BCA Sebut Dampak Tarif Trump ke Kredit Manufaktur Masih Minim
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA menyatakan bahwa dampak kebijakan tarif resiprokal 19% oleh Amerika Serikat (AS) terhadap penyaluran kredit sektor manufaktur masih relatif terbatas hingga saat ini.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengungkapkan, aktivitas pembiayaan dari perbankan, termasuk BCA belum menunjukkan tekanan signifikan akibat kebijakan Donald Trump tersebut.
"Mengenai tarif resiprokal dari Amerika, so far dampaknya ke kredit manufacturing kita lihat minimal ya," ujar Hendra dalam acara Konferensi Pers Paparan Kinerja Semester I 2025 PT Bank Central Asia Tbk yang digelar secara virtual di Jakarta, Rabu (30/7/2025).
Hendra menjelaskan, perbankan masih memantau secara cermat pergerakan sektor industri. Hingga saat ini, belum terlihat adanya perlambatan besar dalam permintaan kredit dari pelaku usaha manufaktur.
"Tapi kita lihat, kita tunggu. Bulan Agustus ini sangat kritikal," ungkap Hendra.
Lebih lanjut, Hendra menyebut, bulan Agustus akan menjadi fase krusial dalam menentukan arah kebijakan dagang global, termasuk pengaruhnya terhadap sektor pembiayaan. Menurutnya, banyak negosiasi tarif yang tengah berlangsung dan akan diumumkan hasilnya dalam waktu dekat.
"Kebanyakan negosiasi final akan diumumkan di bulan Agustus, mungkin kecuali China ya, dan mungkin akan diundurin. Nanti kita lihat lagi. Tapi so far sih impact-nya cukup minimal," kata Hendra.
Di sisi lain, Hendra membeberkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir dirinya intens berdialog langsung dengan para nasabah korporasi yang melakukan kegiatan ekspor dan impor. Dari pertemuan-pertemuan tersebut, ia memperoleh gambaran mengenai tantangan aktual yang dihadapi pelaku usaha, sekaligus merancang strategi respons yang tepat.
“Belakangan ini saya sering ketemu banyak nasabah-nasabah BCA yang juga melakukan impor dan ekspor. Ini memang kita akan mengamati perkembangan ini dengan saksama. Dan kita akan lihat apa yang kita bisa bantu untuk membantu nasabah-nasabah kita,” jelas Hendra.
Hendra menambahkan, industri perbankan masih akan menghadapi sejumlah tantangan pada semester II tahun 2025. Situasi global, khususnya kebijakan tarif Trump terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia tetap akan menjadi perhatian utama.
Baca Juga
BCA Books Rp 29 Trillion Profit in H1 2025, Up 8% on Solid Loan Growth and Digital Expansion
Sementara itu, Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih pun turut menyampaikan pandangannya terkait prospek perekonomian nasional pada paruh kedua tahun 2025. Dikatakan John, kondisi likuiditas perbankan saat ini mengalami perbaikan yang cukup signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
"Kalau kita perhatikan hari ini likuiditas saya kira semakin membaik," ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, John berharap dorongan dari belanja pemerintah bisa menjadi stimulus tambahan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, yang pada gilirannya akan berdampak positif terhadap pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) di industri perbankan.

