Bank Digital Indonesia Dinilai Sudah ‘Matang’
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bank digital di Indonesia dinilai sudah ‘matang’ atau matured karena mampu bertahan, bahkan sangat dibutuhkan dalam industrinya dengan nasabah setia yang bergantung pada layanan praktisnya.
Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo menjelaskan, kematangan bank digital di Indonesia tercermin dari banyaknya bank konvensional yang justru ikut memberikan layanan perbankan secara digital, demi melengkapi layanan yang sudah mereka punya sebelumnya.
“Dari perkembangan, pastinya semua harus transformasi ke digital. Bagi pemain lama, supaya masih relevan, mereka bertahap masuk ke digital bank, melakukan alignment termasuk physical presence menjadi digital atau hybrid bank,” ujar Indra pada Podcast ‘Masa Depan Perbankan Digital Indonesia’ dalam rangkaian menuju Digital Banking Award 2025 yang diadakan Investortrust.id.
Sementara itu pemain baru atau merek bank yang memang dibentuk sebagai bank digital, lebih cenderung membawa model bisnis baru, salah satunya layanan utama melalui kanal digital atau digital first.
“Termasuk Allo Bank, kami hadir dengan digital first service untuk perkembangannya,” imbuh Indra.
Baca Juga
Allo Bank Indonesia Raih Penghargaan Investortrust Best Bank KBMI II
Dia mengaku, sangat berterima kasih kepada teknologi finansial (tekfin) yang lebih dulu mengajarkan masyarakat untuk melakukan transaksi secara digital, seperti pembayaran menggunakan QRIS.
Dalam perkembangan bank digital di Indonesia, hal itu mendorong masyarakat atau nasabah untuk menciptakan nilai atau kebutuhan baru, yakni layanan keuangan yang cepat dan mudah.
“Maka dalam hal ini juga, kita lihat itu sudah menjadi new normal kalau harus digital first,” sambungnya.
Indra pun menilai, bank-bank digital di Indonesia telah memasuki ekosistem bisnis yang matang, tidak lagi berada di fase berkembang seperti sebelumnya. Selebihnya, bank digital di Indonesia hanya perlu memperkuat identitas dan diferensiasi masing-masing untuk dapat terus bertumbuh atau berkelanjutan.
“Karena bagaimanapun bank-bank ini harus bisa mengelola balance sheet untuk bisa tumbuh. Saya rasa itu challenge perbankan untuk bisa tumbuh,” pungkasnya.

