Telkom Perkuat ESG, Gabung UN Global Compact dan Bidik Zero Waste to Landfill
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memperkuat penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui keanggotaan United Nations Global Compact (UNGC) dan program Zero Waste to Landfill. Kedua inisiatif tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam tata kelola bisnis hingga aktivitas operasional.
Penguatan komitmen ESG tersebut ditandai dengan penyerahan sertifikat keanggotaan UNGC kepada Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno pada Kamis (22/10/2026). Pada kesempatan yang sama, Telkom juga menjalankan program Zero Waste to Landfill bekerja sama dengan Waste4Change di kawasan The Telkom Hub, Jakarta.
Telkom tercatat sebagai peserta aktif UNGC sejak 16 Juli 2026. Melalui keanggotaan tersebut, perseroan berupaya menerapkan Sepuluh Prinsip UNGC yang mencakup empat bidang utama, yakni hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan, dan antikorupsi.
Baca Juga
The Telkom Hub Capai Net Zero Emisi, Telkom Perkuat Pemanfaatan Energi Terbarukan
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, keberlanjutan merupakan bagian penting dari transformasi perusahaan untuk membangun bisnis yang bertanggung jawab sekaligus berdaya saing dalam jangka panjang.
Menurut dia, keanggotaan UNGC memperkuat arah perusahaan dalam menerapkan praktik bisnis berkelanjutan. Sementara itu, program Zero Waste to Landfill menjadi implementasi konkret prinsip keberlanjutan di lingkungan kerja.
"Di TelkomGroup, keberlanjutan bukan hanya tentang memenuhi standar atau menjalankan inisiatif lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana prinsip-prinsip tersebut menjadi bagian dari strategi bisnis dan budaya kerja," ujar Nanang.
Program Zero Waste to Landfill
Dalam program Zero Waste to Landfill, Telkom menerapkan pemilahan sampah sejak dari sumber agar sampah yang masih dapat dimanfaatkan atau diolah tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Program ini melibatkan karyawan, petugas housekeeping, dan Waste4Change dalam proses pemilahan, pengangkutan, hingga pengolahan sampah. Seluruh tahapan dilakukan sesuai prosedur, termasuk memastikan sampah yang sudah dipilah tidak kembali tercampur.
Telkom mulai bekerja sama dengan Waste4Change sebagai mitra pengelolaan sampah sejak 7 Oktober 2026. Langkah ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 mengenai pemilahan sampah dari sumber.
Berdasarkan data Januari-Juni 2026, volume sampah di The Telkom Hub berkisar 14.604 kg hingga 30.334 kg per bulan. Volume tertinggi tercatat pada Februari 2026.
Dari total komposisi sampah tersebut, sebanyak 51% merupakan residu dan 32% sampah organik. Sementara itu, plastik dan kertas masing-masing berkontribusi 7%.
Komposisi tersebut menunjukkan pentingnya pemilahan sampah untuk mengoptimalkan pengolahan sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.
Chief Operating Officer Waste4Change Ridho Malik Ibrahim mengapresiasi langkah Telkom yang mulai mengalihkan pengelolaan sampah agar tidak lagi langsung berakhir di TPA.
Menurut dia, kolaborasi tersebut menjadi langkah penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi sekaligus mendorong perubahan perilaku di lingkungan kerja.
Target Net Zero Emission 2060
Selain pengelolaan sampah, TelkomGroup juga memperkuat strategi dekarbonisasi melalui Climate Transition Plan yang diluncurkan pada 2025. Peta jalan tersebut menargetkan pencapaian net zero emission pada 2060.
Dalam jangka pendek, TelkomGroup membidik penurunan emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 20% pada 2030. Bahkan, pada 2026, The Telkom Hub telah mencapai net zero emission untuk emisi operasional Scope 1 dan Scope 2.
Upaya pengurangan emisi juga dilakukan melalui pemanfaatan energi terbarukan di berbagai lokasi operasional, pengembangan green data center, serta peningkatan efisiensi energi jaringan melalui penerapan Autonomous Network.
Baca Juga
Transisi Net Zero Ubah Peran CFO Jadi Penggerak Transformasi Bisnis
Telkom sebelumnya juga telah menjalankan inisiatif pengelolaan sampah di The Telkom Hub sejak Desember 2024 melalui penggunaan Reverse Vending Machine (RVM).
Program tersebut telah melibatkan lebih dari 900 pengguna dan berhasil mengumpulkan lebih dari 7 ton botol plastik untuk didaur ulang. Inisiatif ini juga diklaim mampu menghindari sekitar 38 ton emisi CO₂e.
Melalui program Zero Waste to Landfill, Telkom memperluas pengelolaan sampah dari sebelumnya berfokus pada botol plastik menjadi seluruh jenis sampah perkantoran. Perseroan menargetkan tidak ada sampah dari The Telkom Hub yang berakhir di TPA.
Ke depan, Telkom mendorong keterlibatan seluruh karyawan untuk menjadikan pemilahan sampah sebagai kebiasaan kerja sehari-hari. Perseroan juga berharap praktik pengelolaan sampah di The Telkom Hub dapat direplikasi di kantor-kantor TelkomGroup lainnya.
