Terungkap! Cara Cerdas Bank Jago (ARTO) Manfaatkan AI Tanpa Singkirkan Peran Karyawan
JAKARTA, investortrust.id – Ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai membayangi dunia kerja dan memicu kekhawatiran akan hilangnya peran manusia, PT Bank Jago Tbk (ARTO) justru mengambil langkah berbeda. Teknologi secanggih apa pun hanyalah pendamping, sementara kemudi utama organisasi tetap berada di tangan talenta-talenta yang adaptif.
Alih-alih terancam, bank digital ini menjadikan AI sebagai asisten untuk membereskan pekerjaan rutin, sekaligus membuktikan bahwa di balik layar aplikasi yang serba canggih, empati dan keputusan strategis manusia tetap tidak tergantikan.
Demikian penjelasan Head of People & Culture PT Bank Jago Tbk (ARTO) Pratomo Soedarsono saat berdiskusi dengan ratusan anggota Asosiasi Internasional Mahasiswa Ilmu Ekonomi dan Bisnis (AIESEC) di Universitas Indonesia, Depok, baru-baru ini.
Baca Juga
Tren Investasi Berkembang, Kolaborasi Bank Jago (ARTO) dan Bibit Gaet 3,6 Juta Pengguna
Pria yang akrab disapa Tommy tersebut menyebutkan bahwa sebagai bank berbasis teknologi, Bank Jago (ARTO) memosisikan AI sebagai alat pendamping digital untuk membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rutin. “Di Bank Jago, AI dimanfaatkan untuk memberi saran, tapi keputusan tetap di tangan manusia. Jadi, prosedur rutin yang membuang waktu bisa dihindari dan tim bisa fokus melatih talenta, memahami konteks, dan mengambil keputusan penuh makna,” ungkap Tommy.
Dengan pendelegasian tugas rutin kepada AI, waktu dan perhatian karyawan dapat dialihkan pada pekerjaan yang bernilai lebih tinggi, seperti memahami kebutuhan nasabah, menyelesaikan persoalan yang kompleks, dan mengembangkan kapasitas anggota tim.
Perkembangan teknologi ini juga diiringi dengan penyesuaian cara kerja di dalam organisasi. Karyawan Bank Jago, yang kerap disapa 'Jagoan' diberikan ruang yang lebih besar dan keleluasaan untuk mengambil keputusan tanpa harus selalu menunggu instruksi dari atasan.
Baca Juga
Saham Bank Jago (ARTO) Melonjak 30% dalam Sebulan, Analis Nilai Ditopang Fundamental Kuat
Menurut Tommy, kelincahan dalam pengambilan keputusan sangat dibutuhkan mengingat inovasi dan pengembangan produk di ekosistem digital melibatkan banyak fungsi. Dengan cara ini, organisasi dapat merespons perubahan pasar dan kebutuhan nasabah dengan jauh lebih cepat.
Meski demikian, otonomi tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan. “Ruang untuk mengambil keputusan perlu diikuti kemampuan yang terus berkembang. Untuk itu kami mengembangkan capability journey untuk membantu karyawan melihat kemampuannya sekaligus menentukan hal-hal yang masih perlu diperkuat,” ungkap Tommy.
Pendekatan ini turut mengubah paradigma karier di Bank Jago (ARTO). Pertumbuhan karyawan tidak lagi diukur semata-mata dari kenaikan jabatan, melainkan dari seberapa besar mereka menerima tanggung jawab baru, mencoba peran yang berbeda, serta memperluas keahlian.
Bergeser Jadi Mentor
Lebih lanjut, Tommy mengatakan, transformasi cara kerja ini secara langsung memengaruhi peran seorang pemimpin. Ketika tim memiliki otonomi yang besar, pemimpin tidak lagi sekadar menjadi pemberi instruksi.
Baca Juga
AI Diprediksi Jadi Mesin Pertumbuhan 'Data Center' Indonesia
Peran pemimpin kini bergeser menjadi mentor dan fasilitator yang bertugas membantu anggota tim berdiskusi, menemukan solusi terbaik, dan terus berkembang. Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam proses ini. “Ketika orang diberi ruang dan kepercayaan, mereka tidak hanya bekerja lebih baik, tapi juga tumbuh lebih cepat,” tegas Tommy.
Bagi Bank Jago, membangun bank digital adalah tentang memastikan produk terus berinovasi sekaligus menyiapkan manusia yang menggerakkannya. AI memang terbukti membantu organisasi bekerja lebih cepat, namun manusia tetaplah penentu utama dalam memanfaatkan teknologi, mengambil keputusan strategis, dan membangun kepercayaan dengan nasabah.

