Dirut BSI Ikut Waspadai Kebijakan Ekonomi AS pada Era Donald Trump
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk Hery Gunardi akan mencermati dan mewaspadai kondisi perekonomian global. Langkah ini sebagai bentuk respons atas kemungkinan kebijakan proteksionisme yang akan diterapkan presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
“Trump kan semua orang (bilang) agak beda haluannya. Nanti akan ada ketentuan tarif impor, orang ini memang dikenal (dengan penerapan tarif proteksionisme, red) ketika memimpin lima tahun lalu. Kita wait and see saja, kita lihat,” ujar Hery, saat ditemui di kawasan Senayan, Minggu (17/11/2024).
Meski demikian, Hery menyebut pihaknya akan terus mencermati kondisi global ke depan. “Sebagai bank kita harus siap dengan segala macam ‘cuaca’,” kata dia.
Hery mengatakan korporasi yang dia pimpin menargetkan pertumbuhan pembiayaan di kisaran 13% - 15%. Target ini, kata dia, untuk melanjutkan tren positif emiten berkode bursa BRIS ini selama 2024.
Baca Juga
Hadirkan Layanan Digital Syariah yang Mudah, BYOND by BSI Raih Respons Positif Masyarakat
“Setiap kuartal kan pertumbuhan kita kan double digit, pertumbuhan double digit akan kita pertahankan terus, kecuali ada hal-hal khusus terkait dengan pemburukan ekonomi,” ucap dia.
Berdasarkan data kuartal III-2024, BSI membukukan laba bersih sebesar Rp 5,1 triliun. Catatan laba bersih ini naik sebesar 21,6% dibandingkan periode yang sama 2023, yang tercatat sebesar Rp 4,2 triliun.
Bank syariah terbesar di Indonesia itu mencatatkan pendapatan setelah distribusi bagi hasil tumbuh 4,56% secara tahunan menjadi Rp 13,46 triliun per September 2024 dari sebelumnya Rp 12,87 triliun per September 2023.
Net Operating Margin (NOM) bank pun naik menjadi 2,81% dari sebelumnya 2,57%. Selain itu, laba BSI juga terdorong dari fee based income yang tumbuh 23,28% yoy menjadi Rp 1,54 triliun dari Rp 1,25 triliun. Selanjutnya, pendapatan lainnya mengalami kenaikan sebesar 14,07% yoy menjadi Rp 987,32 miliar dari sebelumnya Rp 865,53 miliar.
Baca Juga
BSI Targetkan Migrasi Nasabah ke Aplikasi BYOND Berlangsung 6 Bulan
Dari sisi pembiayaan BSI tercatat sebesar Rp 266,46 triliun per September 2024. Angka ini naik 15,32% secara tahunan dari September 2023 yang tercatat sebesar Rp 231,06 triliun.
Dengan pembiayaan ini, aset BSI mengalami kenaikan 15,91% secara tahunan menjadi Rp 370,72 triliun dari sebelumnya RP 319,85 triliun. Dari sisi non performing loan (NPF) gross, BSI mengalami perbaikan. Hingga September 2024, NPF BSI tercatat sebesar 1,97%. Lebih baik secara tahunan yang tercatat sebesar 2,21% per September 2023.
NPF net juga turun menjadi 0,56% dari sebelumnya 0,61%. Kemudian, BSI telah menghimpun dana pihak ketiga sebesar Rp301,22 triliun, per September 2024 naik 14,92% yoy dari sebelumnya Rp262,12 triliun per September 2023. Adapun, dana murah BSI menyentuh Rp185,83 triliun tumbuh 18,88% yoy dari sebelumnya Rp156,31 triliun.

