Bank Raya (AGRO) Catat Pertumbuhan Kredit Digital 39,8% di Tengah Transformasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) menegaskan fokusnya pada transformasi digital dan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan dengan mengoptimalkan sinergi di dalam ekosistem BRI Group. Di tengah ekonomi global masih menantang, Bank Raya melaksanakan transformasi digital yang didukung oleh pertumbuhan bisnis digital melalui inovasi di Aplikasi Raya yang tercermin pada aspek penyaluran kredit maupun penghimpunan dana pihak ketiga.
Capaian ini menunjukkan Bank Raya masih memiliki ruang pertumbuhan yang baik di tengah meningkatnya kebutuhan nasabah untuk bertransaksi digital. Raihan tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang merata di segmen bisnis digital sejalan dengan upaya Bank Raya sebagai digital attacker BRI Group yang mengambil peran dalam percepatan ekonomi digital di Indonesia.
Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia mengatakan, pertumbuhan ini mencerminkan fokus Bank Raya pada strategi pertumbuhan bisnis digital berkualitas. Bank Raya optimis bisnis digital terus memiliki prospek yang menjanjikan di masa depan.
"Di tengah dinamika global, kami selalu berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan penguatan fundamental sebagai bukti keberhasilan kami bertransformasi menjadi bank digital," ujar Ida Bagus dalam keterangan resmi, Selasa (17/3/2026).
Pada tahun 2025, Bank Raya mencatatkan penyaluran kredit digital sebesar Rp 28,75 triliun atau tumbuh 39,8% year on year (yoy), sehingga mendorong pertumbuhan signifikan outstanding kredit digital Bank Raya mencapai Rp 3,07 triliun atau tumbuh sebesar 33,9% yoy yang kemudian turut menopang total kredit sebesar Rp 7,72 triliun atau tumbuh 8,3% yoy.
Baca Juga
Bank Raya Serahkan Hadiah Pesta Raya, Transaksi Aplikasi Tembus 2,1 Juta
Peningkatan penyaluran kredit ini juga berdampak pada pertumbuhan pendapatan bunga Bank Raya pada 2025 sebesar 14,0% yoy menjadi sebesar Rp 1,19 triliun dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp 1,05 triliun. Saat ini, porsi kredit digital telah mencapai 39,8% dari total kredit meningkat dari 32,1% pada akhir 2024. Pada 2026, Bank Raya menargetkan porsi kredit digital akan mendominasi total portfolio kredit.
Dari sisi simpanan, Bank Raya mencatatkan pertumbuhan digital saving sebesar Rp 2,20 triliun atau tumbuh 66,7% yoy yang diimbangi dengan peningkatan transaksi Aplikasi Raya 16,3% yoy dan mencapai 4,7 juta transaksi.
Bank Raya juga terus berfokus untuk mengembangkan basis dana CASA melalui ekspansi tabungan digital, sehingga pada tahun 2025 rasio CASA tercatat 33,62% atau tumbuh dibandingkan tahun 2024 yaitu 27,50%. Berbagai pengembangan inovasi yang dilakukan pada tahun 2025 seperti inovasi fitur digital saving yang sesuai kebutuhan nasabah turut mendukung peran Bank Raya dalam mendigitalisasi lebih dari 1 juta nasabah termasuk komunitas dan pelaku usaha di Indonesia yang menjadi penggerak ekonomi nasional.
Sebagai bagian dari proses transformasi menjadi bank digital, Bank Raya aktif mengembangkan produk dan layanan perbankan guna melayani kebutuhan transaksi perbankan masyarakat. Lewat serangkaian inovasi yang dilakukan dalam setahun terakhir, hingga akhir Desember 2025, Bank Raya telah menghadirkan lebih dari 111 fitur pada Aplikasi Raya yang relevan dengan kebutuhan nasabah.
Perseroan juga terus mendorong upaya perluasan adopsi Aplikasi Raya di masyarakat melalui serangkaian langkah literasi keuangan melalui berbagai channel, maupun promo-promo menarik yang mendorong minat masyarakat dalam menggunakan produk dan layanan Bank Raya. "Sehingga, brand awareness Bank Raya terus meningkat," kata Bagus.
Bank Raya juga terus meningkatkan inovasi teknologi yang dikembangkan di Aplikasi Raya. Sebagai driver pertumbuhan digital saving, Bank Raya menginisiasi kemudahan pengelolaan keuangan melalui berbagai fitur Saku di Aplikasi Raya. Agar dapat memperluas target market, Bank Raya mengembangkan Fitur Uang Saku untuk membantu pengelolaan dan pemantauan keuangan anak sejak dini, orang tua dapat mengontrol pengeluaran anak, mengawasi, dan mengevaluasi kebiasaan finansial anak.
Pada akhir 2025, Bank Raya telah meluncurkan fitur Kartu Digital Debit Visa yang melengkapi fitur pembayaran di Aplikasi Raya. Hal ini bertujuan agar nasabah dapat bertransaksi di jaringan merchant online Visa domestik dan internasional, baik transaksi pada e-commerce, platform transportasi online, dan berbagai platform online lainnya di dalam maupun di luar negeri.
Baca Juga
Bank Raya (AGRO) Genjot Inklusi Keuangan Digital Lewat Program Pesta Raya
Pengembangan inovasi lainnya di 2025 yang bertujuan untuk meningkatkan transaksi adalah fitur Tagih Uang sebagai pengembangan Saku Bareng. Fitur ini memudahkan komunitas dalam mengelola uang bersama dengan jumah anggota dapat mencapai hingga 300 orang. Bahkan, fitur-fitur Saku Bareng dapat digunakan dengan mudah oleh pengelola apartemen, kelompok RT/RW ataupun komunitas/group lainnya yang menggunakan konsep pengelolaan uang yang berasal dari iuran anggota untuk kepentingan bersama.
Bank Raya terus mendorong pelaku usaha untuk membangun ekosistem usahanya melalui integrasi Saku Bisnis. Melalui penyediaan QRIS Bisnis dan fitur Kasir diharapkan dapat memudahkan pelaku usaha untuk memantau pembayaran melalui QRIS secara realtime dari Aplikasi Raya.
Beragam fitur tersebut semakin melengkapi berbagai fitur transaksi di Aplikasi Raya yang meliputi seperti QRIS CPM, berbagai macam biller seperti pembelian pulsa dan paket data, pembelian token listrik dan pembayaran tagihan listrik, PDAM, multifinance, zakat, pembayaran kartu kredit, pembayaran internet dan TV kabel dan Virtual Account.
Manfaat lainnya adalah kemudahan akses yang dapat dinikmati nasabah Bank Raya adalah juga dapat melakukan setor dan tarik tunai di ATM BRI serta Agen BRILink di seluruh Indonesia, dan juga tarik tunai di jaringan Indomaret. Sementara dari sisi digital lending, pertumbuhan didorong melalui inovasi Raya Paylater juga hadir sebagai opsi pembiayaan tambahan bagi nasabah dengan ketentuan pembayaran yang transparan dan fleksibel.
Bank Raya juga terus memperkenalkan produk digital lending yang menjadi champion product di Bank Raya yaitu Pinang Dana Talangan pinjaman untuk mendukung produktivitas Agen BRILink, Pinang Flexi pinjaman multiguna untuk karyawan tetap serta Pinang Maksima untuk invoice based financing dalam mendukung produktivitas bisnis pelaku usaha.
Pada akhir tahun 2025, tercatat pertumbuhan pesat dari Top 3 Produk digital loan Bank Raya, yaitu outstanding Pinang Flexi meningkat 20,5% yoy atau menjadi sebesar Rp 1,03 triliun, Pinang Dana Talangan bertumbuh 52,9% yoy menjadi sebesar Rp 1,08 triliun dan Pinang Maxima bertumbuh 71,53% yoy atau menjadi Rp 880 miliar.
Sepanjang tahun 2025, Bank Raya juga terus mengoptimalkan potensi sinergi dengan ekosistem BRI dimulai dari pemanfaatan channel BRI seperti Agen BRILink dan Agen Gadai. Bank Raya juga semakin memperluas cakupan layanan diantaranya melalui kerjasama dengan Perhutani, Mekari Talenta, APP Group dan Mitra SRC untuk pinjaman produktif serta DPLK BRI kerjasama fitur BRIFine pada Aplikasi Raya untuk mendorong perencanaan keuangan masa depan yang lebih baik dan YBM BRiLiaN untuk fitur pembayaran zakat & donasi dan juga ekosistem fintech dan digital lainnya untuk melayani UMKM.
Perbaikan Kualitas
Upaya strategis Bank Raya untuk bertransformasi digital adalah dengan melakukan perbaikan kualitas guna mendukung pertumbuhan bisnis berkelanjutan. Memang, terdapat perlambatan dalam kinerja keuangan tahun 2025 lantaran perusahaan mengambil langkah perbaikan pada debitur-debitur legacy yang secara bertahap portofolionya akan diturunkan melalui pembentukan cadangan.
Kendati begitu, Bank Raya terus memperkuat pertumbuhan bisnis digital secara prudent yang saat ini porsinya terus meningkat menjadi 39,8% dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 32,1% sejalan dengan transformasi untuk terus memperkuat pertumbuhan bisnis digital. Bank Raya menargetkan di tahun 2026 bahwa porsi kredit digital akan lebih besar dari kredit legacy.
Bank Raya terus berkomitmen untuk menjaga rasio likuiditas pada level yang aman dimana rasio LDR tercatat 80,83%, Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) di angka 84,41%, serta rasio LCR (Liquidity Coverage Ratio) tercatat 474,93% dan Rasio Net Stable Funding Ratio (NSFR) tercatat sebesar 171,98% diatas ketentuan minimum sebesar 100%. Selain itu, dari sisi permodalan juga masih terjaga terlihat dari rasio Total CAR sebesar 40,25% dan rasio Tier 1 CAR sebesar 39,30% yang akan mendukung ekspansi pertumbuhan bisnis Bank Raya ke depan.
"Komitmen kami untuk melakukan perbaikan pada debitur legacy dilakukan agar bank dapat bertumbuh lebih sehat secara jangka panjang. Dengan dukungan dari BRI dan strategi kami untuk terus bersinergi melalui strategi eksploitasi dan eksplorasi di ekosistem BRI Group, kami optimis dapat terus melanjutkan tren positif ini melalui pertumbuhan bisnis yang berkualitas dan efisiensi yang berkesinambungan," kata Bagus.
Komitmen pertumbuhan ini sudah terlihat pada kinerja di Februari 2026, di mana Bank Raya telah mencetak laba bersih sebesar Rp 5,11 miliar. Pendapatan bunga tercatat sebesar Rp 194 miliar dengan pertumbuhan positif dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan pendapatan bunga dikontribusi dari pendapatan bunga digital lending yang terus tumbuh sejalan dengan peningkatan outstanding digital lending yang tumbuh double digit

