IFG Ingatkan Perlunya Manajemen Risiko Dibalik Penerapan Digitalisasi
JAKARTA, investortrust.id - Senior Executive Vice President Indonesia Financial Group (IFG) Joseph Georgino Godong menyampaikan bahwa perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan digitalisasi perlu untuk memperhatikan empat manajemen risiko guna mengelola keamanan perusahaan, seperti, risiko operasional, risiko third party, risiko dari regulator, dan risiko pasar.
Pernyataan itu disampaikan Joseph dalam acara Managed Services for Efficiency: Enhancing Operations, Network and Security di The Ritz-Carlton Pacific Place Hotel, Jakarta, Rabu (30/10/2024).
“Saya katakan risiko itu ada satu namanya risiko operasional, itu biasanya kan risikonya mendasar kepada kebodohan kita, karena ini kan birokrasi kita. Kedua kan risiko third party atau partner kita, yang ketiga kan yang paling sederhana karena regulatory risk, yang keempat ada yang namanya market risk,” ujar Joseph.
Baca Juga
Meriahkan Youth Fest 2024, IFG Life Dorong Pemuda Berkarya untuk Labuan Bajo
Sehubungan dengan hal tersebut, Joseph pun mengimbau perusahaan-perusahaan untuk mengelola manajemen risiko ini melalui pihak ketiga, yaitu penyedia layanan managed services maupun perusahaan itu sendiri yang mengelola risiko data center.
“Maka kita mesti lihat, mampu nggak pihak yang kita serahkan itu, bekerja sesuai kehendak kita atau sesuai dengan standar kita dan dengan risikonya,” ungkap Joseph.
Joseph menjelaskan, jika menyerahkan pengelolaan risiko kepada pihak lain, maka terdapat berbagai risiko yang akan muncul, seperti seberapa cepat pihak lain tersebut melakukan adaptasi dengan perubahan peraturan yang ada pada data center.
“Dan kalau ada sesuatu yang terjadi, karena kendali di luar kendali kita semua, seberapa mudah dia mengatasi itu. Nah kalau sudah seperti begitu, saya akan mengatakan kita manage risikonya,” jelas Joseph.
Baca Juga
Perluas Jangkauan, Cinema XXI (CNMA) Buka Bioskop Pertama di Timika Papua Tengah
Lebih lanjut, Joseph menyebut, berdasarkan berbagai faktor itu, maka perusahaan perlu melakukan pertimbangan terkait pengelolaan risiko data center perusahaan. Joseph menyarankan agar hal tersebut bisa dilakukan sekaligus di dua tempat.
“Jadi misalnya, backup-nya di kita, kita isi satu, kita isi dua, supaya kalau ada kejadian tidak semuanya bermasalah. Sederhana saja, jadi saya lebih mengatakan yang namanya manage service itu, kalau mencari salah satu, kita manage risikonya,” imbuh Joseph.

