Risky, Bocah Penjual Ikan yang Mengayuh Mimpi Menjadi Tentara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sepeda itu pernah menjadi bagian penting kehidupan Muhammad Risky Pratama. Bukan untuk bermain bersama teman-temannya, bukan pula sekadar kendaraan menuju sekolah. Di atas sepeda itulah bocah 12 tahun asal Bagan Deli, Medan, tersebut membawa sekitar 30 kilogram ikan, mengayuh puluhan kilometer dari satu tempat ke tempat lain, berharap dagangannya habis sebelum hari berakhir.
Pada usia ketika anak-anak lain membawa buku di dalam tas sekolah, Risky sudah membawa beban kehidupan keluarganya. Dari berjualan ikan, ia bisa memperoleh sekitar Rp30.000 hingga Rp90.000 sehari. Uang itu bukan untuk membeli mainan atau jajan. Hasil penjualan dibawanya pulang dan diserahkan kepada neneknya untuk membeli beras dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk membeli popok untuk adiknya.
Kehidupan memaksa Risky mengenal tanggung jawab orang dewasa terlalu dini. Sejak kelas IV SD, ia diasuh oleh kakek dan neneknya. Ibunya bekerja di luar daerah, sedangkan ayahnya telah menjalani kehidupan dengan keluarga lain. Ketika duduk di kelas VI SD, keadaan ekonomi keluarga membuat Risky semakin aktif membantu mencari nafkah dengan menjual ikan. Sekolah akhirnya harus mengalah pada kebutuhan hidup sehari-hari.
Baca Juga
Prabowo Sebut Manfaat MBG, Bansos, dan Hilirisasi Mulai Dirasakan Rakyat
Risky pun putus sekolah. Dampaknya tidak kecil. Ketika kemudian memperoleh kesempatan kembali mengenyam pendidikan, kemampuan membaca dan berhitungnya masih tertinggal dibandingkan anak-anak seusianya. Namun, persoalan Risky sesungguhnya bukan karena ia tidak mampu belajar. Ia terlalu lama tidak mempunyai kemewahan untuk menjadikan belajar sebagai pekerjaan utamanya. Ada ikan yang harus dijual, uang yang harus dibawa pulang, beras yang harus dibeli, dan kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi.
Jumat (14/08/2026), perjalanan hidup bocah penjual ikan itu membawanya ke tempat yang mungkin tak pernah dibayangkannya: ruang sidang parlemen di Jakarta. Di hadapan pimpinan lembaga negara, para menteri, anggota MPR, DPR dan DPD serta para tokoh politik, Presiden Prabowo Subianto menyebut namanya: Muhammad Risky Pratama.
Di tengah pidato mengenai RAPBN 2027 yang dipenuhi angka ribuan triliun rupiah, pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, pembangunan rumah sakit, renovasi sekolah hingga proyek-proyek besar negara, Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh orang di ruangan itu melihat kehidupan Indonesia dari ukuran yang jauh lebih sederhana, yakni kehidupan seorang anak yang nyaris kehilangan masa depannya karena kemiskinan.
“Risky pernah mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual,” ujar Prabowo ketika memperkenalkannya.
Kalimat itu singkat. Namun, di belakangnya terbentang perjalanan hidup yang panjang untuk seorang bocah berusia 12 tahun. Puluhan kilometer yang ditempuh Risky bukan perjalanan rekreasi. Setiap kayuhan sepedanya adalah bagian dari perjuangan membantu keluarganya bertahan hidup.
Perubahan mulai datang ketika petugas Sekolah Rakyat mendatangi keluarganya dan menawarkan kesempatan bagi Risky untuk kembali belajar. Ia ternyata tidak langsung menerimanya. Risky sempat enggan karena harus tinggal di asrama dan memasuki lingkungan baru. Neneknya kemudian membujuk dan mendorong cucunya mengambil kesempatan tersebut.
Dorongan sang nenek menjadi titik balik. Risky akhirnya masuk Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 Medan. Di sana, ia memperoleh pendidikan tanpa biaya, tinggal di asrama, mendapatkan makanan bergizi serta pendampingan dari guru dan wali asrama. Ia tidak lagi harus memikirkan bagaimana menjual ikan sebelum bisa belajar.
Bagi anak-anak dari keluarga berkecukupan, pergi ke sekolah mungkin merupakan rutinitas biasa. Bagi Risky, sekolah adalah kesempatan kedua. Ia harus mengejar kemampuan membaca, berhitung dan pelajaran yang tertinggal. Lebih dari itu, ia sedang mengejar kembali masa kanak-kanak yang pernah direnggut oleh keadaan ekonomi keluarganya.
“Hari ini, Risky kembali ke sekolah. Ia mendapatkan kembali haknya untuk belajar dan menata cita-cita,” kata Prabowo. Di balik kesehariannya sebagai penjual ikan, Risky ternyata menyimpan sebuah mimpi. Ia ingin menjadi tentara. Cita-cita itu terdengar sederhana, tetapi jalannya pernah hampir terputus ketika ia meninggalkan sekolah. Kini jalan tersebut terbuka kembali.
Perjalanannya tentu masih panjang. Risky harus mengejar banyak ketertinggalan, menyelesaikan pendidikan dan belajar jauh lebih keras sebelum suatu hari dapat mencoba mewujudkan keinginannya mengenakan seragam tentara. Tidak ada jaminan cita-cita itu akan tercapai. Namun, sekarang ia mempunyai sesuatu yang sebelumnya hampir hilang: kesempatan untuk mencoba.
Kisah Risky sekaligus menunjukkan bagaimana kemiskinan bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kemiskinan tidak selalu hadir sebagai persentase dalam laporan statistik. Ia menjadi nyata ketika seorang anak meninggalkan sekolah karena keluarga membutuhkan tambahan penghasilan. Ketika pendidikan terputus, kemampuan anak tertinggal. Peluang memperoleh pekerjaan yang lebih baik ketika dewasa semakin sempit. Lingkaran yang sama kemudian berpotensi berulang kepada generasi berikutnya.
Karena itu, mengembalikan seorang anak ke sekolah bukan sekadar menambah angka partisipasi pendidikan. Dalam kasus Risky, pendidikan adalah upaya memutus sebuah rantai. Negara berusaha memastikan kemiskinan keluarga tidak otomatis menentukan nasib seorang anak sepanjang hidupnya.
Prabowo menghadirkan cerita Risky ketika pemerintah sedang menjelaskan RAPBN 2027. Belanja negara tahun depan direncanakan mencapai Rp4.097,2 triliun, sementara pendapatan negara diperkirakan Rp3.426 triliun. Pembiayaan direncanakan Rp671,2 triliun dengan defisit 2,40% terhadap produk domestik bruto.
Angka sebesar itu sulit dibayangkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan Risky memberikan ukuran yang lebih sederhana untuk membaca APBN: berapa banyak anak yang dapat tetap berada di sekolah, berapa banyak keluarga yang tidak lagi harus mengandalkan tenaga anak untuk menambah penghasilan, serta berapa banyak anak miskin yang memperoleh makanan cukup dan pendidikan sehingga mempunyai kesempatan memperbaiki kehidupannya.
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan APBN bukan sekadar dokumen keuangan negara. APBN, kata Presiden, merupakan alat perjuangan untuk memastikan negara hadir dalam kehidupan rakyat. “Negara harus hadir ketika anak-anak membutuhkan makan bergizi dan sekolah yang baik,” ujarnya.
Risky memberi wajah pada kalimat tersebut. Sebelum memperoleh kesempatan kembali bersekolah, seorang bocah berumur 12 tahun sudah harus ikut memikirkan beras di rumah dan popok untuk adiknya.
Namun, masuknya Risky ke Sekolah Rakyat bukan akhir cerita. Justru dari sinilah pekerjaan yang lebih panjang dimulai. Keberhasilan program pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin tidak cukup diukur dari berapa banyak sekolah yang dibuka atau berapa banyak siswa yang diterima. Ukuran sesungguhnya baru akan terlihat bertahun-tahun kemudian: apakah Risky mampu mengejar ketertinggalannya, menyelesaikan pendidikan, memperoleh keterampilan, mendapatkan pekerjaan yang layak, dan akhirnya mengangkat dirinya serta keluarganya keluar dari kemiskinan.
Tantangannya, dengan demikian, bukan hanya membawa Risky kembali ke sekolah, tetapi memastikan keadaan ekonomi tidak memaksanya meninggalkan bangku pendidikan untuk kedua kalinya. Anak seperti Risky tidak membutuhkan belas kasihan. Ia membutuhkan kesempatan yang cukup panjang untuk membuktikan kemampuan dirinya sendiri.
Baca Juga
DPR Apresiasi 8 Prioritas Prabowo di RAPBN 2027, Dasco: Berpihak kepada Rakyat
Hari itu, di ruang sidang parlemen, tubuh Risky mungkin terlihat kecil di antara para pejabat negara. Namun, perjalanan hidupnya membawa sebuah pertanyaan besar tentang untuk siapa pembangunan dan ribuan triliun rupiah uang negara dibelanjakan.
Jawabannya bisa ditemukan pada bocah 12 tahun dari Bagan Deli itu. Dulu, Risky mengayuh sepeda puluhan kilometer membawa sekitar 30 kilogram ikan agar keluarganya bisa bertahan hidup. Kini ia kembali membawa buku, mengejar kemampuan membaca dan berhitung, serta pelajaran yang pernah tertinggal. Di kepalanya masih tersimpan satu mimpi: menjadi tentara.
Risky masih harus mengayuh jauh untuk sampai ke sana. Bedanya, kini yang ia kejar bukan lagi pembeli ikan, melainkan masa depannya sendiri.
Sumber: Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI, Jumat, 14 Agustus 2026; serta pemberitaan Detikcom, TVRI News, dan Jagad Tani mengenai Muhammad Risky Pratama, Agustus 2026.

