Pasar Hidrogen Hijau Dunia Diperkirakan Capai US$ 11 Triliun di 2050
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Eniya Listiani Dewi menyebut potensi ekonomi hidrogen hijau sangat menjanjikan.
Menurutnya, pengembangan hidrogen tidak hanya mampu mengurangi emisi karbon dioksida (CO2), tetapi juga akan memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi global dan mendukung pencapaian target energi terbarukan.
“Potensi ekonomi hidrogen itu menjanjikan, pasar hidrogen hijau dunia diperkirakan mencapai nilai US$ 11 triliun pada tahun 2050, dan ini akan tumbuh. Tumbuh diproyeksikan sampai US$ 70 miliar pada tahun 2060,” ungkap Eniya dalam keterangan resmi, Rabu (25/9/2024).
Baca Juga
Kementerian ESDM Bentuk KBLI Khusus untuk Dorong Pengembangan Hidrogen
Sementara itu dari aspek lingkungan, Eniya menerangkan, studi IRENA menginformasikan saat ini karbon Indonesia mencapai 6 giga ton per tahun.
Padahal, menurutnya, Indonesia punya potensi menurunkan 11,6 juta ton CO2 per tahun jika menggunakan hidrogen.
“IRENA juga memprediksi bahwa pengembangan hidrogen hijau yang mencakup rantai pasok hidrogen dari produksi hingga aplikasi akan menciptakan hingga 5,3 juta pekerjaan baru di tahun 2050,” sebut dia.
Sebelum ini, Deputi Menteri Koordinator Bidang Kedaulatan Maritim dan Energi Kemenko Marves, Jodi Mahardi menyebutkan, Pemerintah Indonesia telah mengembangkan rencana strategis dan sedang aktif membangun sektor hidrogen domestik dengan langkah-langkah konkret.
Baca Juga
PLN dan HDF Energy Tanda Tangani MoU Pengembangan Ekosistem Hidrogen di Indonesia
“Seperti misalnya dengan meningkatkan efisiensi penggunaan hidrogen hingga di atas 50%, mengembangkan akses ke jaringan listrik lokal dan skala mikro, menciptakan regulasi yang jelas tentang perdagangan emisi, pajak karbon, dan insentif,” kata Jodi Mahardi.
Lebih lanjut Jodi menyampaikan langkah konkret lainnya adalah dengan mengintegrasikan industri hidrogen dan peningkatan infrastruktur. Produksi hidrogen rendah karbon sesuai dengan kebijakan perdagangan internasional, penggunaan bahan bakar rendah karbon untuk komoditas ekspor, dan perjanjian teknis bilateral juga menjadi fokus utama.

