BEI Bantah Transaksi IDX Carbon Rendah, Justru Terbesar di Asia
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) membantah pernyataan terkait transaksi bursa karbon atau IDX Carbon masih sepi. Justru transaksi bursa karbon Indonesia lebih besar, dibandingkan beberapa negara di dunia.
Berdasarkan data BEI, sejak diluncurukan 2023 lalu hingga 15 November 2024, tercatat 92 pengguna jasa yang mendapatkan izin dengan total volume transaksi sebesar 904.901 CO2e dengan akumulasi nilai transaksi Rp 50,457 miliar.
Baca Juga
Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 BEI Ignatius Denny mengatakan, higga kini, transaksi bursa karbon Indonesia lebih besar, dibandingkan dengan negara di Asia, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan China.
"Jadi baru sebulan lalu saya berbicara dengan semua bursa di Asia yang punya bursa karbon, nilai transaksi kita yang paling tinggi di Asia," kata Ignatius dalam FGD ESG dengan tema “Urgensi Implementasi ESG di Kalangan Korporasi di Indonesia” di Kantor Investortrust, Jakarta, Rabu (20/11/2024).
Adapun Langkah strategis BEI dalam mengedukasi bursa kabron melalui workshop dan sosialisasi, seperti Net Zero Incubator, lalu sedang berlangsung situs web ESG yang baru dan pelaporan ESG & emisi karbon.
Baca Juga
HUT Ke-1 Bursa Karbon, BEI Kejar Target 100 Pengguna Jasa hingga Akhir 2024
Dalam pemberitaan investortrust.id sebelumnya, Direktur Utama BEI Iman Rachman menargetken 100 pengguna jasa bursa karbon hingga akhir tahun 2024. "Dalam setahun terakhir ini sudah cukup positif, saat ini terdapat 1,7 juta ton CO2e, dari transaksi kita udah diperdagangkan 613.894 ton CO2e dengan nilai lebih dari Rp 37,06 miliar," kata Iman.
Saat ini, terdapat 3 proyek Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) yang telah dicatatkan di IDXCarbon, yaitu proyek Pertamina Geothermal Lahendong, PLTGU di Muara Karang milik PLN, dan PLTM di Gunung Wugul milik grup PLN.

