OJK Sebut Perbankan Hadapi Berbagai Tantangan dan Isu Struktural, Apa Saja?
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menyatakan industri perbankan saat ini menghadapi kondisi yang tidak mudah. Pasalnya, bank-bank dihadapkan pada berbagai tantangan dan isu struktural untuk bisa memiliki daya saing yang lebih baik, serta lebih kontributif terhadap pembangunan nasional.
“Tantangan pertama, bahwa dukungan kebijakan untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi atau post pandemic policy responsive,” ujarnya, dalam virtual seminar, Jumat (26/7/2024).
Dikatakan dia, tantangan kedua adalah kondisi volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (Vuca). Selain itu, juga adanya spillover effect berupa tensi geopolitik yang masih tinggi sehingga mendorong peningkatan harga komoditas dan energi.
Baca Juga
“Selain itu, lonjakan inflasi dan era suku bunga higher for longer, serta adanya potensi perlambatan ekonomi atau stagflasi,” kata Dian.
Ketiga, adanya faktor perkembangan yang luar biasa dalam konteks digitalisasi berupa percepatan digitalisasi dan emerging technology, serta aspek kesiapan industri baik dari sisi people atau sumber daya manusia (SDM), bisnis proses, hingga adopsi teknologi.
“(Tantangan) keempat, adalah risiko yang terkait dengan iklim berupa risiko keuangan sebagai bentuk dampak perubahan iklim, serta upaya untuk mencapai net zero emission (NZE) target,” ucapnya.
Baca Juga
OJK: Peningkatan Suku Bunga Global Berdampak Variasi ke Perbankan Indonesia
Di samping tantangan, lanjut Dian, industri perbankan juga menghadapi sejumlah isu struktural yang saat ini tengah mengemuka. Salah satunya berkaitan dengan tuntutan penguatan struktur industri agar semakin berdaya saing, baik melalui pemenuhan modal inti minimum maupun penguatan manajemen risiko.
“Kedua adalah akselerasi transformasi digital terkait dengan ancaman risiko siber yang semakin beragam. Diperlukannya kesiapan infrastruktur mendasar serta kolaborasi dan konektivitas bank,” ujarnya.
Isu struktural terakhir, adanya tuntutan bagi perbankan agar lebih kontributif dalam pembangunan berkelanjutan khususnya terkait dengan pemenuhan rasio pembiayaan inklusi makro prudensial, target pertumbuhan perekonomian regional, dukungan terhadap ekonomi hijau, mitigasi risiko iklim, dan pendalaman pasar keuangan.

