Turun 2%, Nilai Pembiayaan Adira Finance (ADMF) Terseret Penurunan Pasar Otomotif
JAKARTA, investortrust.id – Nilai pembiayaan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) terseret lesunya lesunya kinerja industri otomotif, terutama penjualan ritel mobil baru.
Presiden Direktur PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) Dewa Made Susila menyampaikan bahwa jumlah pembiayaan baru pada semester I-2024 mengalami penurunan sebesar 2% secara year-on-year/yoy menjadi Rp 20 triliun.
Sementara itu, penjualan ritel mobil baru mengalami penurunan sebesar 15% secara yoymenjadi 432 ribu unit, sedangkan penjualan sepeda motor baru relatif stabil yaitu sebesar 3 juta unit di semester I-2024.
‘’Kondisi tersebut dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang relatif menurun, suku bunga yang masih tinggi, serta depresiasi nilai tukar rupiah,’’ urai Made dikutip, Rabu (7/8/2024).
Kendati nilai pembiayaan baru menurun, Made menyatakan bahwa piutang pembiayaan yang dikelola perusahaan, termasuk pembiayaan bersama, tetap mampu tumbuh sebesar 15% yoy menjadi Rp 58,4 triliun. Per Juni 2024, pembiayaan bersama mewakili 47% dari piutang yang dikelola ADMF.
Baca Juga
Menurutnya, pertumbuhan tersebut didukung oleh berbagai strategi perseroan untuk mengembangkan lini bisnis di luar segmen otomotif, seperti pinjaman multiguna.
Sepanjang semester I-2024, ADMF mencatat pertumbuhan pembiayaan baru pada segmen non-otomotif sebesar 21% yoy, mencapai Rp 4,6 triliun, dengan pembiayaan multiguna sebagai kontributor terbesar.
Selain itu, Made menyatakan bahwa perseroan membukukan pembiayaan baru pada segmen syariah sebesar Rp 4,3 triliun atau mewakili 22% dari total pembiayaan baru.
Terkait neraca keuangan perusahaan, Direktur Keuangan Adira Finance Sylvanus Gani Kukuh Mendrofa menyampaikan bahwa perseroan membukukan total pendapatan mencapai Rp 5 triliun, atau naik sebesar 11% secara yoy pada semester I tahun ini.
Baca Juga
“Sementara itu, total beban meningkat sebesar 16% yoy menjadi Rp4 triliun di semester I-2024,” ujarnya.
Dia menuturkan bahwa peningkatan beban tersebut disebabkan naiknya biaya pendanaan perusahaan seiring dengan peningkatan suku bunga.
“Dengan demikian, laba bersih perusahaan setelah pajak dibukukan sebesar Rp 765 miliar atau mengalami penurunan sebesar 7% yoy,” imbuh Sylvanus. (ant)

