MUFG NOW 2025 Jadi Momentum Percepatan Dekarbonisasi dan Pembiayaan Hijau Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - MUFG Bank Ltd bersama PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) kembali menyelenggarakan MUFG Net Zero World (MUFG NOW) 2025 di Indonesia. Gelaran ini menegaskan kolaborasi sektor perbankan untuk mempercepat transisi energi dan mendukung target emisi nol bersih (net zero emission) nasional pada 2060.
Ini kedua kalinya MUFG menyelenggarakan ajang diskusi bertema environment, social, governance (ESG) ini di Indonesia. Di mana, gelaran tahun ini menjadi forum temu pemangku kepentingan baik regulator, pelaku industri, dan nasabah dengan fokus pada desain pembiayaan yang praktis serta dampak sosial dari proyek transisi.
Head of Sustainable Finance Asia Pacific MUFG Bank Colin Chen menyatakan, posisi strategis Indonesia di portofolio keberlanjutan MUFG di kawasan. Ia menyebut Indonesia termasuk pasar teratas MUFG untuk bisnis keuangan berkelanjutan di Asia Pasifik dan menegaskan rekam jejak bank dalam penerbitan instrumen berlabel hijau atau sosial di pasar domestik, mulai dari obligasi biru, obligasi hijau, sustainability linked loan (SLL), hingga pinjaman sosial.
“Indonesia termasuk dalam lima pasar teratas untuk bisnis keuangan berkelanjutan kami di APAC. Di APAC sendiri, Indonesia berada di peringkat kelima, tetapi di ASEAN, Indonesia berada di peringkat kedua dalam bisnis berkelanjutan kami. Kami yakin pentingnya pasar ini tidak dapat diremehkan,” kata Chen dalam Wawancara Eksklusif MUFG N0W 2025 di Jakarta, Rabu (15/10/2025).
Baca Juga
Danamon Gains OJK Approval to Become Holding Company for MUFG Financial Conglomerate in Indonesia
“Indonesia sangat penting bagi kesejahteraan dan kemakmuran ASEAN dan Asia secara keseluruhan. Di ASEAN, Indonesia adalah negara terbesar, dan karenanya, merupakan ekonomi terpenting. Fokus yang semakin besar pada peningkatan dan mobilitas sosial yang telah didorong oleh pemerintahan baru Anda sangat menggembirakan bagi kami karena hal itu memungkinkan pertumbuhan dan dampak berkelanjutan bagi negara dan kawasan ini,” ungkapnya.
Chen juga menyoroti dua inisiatif andalan MUFG yakni rangkaian MUFG NOW yang kini memasuki tahun kedua di Indonesia dan program Net Zero School yang membuka ruang tanya jawab, serta literasi isu transisi bagi media dan pemangku kepentingan. Ia menegaskan MUFG tetap aktif dalam ekosistem Just Energy Transition Partnership (JETP), serta transaksi transisi lain, termasuk pembiayaan panas bumi dan pembahasan program penghentian dini PLTU melalui skema Energy Transition Mechanism (ETM).
ETM merupakan sebuah skema investasi untuk mempercepat transisi ke energi bersih, khususnya dengan memensiunkan dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.
Lebih lanjut, konglomerasi keuangan asal Jepang ini berharap bisa ikut mendorong kliennya melakukan langkah yang mendorong keberlanjutan. Pasalnya, jumlah kesepakatan terkait isu keberlanjutan yang dibuat MUFG telah meningkat dua kali lipat dalam dua tahun terakhir.
MUFG juga berharap inisiatif ESG yang dibawa bisa semakin luas, dengan menggandeng Bank Danamon, anak usahanya di Indonesia. “Ini adalah program keterlibatan klien yang sangat penting bagi kami, di mana kami dapat menjangkau semua pemangku kepentingan. Secara global, ini satu-satunya acara global yang kami selenggarakan secara konsisten yang memungkinkan kami untuk mendekati klien kami secara konsisten,” tambahnya.
Sementara itu, Danamon menargetkan kenaikan porsi portofolio berkelanjutan menjadi 30% dari sekitar 20% saat ini, seiring strategi memperluas pembiayaan berbasis lingkungan dan sosial, lintas korporasi, UKM, dan ritel. Adapun pertumbuhan pembiayaan hijau di Danamon juga tercatat sangat baik yakni di kisaran angka 10%.
“Sekarang portofolio kita sebesar 20%, kita ingin naikkan ke 30%, tapi itu butuh waktu yah, bayangannya bisa 3-5 tahun ke depan akan mendekati ke arah sana,” kata Syariah & Sustainability Finance Director Danamon Herry Hykmanto.
Herry menambahkan, per Juni 2025 realisasi pembiayaan hijau Danamon mencapai Rp 34,5 triliun.
Baca Juga
Herry menilai MUFG NOW menjadi stimulus untuk beralih dari wacana ke aksi nyata. Ia merujuk MUFG Whitepaper yang berisi rekomendasi praktis bagi regulator global, APAC, dan khusus Indonesia untuk mempercepat pencapaian Net Zero 2060, termasuk kebutuhan pembiayaan infrastruktur transmisi, storage, dan efisiensi peralatan.
“Ini bukan sekadar dokumen, bila pemerintah serius mengeksekusi, MUFG siap mendukung,” ungkap Herry.
Di tingkat kebijakan dan eksekusi proyek, MUFG menekankan pentingnya prinsip keadilan dalam transisi agar proyek layak secara finansial sekaligus berterima sosial. Diskusi dengan pemerintah dan pemodal menempatkan aspek sosial sebagai tantangan yang harus dipecahkan bersama melalui keterlibatan intensif pemangku kepentingan.
Lebih lanjut, tahun ini, pelaksanaan MUFG NOW disebut Herry lebih praktikal dibandingkan tahun sebelumnya yang bersifat konseptual. Para peserta, termasuk regulator dan pelaku industri utama, kini lebih berfokus pada solusi konkret di lapangan. “Pertanyaannya sudah tidak mengarah ke teoretikal lagi, melainkan ke arah praktikal. Itu yang mereka cari,” ujarnya.
Acara MUFG NOW 2025 antara lain turut membedah implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 mulai pengembangan transmisi, storage, hingga solusi surya, serta studi perbandingan dengan negara tetangga untuk melihat peta jalan transisi yang realistis. Di mana, pesan utamanya adalah proyek dekarbonisasi harus segera memasuki tahap praktikal dan bankable agar arus pendanaan mengalir konsisten ke sektor prioritas.
Dengan rangkaian program tahunan, dukungan riset, dan target portofolio yang lebih ambisius, MUFG dan Danamon menegaskan peran perbankan sebagai penggerak ekosistem transisi dari pembangkit energi terbarukan hingga pembiayaan UKM guna mempercepat dekarbonisasi ekonomi Indonesia menuju Net Zero 2060.

