Rudiantara Sebut Tata Kelola Jadi Penentu Nasib Startup di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pendanaan startup di Indonesia pada 2026 diproyeksikan tetap bergerak, meski dengan standar seleksi yang jauh lebih ketat. Investor disebut akan konsen membidik startup later stage yang telah menunjukkan kejelasan profitabilitas, arus kas, dan disiplin pengelolaan bisnis.
Hal itu disampaikan oleh Komisaris Utama PT Amartha Mikro Fintek, Rudiantara. Ia menegaskan bahwa mayoritas dana investasi saat ini mengalir ke startup tahap akhir, sementara pendanaan early stage semakin terbatas.
“Investor ngejar startup yang prospeknya jelas untuk EBITDA atau net profit dan sudah tidak bermasalah dengan cash flow,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Menurutnya, arah kebijakan bank sentral AS atau The Fed akan menjadi penentu penting dinamika pendanaan startup tahun ini. Penurunan suku bunga AS secara signifikan berpotensi mendorong investor keluar dari instrumen konvensional dan kembali masuk ke aset berisiko, termasuk startup.
Baca Juga
Fintech Kerek Ekonomi Desa, Amartha Salurkan Rp 13,2 Triliun ke UMKM
Namun, ia mengingatkan bahwa masalah utama startup Indonesia bukan pada besarnya pasar, melainkan kepercayaan investor yang sempat terganggu oleh sejumlah kasus dalam dua tahun terakhir. “Ini bukan soal market, tapi soal governansi. Investor bertanya, ini ada apa dengan Indonesia?” katanya.
Menteri Komunikasi dan Informatika periode 2014-2019 itu juga menekankan agar startup mid dan later stage, terutama yang menargetkan IPO, wajib menerapkan tata kelola setara perusahaan terbuka.
Pasalnya, ia menyebut bahwa prinsip transparansi, akuntabilitas, independensi, dan pencegahan konflik kepentingan menjadi syarat mutlak untuk mengembalikan kepercayaan pasar.
Ia mencontohkan pentingnya keberadaan komite audit dan laporan keuangan yang kredibel sebagai instrumen pengawasan. Tanpa struktur governance yang kuat, risiko operasional dapat lolos tanpa terdeteksi dan menjadi alarm keras bagi investor asing.
Di sisi peluang, Rudiantara menilai pasar Indonesia tetap atraktif, termasuk di sektor new retail dan layanan digital non-platform yang masih mencatat arus investasi ratusan juta dolar AS. Besarnya pasar domestik dinilai masih menjadi daya tarik utama bagi modal jangka panjang.
Meski demikian, terbatasnya exit market, baik melalui IPO maupun akuisisi, masih menjadi faktor risiko utama investasi startup di Indonesia. Kondisi ini membuat investor cenderung menunda keputusan dan menuntut standar kelola yang jauh lebih tinggi.

