BRI Pangkas Pencadangan NPL Sebesar Rp 4,15 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI berhasil memangkas cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar Rp 4,15 triliun pada kuartal III-2025. CKPN yang pada kuartal III-2024 mencapai Rp 86,09 triliun, susut menjadi Rp 81,94 triliun pada kuartal III-2025.
BRI hingga sembilan bulan pertama menyalurkan kredit sebesar Rp 1.438,11 triliun, tumbuh 6,26% yoy. Dari jumlah tersebut, kredit UMKM tercatat sebesar Rp 1.150,73 triliun, dengan komposisi sebesar 80,02% terhadap total portofolio kredit.
Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross naik jadi 3,29% dan NPL net sebesar 1,04%. NPL gross tersebut setara dengan Rp 47,3 triliun. Artinya, dengan mengalokasikan CKPN sebesar Rp 81,94 triliun, jumlah pencadangan ini setara dengan 173% dari total NPL gross.
Apabila kredit bermasalah BRI membaik atau bisa diturunkan, CKPN juga bisa dikurangi. Alhasil, dana pencadangan yang tidak terpakai itu bisa dikonversi menjadi laba perusahaan.
CKPN merupakan dana yang wajib disisihkan bank untuk berjaga-jaga menutupi potensi kerugian kredit akibat tidak tertagihnya kredit bermasalah (NPL). Sejak 1 Januari 2020, seluruh bank di Indonesia wajib menggunakan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) 71, yang memperkenalkan konsep Expected Credit Loss (ECL) berbasis forward-looking, bukan hanya kerugian yang sudah terjadi (incurred loss).
PSAK 71 menyatakan bahwa besaran CKPN minimum untuk NPL adalah 50-100% dari total NPL, tergantung kualitas agunan dan tingkat recovery. Peraturan teknis Otoritas Jasa Keuangan menyatakan bahwa untuk kredit dengan kolektibilitas diragukan (kategori 4), besaran CKPN minimum adalah 50% dari NPL dan kredit macet (kategori 5) sebesar 100%.
Sebagaimana diketahui, BRI secara konsolidasi membukukan laba bersih periode berjalan senilai Rp 41,23 triliun hingga kuartal III-2025. Raihan itu turun 9,10% secara tahunan (yoy), dari sebesar Rp 45,36 triliun pada periode yang sama 2024.
Realisasi tersebut juga sejalan dengan konsensus analis Bloomberg yang memperkirakan laba bersih BRI pada kuartal III-2025 sebesar Rp 14,79 triliun, dengan total laba Januari–September 2025 diproyeksikan mencapai Rp 41,02 triliun.
Total aset BRI tumbuh 8,2% yoy, menjadi Rp 2.123,4 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI juga menunjukkan peningkatan yang solid, tumbuh 8,2% yoy menjadi Rp 1.474,8 triliun. BRI didukung permodalan yang kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 25,4%. Dari sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 86,5%.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menjelaskan bahwa capaian positif BRI turut ditopang oleh kondisi makroekonomi nasional yang relatif stabil di sepanjang 2025. Di mana, PDB diproyeksikan akan stabil di atas 5% dengan ruang fiskal yang masih cukup luas. Sementara itu, dari sisi moneter, inflasi berada pada level yang stabil, dengan laju inflasi sekitar 2,65%, serta kondisi nilai tukar dan cadangan devisa yang kuat mendukung pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia.
“Dengan kondisi makro perekonomian Indonesia dan kebijakan moneter yang positif, hal ini berdampak terhadap stabilitas industri perbankan nasional. BRI melihat prospek pertumbuhan kedepan akan semakin kuat, ditopang oleh penurunan biaya dana (cost of fund), perbaikan likuiditas, serta peningkatan permintaan kredit di sektor produktif dan konsumtif,” ujarnya.
Hery Gunardi menegaskan bahwa kinerja BRI tidak hanya tumbuh secara sehat, tetapi juga merefleksikan keberpihakan nyata terhadap sektor produktif dan ekonomi rakyat. BRI akan terus memperkuat fundamental bisnis dengan menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi pendanaan, serta memperdalam transformasi yang dijalankan secara terstruktur dan terintegrasi melalui BRIVolution Reignite.
“Didukung oleh semangat seluruh Insan BRILiaN dan kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh, BRI optimistis dapat mempertahankan kinerja yang positif, berkelanjutan, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” tegasnya.
Kredit Sehat
Sementara itu, BRI menargetkan pertumbuhan kredit hingga akhir 2025 mencapai 9%. Hal ini sejalan dengan naiknya kredit di segmen UMKM yang menjadi portofolio utama.
Wakil Direktur Utama BRI Agus Noorsanto mengungkapkan, saat ini kinerja perseroan berada di jalur yang sesuai dengan target. Diproyeksikan capaian positif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun ini. “Untuk kredit, kami proyeksikan bisa tumbuh di kisaran 7%-9%,” ujarnya.
Menurut Agus, saat ini BRI tengah memperkuat fondasi bisnis dengan fokus pada fundamental yang kuat, khususnya portofolio kredit yang sehat, juga terus berupaya mendorong dana murah atau current account and saving account (CASA) untuk menuju level 70%.
.
Di samping memperkuat kinerja keuangan, lanjut Agus, pihaknya saat ini juga terus memperkuat peran dalam mendorong ekonomi kerakyatan. Dengan memberikan dukungan terhadap program-program pemerintah seperti KUR (kredit usaha rakyat), MBG (makan bergizi gratis), Program 3 Juta Rumah, KDMP (Koperasi Desa Merah Putih), dan lainnya.
Buyback Saham
Di lain sisi, beranjak dari harga saham BBRI yang kini ‘terlalu murah‘ (undervalued) tapi fundamentalnya kuat, BRI akan segera menempuh pembelian kembali (buyback) saham. Buyback saham tersebut juga menjadi cerminan optimisme perseroan terhadap keberlanjutan kinerja secara jangka panjang BRI.
Aksi buyback BRI telah memperoleh persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 24 Maret 2025 lalu dengan jumlah sebesar-besarnya Rp 3 triliun.
Harga saham BBRI sendiri saat ini dinilai undervalued. Hal tersebut tercermin pada data Bloomberg pada Jumat (31/10/2025) yang menyatakan bahwa dari total 37 analis yang memberikan pandangan terhadap saham BBRI, sebanyak 30 analis atau sekitar 81% merekomendasikan “beli”.
Target harga rata-rata 12 bulan ke depan sebesar Rp 4.651 per saham. Saat ini PBV BRI berada di level 1,80x (posisi 31 Oktober 2025) atau masih dibawah rata-rata PBV 5 tahun sehingga BBRI dapat dikategorikan undervalued.
Direktur Finance & Strategy BRI Viviana Dyah Ayu mengungkapkan bahwa perseroan masih memiliki alokasi bujet untuk melakukan buyback saham.
“Kami memperoleh bujet kurang lebih sekitar Rp 3 triliun, dan dapat kami pakai sesegera mungkin jika melihat situasi pergerakan BBRI. Saat ini memang kami melihat saham BBRI undervalued, kami mempertimbangkan untuk melakukan hal (buyback) tersebut,” ujar Viviana.

