OJK Sebut Inklusi Keuangan RI Tembus 93%, Lampaui Target 2029
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, tingkat inklusi keuangan di Indonesia di tahun ini telah mencapai 93% atau telah melampaui target yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) sekitar 93% untuk 2029.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan, capaian itu didukung kolaborasi pemerintah, OJK, Bank Indonesia (BI), serta pemerintah daerah dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan.
“Di tahun 2026, bekerja sama dengan Pak Menko juga, bahwa literasi sudah mencapai 69% dan tingkat inklusi keuangan Indonesia sudah mencapai lebih dari 93%. Hal ini sudah melampaui target RPJMN Indonesia sebesar 93% di tahun 2029,” ujarnya, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Baca Juga
Menurut Friderica, perluasan akses keuangan menjadi bagian dari upaya mendukung agenda pembangunan nasional, khususnya pemerataan ekonomi, pemberantasan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Saat ini, OJK telah memiliki 552 TPAKD yang tersebar di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia. Sejumlah program unggulan TPAKD turut mendorong perluasan akses pembiayaan masyarakat.
Program Kredit dan Pembiayaan Melawan Rentenir misalnya, telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 64,8 triliun kepada 2,3 juta debitur. Sementara, program Kredit Pembiayaan Sektor Prioritas telah menyalurkan Rp 5,4 trilun kepada lebh dari 103.000 debitur.
OJK, kata Friderica, juga mendorong inklusi keuangan sejak usia dini melalui program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Melalui program tersebut, pelajar memperoleh edukasi keuangan sekaligus akses untuk membuka rekening Simpanan Pelajar (SimPel) dengan setoran awal mulai Rp 5.000.
Baca Juga
BRILink Agen Ijay Hadirkan Inklusi Keuangan di Desa Jelapat Batola Kalsel
Di lain sisi, ia menyebut bahwa sektor jasa keuangan nasional tetap resilien di tengah tekanan ekonomi global yang dipengaruhi faktor geopolitik, inflasi tinggi, dan suku bunga yang bertahan pada level tinggi.
“Ekonomi Indonesia tumbuh 5,08% di semester I 2026. Kredit di sektor perbankan tumbuh 13,69%, dan tertinggi dalam 10 tahun terakhir,” kata Friderica.
Dari sisi penghimpunan dana, total dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh dua digit mencapai Rp 10.400 triliun. Dengan dukungan permodalan yang kuat dan rasio kredit bermasalah atau (non performing loan) yang terjaga.
