Tiga Dekade Eksis, Dompet Dhuafa Jangkau 41,8 Juta Penerima Manfaat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Dompet Dhuafa melaporkan telah menjangkau lebih dari 41,8 juta penerima manfaat sejak berdiri pada 1993 hingga 2025. Capaian tersebut disampaikan dalam Indonesia Humanitarian Summit yang berlangsung di NT Tower, Jakarta Timur, Kamis (15/1/2026), sebagai bentuk akuntabilitas publik atas kinerja filantropi nasional.
Di tengah tantangan kemiskinan, peran filantropi dinilai semakin relevan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025 mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 23,85 juta orang atau 8,47% dari total penduduk, meski angka tersebut menurun dibandingkan periode sebelumnya.
Dari jumlah itu, Dompet Dhuafa telah menjangkau sekitar 2,82 juta jiwa atau sekitar 12 persen penduduk miskin nasional. Sementara itu, 88% lainnya masih menjadi ruang besar bagi penguatan program pemberdayaan dan kolaborasi lintas sektor.
Sepanjang 2025, Dompet Dhuafa menyalurkan dana sebesar Rp 422,94 miliar dari total penghimpunan Rp 426,51 miliar. Total layanan yang diberikan mencapai 3,63 juta layanan dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 2,82 juta jiwa.
Ketua Pengurus Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini menyampaikan bahwa penyaluran dana pada 2025 meningkat lebih dari 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut sejalan dengan bertambahnya penerima manfaat dan penguatan fokus pada program pemberdayaan berbasis kemandirian.
Anggota Pembina Dompet Dhuafa Rahmad Riyadi menyebut capaian tersebut mencerminkan pertumbuhan kelembagaan yang konsisten selama lebih dari tiga dekade. “Dompet Dhuafa ini adalah salah satu lembaga filantropi yang terus bertumbuh baik dalam ukurannya, ukuran kemampuan penggalangan (dana), maupun juga dalam jumlah penerima manfaatnya yang sampai sekarang hampir 3 juta setiap tahunnya,” ujarnya.
Baca Juga
Jaga Pendidikan Anak-anak Penyintas Bencana, Dompet Dhuafa Renovasi Sejumlah Sekolah di Sumatera
Rahmad menilai Dompet Dhuafa telah menjadi pelopor lahirnya banyak lembaga filantropi lain serta berhasil membangun tradisi memberi di tengah masyarakat. Menurutnya, peran tersebut turut menciptakan proses redistribusi kekayaan yang berdampak langsung pada upaya pengentasan kemiskinan.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Anis Matta juga mengapresiasi peran strategis lembaga filantropi di tengah tantangan global yang kian kompleks. Ia menilai potensi krisis ekonomi, konflik geopolitik, dan bencana alam berisiko melahirkan kelompok miskin baru.
“Karena itu kehadiran lembaga filantropi seperti Dompet Dhuafa ini mempunyai peran yang sangat penting sekali,” puji Anis. Ia pun menegaskan kolaborasi negara dan filantropi dapat menjadi kunci menjaga ketahanan sosial dan memperkuat fondasi kesejahteraan masyarakat ke depan.

