Didorong 3 Faktor Ini, Pindar Dinilai Punya Potensi Besar di Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Industri financial technology (fintech) peer to peer (p2p) lending atau pinjaman daring (pindar) dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang di Indonesia. Potensi itu didukung oleh kondisi demografi, kekayaan sumber daya alam (SDA), serta stabilitas dan perdamaian yang menjadi modal penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur Utama Indodana Fintech sekaligus Ketua Bidang Risk Control & Technology Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Ronny Wijaya mengungkapkan, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan fundamental yang membuat prospek ekonominya tetap besar. Salah satunya adalah kondisi demografi yang relatif muda dengan jumlah penduduk yang besar.
“Kalau misalnya kita bandingkan dengan negara lain, misalnya Jepang di mana mereka itu penduduknya yang muda kurang cukup untuk menopang yang mungkin lebih tua atau yang masih muda sekali. Itu penduduk kita benar-benar kondisi yang masih bagus sekali, jadi di sisi penduduk kita bagus,” ujarnya, dalam acara Pindar Mengajar bertajuk ‘Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi’, Rabu (26/8/2026).
Faktor kedua, lanjut Ronny, adalah kekayaan SDA yang dimiliki Indonesia. Ia menilai, SDA merupakan potensi besar yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi jika dikelola secara bijaksana dan berkelanjutan. Namun, ia mengingatkan bahwa kekayaan SDA juga dapat menjadi tantangan jika dimanfaatkan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan.
“Kita harus tetap ingat karena kalau misalnya ini kita tidak bijaksana, kita pakainya sembarangan, ini malah menjadi sebuah kutukan, bukan sebuah berkah. Tapi ini sesuatu yang kekayaan alam yang kita sudah punya ini, Tanah Air kita sendiri, dan kita punya tanggung jawab untuk memakainya dengan baik,” katanya.
Baca Juga
AFPI Buka-Bukaan Soal Tantangan yang Dihadapi Pindar Saat Ini
Faktor ketiga yang dinilai menjadi kekuatan Indonesia adalah perdamaian dan kemampuan menjaga persatuan di tengah keberagaman. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang luas serta masyarakat yang beragam, Indonesia dinilai mampu mempertahankan persatuan dan stabilitas.
Ronny mengatakan, kondisi tersebut menjadi keunggulan tersendiri karena konflik dan peperangan di berbagai negara pada umumnya memberikan dampak buruk terhadap kondisi ekonomi.
“Jadi Indonesia dengan bisa mempunyai perdamaian walaupun kita punya keragaman sangat beda, itu benar-benar itu sesuatu yang punya potensi yang lebih tinggi dan lebih baik,” ucapnya.
Baca Juga
Pembiayaan Pindar ke UMKM Naik 23,25% Jadi Rp 35,12 Triliun di Semester I 2026
Potensi Perlu Dibarengi Pembangunan
Ronny menilai, potensi besar tersebut perlu diikuti dengan pembangunan berbagai infrastruktur dasar yang menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur tersebut tidak hanya berupa fisik, seperti energi, transportasi, logistik, dan air, tapi juga mencakup pendidikan, kesehatan, hingga sistem finansial.
Dalam konteks sistem finansial, industri pindar memiliki peran pada sisi akses pembiayaan. Ia menjelaskan bahwa sektor finansial memiliki berbagai aktivitas, mulai dari perbankan, sistem pembayaran, perkreditan, investasi, hingga asuransi.
Meski begitu, Ronny menekankan bahwa akses terhadap pembiayaan harus diiringi dengan pemahaman dan literasi keuangan yang memadai. Pasalnya, kredit dapat menjadi instrumen yang membantu masyarakat meningkatkan kapasitas ekonomi, tapi juga dapat menimbulkan persoalan jika digunakan tanpa perhitungan.
Menurutnya, kredit dapat dianalogikan sebagai pedang bermata dua. Penggunaan yang tepat dapat membantu seseorang menopang sekaligus mempercepat pertumbuhan, sedangkan penggunaan yang tidak tepat justru dapat menimbulkan kerugian bagi pengguna.
Karena itu, Ronny menyatakan pentingnya meningkatkan literasi seiring dengan perluasan akses keuangan. Sebab, masyarakat tidak cukup hanya diberikan akses terhadap produk finansial, tapi juga perlu dibekali kemampuan untuk memahami manfaat, risiko, serta cara penggunaan produk tersebut secara bertanggung jawab.
