Bank Danamon Beberkan Sejumlah Tantangan Bisnis di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) membeberkan sejumlah tantangan bisnis yang diperkirakan membayangi kinerja perusahaan sepanjang 2026. Mulai dari ketidakpastian global, volatilitas pasar keuangan, hingga risiko teknologi dan keamanan siber.
Direktur Utama Danamon Daisuke Ejima mengungkapkan, kondisi ekonomi dalam dua tahun terakhir belum sepenuhnya pulih sehingga memunculkan tanda tanya terhadap pemulihan daya beli, khususnya di segmen menengah.
“Apakah daya beli ini, khususnya di segmen menengah yang merupakan segmen terbesar, akan kembali atau tidak,” ujarnya, dalam Konferensi Pers Virtual Paparan Kinerja Full Year 2025 Danamon, Kamis (19/2/2026).
Baca Juga
Begini Bocoran Progres Bisnis “Pay Later” yang Bakal Dijajal Danamon
Selain itu, Daisuke juga mencermati potensi peningkatan volatilitas di pasar keuangan. Gejolak yang terjadi pada Januari dan Februari menjadi sinyal bahwa dinamika pasar tahun ini bisa lebih menantang dibandingkan 2025.
Di lain sisi, risiko teknologi turut menjadi perhatian utama. Transformasi digital yang semakin agresif, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan generatif atau generative artificial intelligence (AI) membawa peluang sekaligus tantangan, terutama dari aspek keamanan siber.
“Bagaimana kita mengatasi situasi ini, tentu saja IT ditambah keamanan siber, termasuk keterlibatan generative AI. Tantangan-tantangan tersebut terus kita hadapi pada tahun 2026,” kata Daisuke.
Meski begitu, ia menyatakan bahwa pihaknya tetap optimistis mampu menjalankan strategi yang telah dirancang. Salah satu fokus utama adalah pendekatan ekosistem berbasis regional
“Dari wilayah ke wilayah, kita meminta untuk meminta untuk menemukan aktivitas lokal untuk memperkuatnya lebih lanjut. Bersama kolaborasi dengan Adira Finance dan perusahaan grup,” ucap Daisuke.
Baca Juga
Laba Bersih Danamon (BDMN) Tumbuh 14% Jadi Rp 4 Triliun di 2025
Dari sisi teknologi, Danamon mempercepat adopsi digital, termasuk penguatan sistem IT, keamanan siber, serta pemanfaatan generative AI guna meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan.
“Kami telah mempercepat adopsi dan segera akan terus meningkatkannya lebih lanjut. Secara keseluruhan, ada banyak tantangan dan mungkin lebih banyak lagi di tahun ini. Tapi kami akan terus berpegang pada apa yang telah kami lakukan,” ujar Daisuke.
Terlepas dari itu, bank berkode saham BDMN ini mencatatkan kinerja solid sepanjang 2025. Tercermin dari laba bersih tahun berjalan konsolidasian yang tumbuh 14% secara year on year (yoy) menjadi Rp 4 triliun.
Pertumbuhan laba tersebut salah satunya didorong oleh kenaikan kredit dan trade finance sebesar 9% (yoy) menjadi Rp 212,7 triliun. Di sisi bersamaan, dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 16% (yoy) menjadi Rp 176,9 triliun pada 2025.

