Rupiah Jebol ke Rp 18.000-an per Dolar AS, Efek dari Keputusan MSCI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah 0,71% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (16/10/2026). Rupiah berada di posisi Rp 18.065 per dolar AS.
Selain rupiah, pelemahan juga terjadi pada yen Jepang, dolar Singapura, dan baht Tailan, ringgit Malaysia, won Korea Selatan, yuan China, dan peso Filipina.
Yen melemah 0,01%, dolar Singapura melemah 0,05%, baht melemah 0,08%, ringgit melemah 0,03%, won melemah 0,22%, dan yuan melemah 0,02%, serta peso 0,07%.
Baca Juga
MSCI Menggugat Kredibilitas Pasar Indonesia: Dampak Transmisi ke Saham, Obligasi, dan Rupiah
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa indeks dolar AS melemah ke posisi 0,54% menjadi 102. Tetapi, angka ini menguat 3,74% year to date, seiring penurunan imbal hasil US Treasury yang mengurangi momentum penguatan dolar AS.
Indeks harga produsen (PPI) AS September 2026 melonjak 1,3% secara bulanan dan 6,3% secara tahunan, jauh di atas ekspektasi. Sementara itu, penjualan ritel meningkat 0,8% secara bulanan. Pasar akan mencermati data produksi industri, harga impor dan ekspor AS, serta pernyataan lanjutan dari pejabat The Fed hari ini.
Ekspektasi pasar masih cenderung mengarah pada keputusan The Fed untuk menahan suku bunga pada Oktober, dengan probabilitas kenaikan 25 bps pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 27–28 Oktober diperkirakan sekitar 29%. Meskipun data CPI dan PPI menunjukkan inflasi yang lebih tinggi, pernyataan The Fed yang berhati-hati serta kondisi pasar tenaga kerja yang melemah membuat Desember menjadi waktu yang lebih mungkin bagi kenaikan suku bunga berikutnya.
Harga minyak mentah Brent turun tipis 0,13% menjadi US$ 105,9 per barel, seiring membaiknya arus pasokan dari Timur Tengah yang mengimbangi risiko geopolitik yang masih berlanjut.
Baca Juga
BI: Rupiah Masih Bergerak Sejalan dengan Mata Uang di Kawasan
Pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk membantu menahan kenaikan harga. Namun, serangan Houthi dan ancaman berkelanjutan terhadap pelayaran di sekitar Selat Hormuz membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi.
Tim Ekonom Bank Mandiri menilai dolar AS masih akan menekan rupiah pada hari ini. Selain faktor global, terdapat risiko penurunan peringkat oleh MSCI berpotensi memicu arus dana keluar asing lebih lanjut dari pasar saham dan meningkatkan premi risiko pasar Indonesia.
“Faktor-faktor tersebut diperkirakan lebih dominan dibandingkan dukungan dari pelemahan DXY dan penurunan imbal hasil US Treasury,” kata Andry.
