapi kemajuannya sungguh pesat. Konstelasi internet Starlink, yang dioperasikan oleh Starlink Services, LLC, anak perusahaan milik SpaceX, kini sudah menjangkau lebih dari 70 negara.
SpaceX mulai meluncurkan satelit Starlink pada tahun 2019. Awal Maret 2024, lebih dari 6.000 satelit kecil diproduksi secara massal dan diluncurkan di orbit rendah Bumi (LEO). Jumlah itu rencananya akan terus ditingkatkan. Tidak main-main. Perusahaan menyebut hampir 12.000 satelit akan dikerahkan, dengan kemungkinan perluasan menjadi 34.400.
Baca Juga
Jumlah pelanggan juga meningkat pesat. SpaceX mengumumkan telah mencapai lebih dari satu juta pelanggan pada bulan Desember 2022, dua juta pelanggan pada bulan September 2023, dan tiga juta pelanggan pada bulan Mei 2024.
Fasilitas pengembangan satelit SpaceX berada di Redmond, Washington, yang menampung fasilitas penelitian, pengembangan, manufaktur, dan kontrol orbit Starlink.
Pada Mei 2018, SpaceX memperkirakan total biaya perancangan, pembangunan, dan penerapan konstelasi ini sekitar US$10 miliar. Pendapatan dari Starlink pada tahun 2022 dilaporkan sebesar $1,4 miliar disertai dengan kerugian bersih. Laporan dengan sedikit keuntungan terjadi mulai tahun 2023. Sedangkan, target pendapatan tahun 2024 diproyeksikan mencapai $6,6 miliar, lebih dari empat kali lipat.
Ketika kondisi keuangan Starlink membaik pada 2023, Elon Musk dengan penuh semangat mengumumkannya di media sosial. Pada Kamis, 3 November 2023, Elon Musk menyebut unit internet satelit perusahaan roketnya, Starlink, telah mencapai titik impas arus kas. Musk membuat pengumuman ini di platform mikroblog X. Dia menulis, “Bersemangat untuk mengumumkan bahwa @SpaceX @Starlink telah mencapai arus kas impas! Kerja luar biasa dari tim yang hebat.”
Miliarder teknologi ini juga menambahkan bahwa sistem tersebut kini ada di semua satelit aktif. “Starlink sekarang juga menjadi mayoritas dari seluruh satelit aktif,” tulisnya dalam postingan itu.
Berapa nilai pasar Starlink? Belum ada data pasti karena Starlink bukan perusahaan publik. Namun, perkiraan indikasinya bisa dilihat dari SpaceX, perusahaan induknya.
Perusahaan SpaceX bernilai sekitar $150 miliar dan merupakan salah satu perusahaan swasta paling berharga di dunia. Dalam perencanaan, SpaceX nantinya akan memisahkan diri dan menjadikan Starlink perusahaan publik setelah arus kasnya dapat diprediksi secara wajar.
Starlink membukukan pertumbuhan pendapatan lebih dari enam kali lipat tahun 2022. Jumlahnya mencapai $1,4 miliar, tetapi masih jauh dari target yang ditetapkan Musk, Wall Street Journal melaporkan pada bulan September, mengutip dokumen.
Elon Musk berupaya menjadikan unit bisnis Starlink sebagai sumber pendapatan penting untuk mendanai proyek SpaceX yang lebih padat modal seperti Starship generasi berikutnya. Starship adalah roket raksasa yang dapat digunakan kembali, yang akan diterbangkan perusahaan ke bulan untuk NASA dalam dekade mendatang.
Keberadaan Starlink tak lepas dari kontroversi. Antara lain, gara-gara perannya di zona konflik
Starlink telah menjadi sorotan sejak tahun lalu setelah membantu menyediakan komunikasi satelit kepada Ukraina yang menjadi kunci upaya perangnya melawan Rusia.
Selain itu, Elon Musk mengatakan Starlink akan mendukung hubungan komunikasi di Gaza dengan “organisasi bantuan yang diakui secara internasional.” Hal ini terjadi setelah pemadaman telekomunikasi dan internet mengisolasi masyarakat di Jalur Gaza dari dunia luar dan satu sama lain.
Terlepas dari kontroversi yang menyertai, misi Elon Musk mengangkat Starlink dalam peluncuran di Bali tampaknya cukup berhasil. Dalam waktu singkat, brand Starlink sudah terkenal. Menjadi perhatian media dan diulas di berbagai platform media sosial, secara tidak langsung Starlink mendapat keuntungan promosi luar biasa. Boleh jadi, ini memang menjadi strategi Elon Musk untuk membuat kejutan, sekaligus mendongkrak pasar.
Elon Musk memang bukan pengusaha biasa. Selain pengusaha, dia juga penemu, tokoh bisnis, investor dan filantropis. Jabatannya banyak, begitu juga perusahaan dan proyeknya. Rekam jejaknya dalam bisnis juga sangat spektakuler. Dari kesukaan dan kemahirannya terhadap teknologi membawa Elon Musk berkecimpung di sejumlah perusahaan seperti Zip2, Xcom dan Paypal, sebelum kemudian mendirikan SpaceX, hingga mengakuisisi Tesla.
Sekarang dia menguasai Tesla Inc, SpaceX, The Boring Company, termasuk juga platform medsos Twitter yang kemudian diubah namanya menjadi X. Banyak lagi proyek-proyek yang digarap seperti Neuralink, Open AI, dan Starlink.
Kekayaannya ditaksir mencapai US $ 197 miliar atau Rp 3.152 triliun (dengan kurs Rp 16.000 per dolar AS). Elon Musk menduduki ranking 1 orang terkaya dunia tahun 2022 versi Forbes. Posisinya sempat turun ke ranking 3, berdasarkan Forbes real-time billionaires, karena harga saham Tesla anjlok. Tapi, kemudian naik lagi ke posisi 2, di atas Jeff Bezos, CEO Amazon. Sedangkan, posisi pertama diduduki Bernard Arnault dan keluarga.
Baca Juga
Ini Puskesmas di Bali yang Jadi Lokasi Peresmian Starlink oleh Jokowi dan Elon Musk

