Ini Pendorong Bank QNB Indonesia (BKSW) Cetak Laba Rp 69,25 M
JAKARTA, Investortrust.id - Bank QNB Indonesia (BKSW) berhasil membalikan keadaan dengan sukses membukukan laba bersih sebesar Rp 69,25 miliar di tahun 2023, setelah pada tahun sebelumnya rugi Rp 400,73 miliar pada 2022.
Presiden Direktur Bank QNB Indonesia, Haryanto Suganda mengungkapkan, pertumbuhan laba bersih salah satunya ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII). Hingga akhir 2023 NII tercatat tumbuh 15% secara tahunan menjadi Rp 525,64 miliar. Selain itu, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) juga berada di level 3,83% atau naik 0,64%
“Perbaikan kinerja pascapandemi Covid-19 yang mulai terlihat sejak awal 2023 berhasil dijaga dengan melakukan sejumlah langkah dan menyesuaikan strategi untuk memperkuat fundamental bank,” ujarnya, dalam keterangan resmi, dikutip Senin (4/3/2024).
Selain itu, lanjut Haryanto, return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) juga mencatatkan pertumbuhan masing-masing 0,48% dan 1,65% di tahun lalu. Lalu, Bank QNB Indonesia juga sukses menjaga likuiditas tetap terjaga, tecermin dari rasio kecukupan likuiditas atau liquidity coverage ratio (LCR) yang berada di level 465,30% dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 190,59%.
Baca Juga
Laba Bank QNB Indonesia (BKSW) Terkerek 119 % di Kuartal III-2023
”Bank QNB Indonesia terus memperkuat struktur permodalannya untuk dapat menjalankan strategi dan mengembangkan bisnisnya ke depan,” katanya.
Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang tercatat berada di level 62,23% di tahun lalu, atau meningkat dibanding posisi 2022 yang sebesar 38,59%.
“Kinerja positif Bank QNB Indonesia di 2023 tidak lepas dari dukungan nasabah, karyawan dan para pemangku kepentingan, terutama pemegang saham pengendali, QNB Group,” pungkas Haryanto.
Meski begitu, jika melirik laporan keuangan publikasi Bank QNB Indonesia di website resminya, kredit yang disalurkan bank ini tumbuh negatif 38,35% dari Rp 9,66 triliun di 2022 menjadi Rp 5,96 triliun pada tahun lalu. Sejalan dengan itu, dana pihak ketiga (DPK)-nya juga terkontraksi 40,22% dari Rp 10,60 triliun pada 2022 menjadi Rp 6,34 triliun di tahun lalu.
Alhasil, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR)-nya pun meningkat menjadi 93,94% pada 2023, dari sebelumnya 91,11% di 2022. (CR-13)

