Perbanas Sebut Penurunan BI Rate Jadi 5% Dorong Stabilitas dan Pemulihan Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menilai keputusan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5% bisa mendorong stabilitas dan pemulihan ekonomi nasional. Hal tersebut juga disebut telah sesuai dengan konsensus para ekonom dan kondisi makro saat ini.
Ketua Bidang Riset & Kajian Ekonomi Perbanas Aviliani mengungkapkan, stabilitas nilai tukar rupiah serta meningkatnya aliran modal asing memberikan ruang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
“Penurunan suku bunga, sesuai prediksi akan menurunkan 25 basis poin. Ini sesuai dengan konsensus dari para ekonom juga. Karena kalau kita lihat rupiah cenderung sudah mulai lebih stabil, investor asing sudah mulai cenderung masuk,” ujarnya, di acara Kelas Jurnalis Perbanas 2025, di Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Baca Juga
Aviliani menambahkan, sektor perbankan juga berharap langkah serupa dilakukan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan menurunkan tingkat bunga penjaminan (TBP). Di sisi lain, bank juga masih menghadapi tantangan likuiditas jangka menengah meski penyaluran kredit saat ini tumbuh 7%.
“Karena kredit masih tumbuh 7%, mereka masih melihat, satu, biasanya (kredit) BUMN itu akan menjadi penggerak utama daripada ekonomi. Tidak besar tapi jadi penggerak,” katanya.
“Kalau (kredit) BUMN jalan, biasanya swasta itu jalan. Intinya, BUMN sejak masuk Danantara ini pergerakan investasinya masih lambat. Sektor lainnya yang mencatatkan kenaikan kredit yaitu tambang dan alutsista (alat utama sistem senjata),” sambung Aviliani.
Baca Juga
Finex: Memahami Suku Bunga BI sebagai Kunci Strategi 'Trading'
Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa kredit ke sektor swasta ini pergerakannya masih cukup lambat. Oleh karena itu, untuk semester II 2025 ia mendorong pemerintah untuk fokus terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang mampu menimbulkan multiplier effect.
Sementara itu, Chief Economist Perbanas Dzulfian Syafrian menilai penurunan suku bunga BI merupakan sinyal kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang saat ini melambat. Ia mencatat, pertumbuhan kredit perbankan hingga saat ini yang masih single digit atau sekitar 7%, jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang masih tumbuh double digit.
“Biasanya bisnis bank itu follow the money, follow the economy, kalau ekonomi lagi kencang, kredit kencang. Kalau ekonomi lagi lesu, kredit juga lesu,” ucapnya.
Menurut Dzulfian, keputusan BI memang sejalan dengan prediksi tim ekonom Perbanas yang memperkirakan pertumbuhan kredit di tahun ini hanya akan berada di kisaran 8,7% plus minus 1%, atau sekitar 7% di batas bawah.
“Dengan diturunkannya 25 basis poin ini berarti BI ingin mengirimkan sinyal bahwa mereka mau menggenjot ekonomi yang sedang melemah,” kata Dzulfian.
Seperti diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memutuskan untuk memangkas suku bunga atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5%, atau pemangkasan ketiga di tahun ini. Penurunan ini didasari oleh inflasi dan nilai tukar rupiah yang stabil hingga mendorong pertumbuhan ekonomi.

