Jurus Pamungkas AstraPay Dorong Kemajuan Pembayaran Digital di Tanah Air
JAKARTA, investortrust.id - Seiring dengan perkembangan zaman, tren pembayaran digital di Indonesia semakin meningkat. Berbagai platform pembayaran digital hadir dan berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat, salah satunya AstraPay.
Aplikasi pembayaran digital milik PT Astra International Tbk (ASII) ini menawarkan beragam kemudahan pembayaran, mulai dari tagihan bulanan, pembelian pulsa, tiket transportasi, tiket hiburan, higga pembayaran di lebih dari 15 juta merchant quick response code Indonesian standard (QRIS).
Chief Executive Officer AstraPay Rina Apriana mengungkapkan, dengan adopsi teknologi keuangan yang semakin masif, penggunaan QRIS menjadi salah satu metode pembayaran yang makin diminati karena menawarkan kecepatan dan kemudahan.
“AstraPay turut hadir mendukung optimalisasi penggunaan QRIS yang lebih masif untuk sejumlah merchant, khususnya bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM),” ujarnya belum lama ini.
Kehadiran AstraPay dalam mendukung pembayaran digital di Indonesia juga terbilang sukses. Hal ini tercermin dari jumlah penggunanya yang sudah mencapai 13 juta hingga Mei 2024, padahal aplikasi ini pertama kali beroperasi sekitar tahun 2021.
Untuk periode Januari hingga Mei 2024, nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) AstraPay mencapai Rp 19,03 triliun. “Sampai dengan akhir tahun 2024, AstraPay menargetkan 15 juta pengguna dengan jumlah transaksi yang kami targetkan sebesar 32 juta kali, serta dengan GTV yang ditargetkan mencapai Rp 52,59 triliun,” sebut Rina.
Sejalan dengan itu, AstraPay juga terus berupaya mendukung implementasi pembayaran digital di Indonesia, di antaranya hadir di salah satu ajang otomotif terbesar di Tanah Air, yaitu Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 yang berlangsug di ICE BSD Tangerang (18-28 Juli 2024) dan Surabaya (28 Agustus-1 September 2024).
Baca Juga
Chief Marketing Officer AstraPay Reny Futsy Yama mengatakan, dari kedua ajang tersebut, Astrapay sukses mencatatkan jumlah transaksi mencapai 31.364 transaksi atau setara dengan 179,22% dari target awal.
Keikutsertaan di GIIAS 2024 merupakan komitmen AstraPay untuk terus berinovasi dan memberikan layanan yang relevan bagi pasar. Karena, ia melihat konsumen semakin membutuhkan metode pembayaran digital yang mudah, cepat, dan aman.
Selain hasil positif dalam peningkatan jumlah transaksi, AstraPay juga berhasil menggaet jumlah pengguna baru lebih dari 2.000 orang dari kedua ajang tersebut. Torehan positif tersebut, tak lepas dari berbagai penawaran spesial yang diberikan, mulai dari cashback hingga kesempatan mendapatkan voucher AstraPay.
“Hal ini menunjukan bahwa banyaknya masyarakat yang tertarik dengan layanan AstraPay untuk bertransaksi,” ucap Reny.
Selain hadir di GIIAS 2024, lanjut dia, AstraPay juga berpartisipasi dalam ajang FDR Day 2024, akhir September 2024 lalu, guna memudahkan masyarakat khususnya pecinta otomotif dalam melakukan pembayaran secara digital.
“Partisipasi kami di FDR Day 2024 merupakan bentuk komitmen AstraPay untuk terus mendukung berbagai kegiatan komunitas, khususnya di bidang otomotif, serta memberikan solusi pembayaran digital yang relevan bagi mereka,” ujar Reny.
Terlepas dari upaya dalam mendukung pembayaran digital di Indonesia, AstraPay juga mengedepankan keamanan data para pengguna. Hal ini tercermin dari dua sertifikasi yang didapat di bidang manajemen keamanan informasi. Yaitu, meningkatkan sertifikasi ISO 27001:2013 menjadi ISO 27001:2022 dan mendapat sertifikasi baru ISO 27701:2019.
Rina Apriana menjelaskan, AstraPay telah memiliki sertifikasi ISO 27001:2013 sejak tahun 2020 sebagai bukti komitmen perusahaan dalam menjaga keamanan informasi. Sementara di tahun ini, berhasil memperbaharui sertifikasinya ke ISO 27001:2022 dengan cakupan yang lebih luas.
ISO 27001 merupakan standar internasional untuk sistem manajemen keamanan informasi atau information security management system (ISMS), yang dirancang untuk membantu suatu perusahaan melindungi data dengan cara yang sistematis dan proaktif.
Menurut Rina, sertifikasi ini mencakup seluruh departemen dalam organisasi, dan memastikan bahwa standar keamanan informasi diterapkan secara menyeluruh mulai dari pengolahan data hingga proses operasional harian.
“Pembaruan ke versi 2022 memperlihatkan langkah proaktif AstraPay dalam menghadapi dinamika perubahan ancaman keamanan digital,” katanya.
Baca Juga
Jamin Keamanan Data Pelanggan, AstraPay Raih Sertifikasi ISO 27001 dan 27701
Sementara, sertifikasi ISO 27701:2019 adalah sebuah standar yang merupakan ekstensi dari ISO 27001:2022 khusus terkait dengan manajemen privasi informasi. Sertifikasi ini berfokus pada pengelolaan data pribadi, khususnya data pelanggan yang menggunakan AstraPay.
Dikatakan Rina, sertifikasi tersebut memastikan bahwa seluruh proses, mulai dari pengumpulan, penyimpanan, hingga pengelolaan data pelanggan dilakukan sesuai standar privasi global. Selain itu, juga menunjukkan keseriusan AstraPay dalam melindungi privasi pengguna dari potensi penyalahgunaan data dan menjamin keamanan informasi secara holistik.
“Pencapaian sertifikasi ini bukan hanya bukti komitmen kami terhadap keamanan informasi, tetapi juga merupakan langkah penting dalam menjaga kepercayaan pelanggan,” ucap Rina.
Kian Diminati
Di lain sisi, Director of Digital Economy di Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda tak menampik jika metode pembayaran digital akan semakin diminati masyarakat ke depannya. Hal ini didorong karena banyak orang yang sudah semakin malas memegang uang tunai.
“Kehadiran platform pembayaran digital membuat masyarakat bisa mengakses keuangan digital tanpa rekening perbankan. Jadi memang pelopor untuk transaksi cashless ya dari digital wallet atau e-wallet ini,” ucapnya, kepada investortrust.id, Senin (7/10/2024).
Bahkan Presiden Jokowi pernah menyampaikan di tengah perlambatan dan ketidakpastian ekonomi global, Indonesia harus mampu memanfaatkan semua instrumen dan peluang yang ada untuk terus tumbuh. Presiden menegaskan potensi besar ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan akan tumbuh empat kali lipat pada tahun 2030 mendatang. Pembayaran digital juga diprediksi akan tumbuh 2,5 kali lipat pada tahun 2030 mencapai US$ 760 miliar atau sekitar Rp 11.930 triliun (kurs Rp 15.698). Sebuah angka yang sangat besar sekali.
Namun begitu, lanjut Huda, salah satu tantangan yang dihadapi platform pembayaran digital adalah ekosistem perbankan yang sudah mulai banyak adopsi digital. “Pemain e-wallet dituntut untuk lebih memperluas ekosistem yang dimilikinya untuk tetap bisa bersaing,” katanya.
Sekadar informasi, dilansir dari laman resminya, selain menyediakan layanan pembayaran tagihan bulanan, pembelian pulsa, tiket transportasi, tiket hiburan, dan pembayaran QRIS, AstraPay juga menyediakan layanan transfer yang, pembayaran asuransi, hingga bayar belanja online di berbagai marketplace favorit.
Di samping itu, AstraPay juga menawarkan sejumlah keuntungan, yaitu proses transaksi yang mudah dan cepat, aman, nyaman karena hanya melalui smartphone, hemat dengan berbagai promo dan cashback, serta praktis.
Sementara itu, salah seorang pengguna AstraPay yang berprofesi sebagai pegawai swasta, Fahmi (32) menyatakan, dengan berbagai layanan dan produk yang disediakan platform pembayaran digital ini, semakin memudahkan hidupnya, khususnya dalam hal pembayaran sejumlah tagihan.
“Dengan adanya fitur pembayaran tagihan, semakin memudahkan saya dalam membayar tagihan PDAM dan PLN setiap bulannya. Dan tentunya fitur QRIS juga yang paling rutin saya gunakan,” ucapnya.

