Soal Penilaian MSCI dan Moody’s, Ekonom Permata Bank Sebut Jadi Momentum Berbenah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Penilaian sejumlah lembaga internasional seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Moody’s Ratings terhadap Indonesia dinilai tak semata-mata sebagai sentimen negatif, melainkan momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi dan tata kelola ke depan.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan, respon pemerintah terhadap berbagai catatan tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari proses pembelajaran (lesson learned) untuk melakukan pembenahan struktural.
“Ini jangan kita anggap sebagai sesuatu hal yang negatif, justru kita meresponnya adalah berarti harus ada yang kita perbaiki dari kondisi ekonomi kita, dari sisi governance-nya, dari sisi keterbukaan informasi UBO (ultimate beneficial owner)-nya,” ujarnya, usai Media Talk Show, di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Menurut Josua, isu free float saham juga menjadi salah satu perhatian penting. Namun, peningkatan kepemilikan publik tidak bisa dilakukan secara instan.
“Free float ini kan juga nggak mungkin sekejap ya. Kemarin Plt Ketua OJK (Otoritas Jasa Keuangan) juga mengatakan bahwa buat (emiten) yang eksisting juga mungkin akan bertahap tiga tahun mungkin ya paling cepat,” katanya, menjawab pertanyaan Investortrust.
“Mungkin untuk (emiten) yang baru nanti akan IPO (initial public offering) mungkin dia akan dipersyaratkan kepemilikan saham publiknya 15%. Karena ini sesuatu yang tidak mudah untuk bisa menaikan kepemilikan saham publik dari 7,5% ke 15%,” sambung Josua.
Baca Juga
Begini Tanggapan Bank Mandiri (BMRI) Setelah Moody’s Turunkan Outlook Kredit Jadi Negatif
Lebih lanjut, ia menilai sikap sejumlah lembaga global saat ini cenderung wait and see, menunggu respon konkret pemerintah terhadap berbagai catatan yang diberikan.
“Merespon MSCI, merespon Moody’s Ratings seperti apa, sehingga mungkin dia hold juga waiting-nya Indonesia,” ucap Josua.
Untuk Moody’s, Josua menilai lembaga pemeringkat tersebut masih mencatat fundamental ekonomi Indonesia relatif terjaga, khususnya dari sisi fiskal dan prospek pertumbuhan.
“Tapi dia cukup take a note terkait dengan faktor kualitatif ya, termasuk juga berkaitan dengan bagaimana produktivitas Danantara yang kita harapkan pun juga tahun ini akan semakin baik lagi gitu ya dari sisi proyek-proyek investasinya,” ujar Josua.
Di sisi bersamaan, lanjut dia, pemerintah juga telah menyampaikan komitmen untuk melakukan reformasi menyeluruh di pasar modal, termasuk dengan mengeluarkan delapan agenda reformasi yang diumumkan pasca dinamika terkait MSCI.
“Jadi kita selalu melihatnya bahwa ada hal positif yang kita harus tarik dari kejadian itu. Dari penilaian lembaga internasional itu, harusnya kita lebih berbenah diri dan tentunya mengkomunikasikan segala kebijakannya dengan lebih tepat dan lebih komunikatif lagi,” kata Josua.
